PEKANBARU, AmiraRiau.com — Matahari membakar aspal Jalan Arifin Ahmad ketika sebuah pemandangan tidak biasa tersaji di salah satu urat nadi ekonomi Kota Pekanbaru tersebut, Kamis (4/6/2026). Tidak ada setelan jas rapi atau pengawalan protokoler yang kaku.
Wali Kota Pekanbaru, H. Agung Nugroho, S.E., M.M., memilih menanggalkan seragam dinasnya, berganti kaus oblong, dan turun langsung mengkomandoi aksi gotong royong massal di sepanjang koridor jalan protokol tersebut.
Tidak sendiri, Agung bergerak dalam satu komando bersama Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar. Keduanya berjalan kaki, menyisir trotoar, dan membaur tanpa sekat di tengah-tengah puluhan petugas kebersihan—sosok-sosok tangguh berkaus oranye yang akrab dijuluki "Pasukan Kuning".
Aksi ini bukan sekadar pemanis lensa kamera. Atmosfer kerja keras langsung terasa saat Wali Kota Agung Nugroho nekat melompat turun ke dalam drainase utama. Berdiri di antara endapan lumpur, ia mengecek langsung titik-titik sumbatan struktural yang selama ini menjadi biang keladi genangan air setiap kali hujan mengguyur hilir kota.
Di sisi lain trotoar, jajaran pejabat Pemko bersama Pasukan Kuning tampak kompak mengayunkan cangkul dan parang, memangkas rerumputan liar yang mulai merusak estetika pedestrian.
Untuk memaksimalkan draf pengerjaan, satu unit ekskavator mini (mini excavator) dikerahkan ke lokasi. Alat berat tersebut bergerak taktis mengeruk sedimentasi tanah dan sampah domestik yang menyumbat aliran air, mengembalikan fungsi draf parit ke kapasitas optimalnya.
"Hari ini kita tumpahkan draf keringat bersama di sepanjang Jalan Arifin Ahmad. Tujuannya satu: kita ingin kawasan pusat bisnis ini makin bersih, rapi, dan bebas banjir. Sesekali sebagai pelayan masyarakat, kita memang harus turun tangan langsung, merasakan apa yang saban hari dikerjakan oleh petugas kita di lapangan," ujar Wako Agung Nugroho di sela-sela rehatnya.
Sepanjang aksi gotong royong, suasana cair begitu terasa. Agung dan Markarius berulang kali terlibat obrolan santai dan bersenda gurau dengan para petugas kebersihan, memotong jarak antara penguasa kebijakan dan eksekutor lapangan.
Bagi Agung, kehadiran para pegawai ASN yang ikut mengotori tangan dalam aksi ini merupakan sinyal positif bagi draf reformasi birokrasi yang melayani. Ia menegaskan, budaya komunal seperti ini tidak boleh berhenti sebagai pemadam kebakaran sosial, melainkan harus bertransformasi menjadi agenda rutin yang berkelanjutan.
"Kekompakan dan energi positif seperti inilah yang membuat saya selalu bangga dengan semangat tegak warga Pekanbaru. Pembenahan infrastruktur, estetika ruang publik, dan mitigasi banjir kota tidak akan pernah selesai jika hanya mengandalkan draf teori di atas kertas. Ini butuh kerja keras, komitmen, dan kerja sama kita semua," pungkas Agung dengan nada optimistis.***