Apresiasi BRK Syariah, Dr. Asep Ajidin: Ramadan Jadi Momentum Emas Literasi Keuangan Syariah

A

administrator

Senin, 02 Maret 2026 | 00:00 WIB

Apresiasi BRK Syariah, Dr. Asep Ajidin: Ramadan Jadi Momentum Emas Literasi Keuangan Syariah

PEKANBARU, AmiraRiau.com- Bulan suci Ramadan dinilai bukan hanya momentum peningkatan ibadah ritual, tetapi juga saat yang tepat untuk memperkuat kesadaran umat terhadap tata kelola ekonomi yang sesuai syariat. Inisiatif BRK Syariah yang menjadikan Ramadan sebagai momentum penguatan literasi keuangan syariah mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan tokoh ormas Islam.

Amira.Riau.com mewawancarai Buya Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H., Ketua Pimpinan Daerah Persatuan Islam (PERSIS) Kota Pekanbaru yang juga Dosen STIH Putri Maharaja Payakumbuh, Dosen Luar Biasa Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sultan Syarif Kasim Riau, serta Dosen Luar Biasa pada Program Magister Manajemen Institut Teknologi dan Bisnis Haji Agus Salim (ITBHAS) Bukittinggi.

Ramadhan dan Kesadaran Ekonomi Umat

Amira.Riau.com:
Bagaimana Anda melihat langkah BRK Syariah menjadikan Ramadan sebagai momentum penguatan literasi keuangan syariah?

Dr. Asep Ajidin:
Saya melihat ini sebagai langkah strategis dan kontekstual. Ramadan adalah bulan tazkiyatun nafs—penyucian jiwa. Pada bulan ini, umat Islam lebih reflektif terhadap sumber dan penggunaan harta. Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan agar harta tidak berputar di kalangan orang kaya saja. Artinya, sistem ekonomi harus berkeadilan.

Ketika BRK Syariah mendorong literasi tentang larangan riba, gharar, dan maisir, itu sejatinya sedang mengajak umat kembali kepada prinsip dasar muamalah Islam: keadilan, transparansi, dan kemaslahatan.

Tantangan Literasi Syariah

Amira.Riau.com:
Direksi BRK Syariah menyebut literasi keuangan syariah masih menjadi tantangan nasional. Apa yang menjadi akar persoalannya?

Dr. Asep Ajidin:
Masalah utamanya adalah pemahaman. Banyak masyarakat sudah menjadi nasabah bank syariah, tetapi belum memahami filosofi akad seperti murabahah, mudharabah, dan musyarakah. Bahkan ada yang menganggap bank syariah hanya berbeda istilah.
Padahal perbedaannya mendasar. Sistem syariah berbasis pada akad dan bagi hasil, bukan bunga. Ini bukan sekadar teknis finansial, tetapi menyangkut nilai teologis dan etika bisnis.
Karena itu, literasi tidak cukup melalui promosi produk, tetapi harus melalui edukasi konseptual—melibatkan kampus, pesantren, dan ormas Islam.

Peran Kampus dan Ormas

Amira.Riau.com:
Sebagai akademisi dan pimpinan ormas, bagaimana Anda melihat kolaborasi ini?

Dr. Asep Ajidin:
Saya sangat mendukung. Kampus seperti UIN Sultan Syarif Kasim Riau dan Institut Teknologi dan Bisnis Haji Agus Salim memiliki peran penting dalam membangun literasi berbasis riset. Ormas seperti Persatuan Islam (PERSIS) bisa menjadi jembatan dakwah ekonomi.
Ramadan menjadi momentum ideal karena kajian-kajian di masjid dan kampus meningkat. Jika dalam setiap tausiyah juga disisipkan edukasi tentang pengelolaan harta yang halal dan produktif, maka dampaknya akan luas.

UMKM dan Ekonomi Ramadhan

Amira.Riau.com:
Bagaimana Anda melihat peran BRK Syariah dalam mendorong UMKM di bulan Ramadhan?

Dr. Asep Ajidin:
Ramadhan adalah musim ekonomi umat. Perputaran uang meningkat signifikan. Jika pembiayaan dilakukan dengan prinsip syariah, maka keberkahan dan keberlanjutan usaha lebih terjaga.
Akad seperti mudharabah dan musyarakah mengajarkan kemitraan, bukan eksploitasi. Ini sejalan dengan maqashid syariah—menjaga harta dan kesejahteraan masyarakat.

Literasi sebagai Pilar Inklusi

Amira.Riau.com:
Apa pesan Anda terkait literasi sebagai pilar inklusi keuangan syariah?

Dr. Asep Ajidin:
Literasi adalah fondasi inklusi. Tanpa pemahaman, masyarakat hanya menjadi pengguna, bukan pelaku ekonomi yang sadar nilai.
Saya sepakat bahwa gerakan ini tidak boleh berhenti di Ramadan. Harus menjadi budaya. Edukasi tentang zakat, infak, sedekah, hingga transaksi digital syariah perlu terus dikembangkan agar ekosistemnya kuat.

Harapan ke Depan

Amira.Riau.com:
Apa harapan Anda terhadap BRK Syariah dan masyarakat?

Dr. Asep Ajidin:
Saya berharap BRK Syariah konsisten menjadikan edukasi sebagai prioritas, bukan sekadar ekspansi bisnis. Sementara masyarakat perlu meningkatkan kesadaran bahwa memilih sistem syariah bukan hanya soal identitas, tetapi komitmen moral dan spiritual.

Ramadhan adalah titik tolak. Jika literasi keuangan syariah menguat, maka ekonomi umat akan lebih berdaya, adil, dan berkelanjutan.

Dengan menjadikan Ramadan sebagai momentum edukasi dan pemberdayaan ekonomi, BRK Syariah dinilai mampu berkontribusi dalam membangun ekosistem keuangan syariah yang inklusif, berdaya saing, dan berorientasi pada kemaslahatan umat di Riau dan Kepulauan Riau.***

Penulis: AJ