Dukungan LKA Luhak Kepenuhan untuk Masyarakat Adat Rantau Kasai, Tolak Adu Domba Korporasi!

I

Isman

Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:50 WIB

Dukungan LKA Luhak Kepenuhan untuk Masyarakat Adat Rantau Kasai, Tolak Adu Domba Korporasi!
Ketua Lembaga Kerapatan Adat (LKA) Luhak Kepenuhan, Drs. H. Efendi R  Datuk Bandaro

KEPENUHAN, AmiraRiau.com – Ketua Lembaga Kerapatan Adat (LKA) Luhak Kepenuhan, Drs. H. Efendi R  Datuk Bandaro, menyerukan solidaritas seluruh luhak di Kabupaten Rokan Hulu untuk mendukung perjuangan masyarakat adat Rantau Kasai, Kecamatan Tambusai Utara. Hal ini disampaikannya dalam pernyataan resmi di Kepenuhan, Sabtu (28/3/2026).

Kisruh terkait hak-hak masyarakat adat yang sedang diperjuangkan oleh anak kemenakan Suku Melayu Rantau Kasai menjadi perhatian serius. Setelah sebelumnya mendapat dukungan dari Luhak Rambah, kini giliran Luhak Kepenuhan yang menegaskan keberpihakannya.

Datuk Bandaro, didampingi pengurus LKA Luhak Kepenuhan lainnya—termasuk H. Ruslan (Datuk Mo Indo), H. Rasyid (Sutan Ibrahim), M. Tamrin (Paduko Jalelo), dan Azwan (Datuk Angku Rang Kayo Maharajo)—menegaskan bahwa pemangku adat harus solid.

"Sebagai pemangku adat, jangan mau diadu domba oleh kepentingan korporasi atau perusahaan yang hanya mencari keuntungan semata. Hak adat yang dikelola masyarakat setempat jauh lebih bermanfaat untuk kesejahteraan bersama, mulai dari lapangan kerja, kegiatan sosial keagamaan, hingga biaya pendidikan," tegas Efendi.

Menanggapi silang pendapat antara masyarakat adat Rantau Kasai dengan pihak lain yang saling klaim atas hak adat tersebut, Datuk Bandaro mengimbau agar persoalan diselesaikan dengan kepala dingin. Ia berharap tidak ada intervensi pihak luar yang berakibat pada benturan sesama anak kemenakan.

"Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Jika itu wilayah Rantau Kasai, biarlah orang Rantau Kasai yang mengurusnya. Kecuali jika mereka butuh bantuan, barulah kita turun secara bersama," tambahnya.

Datuk Bandaro juga mengajak para pemangku adat di Rokan Hulu untuk menjadikan lembaga adat sebagai tempat bersilaturahmi, bukan ajang provokasi.

"Mari kita turunkan ego masing-masing agar tidak dimanfaatkan oleh pihak lain untuk kepentingan mereka, sementara kita sesama anak kemenakan terpecah belah," tutupnya.***

Penulis: Yus

Editor: Isman