Ketika Ayah Tak Punya Tempat untuk Disebutkan: Tentang Ruang, Peran, dan Sunyi

A

administrator

Kamis, 29 Januari 2026 | 00:00 WIB

Ketika Ayah Tak Punya Tempat untuk Disebutkan: Tentang Ruang, Peran, dan Sunyi

Oleh: Mardianto Manan

DALAM banyak istilah kehidupan, ibu punya tempat yang jelas.
Ada rumah sakit ibu dan anak, hari ibu, ibu kota, ibu jari, bahkan ibu pertiwi.
Sementara ayah?
Hadir… tapi jarang disebut.

Fenomena ini menarik jika dibaca bukan hanya secara sosial, tetapi juga melalui kacamata Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK)—ilmu yang membahas bagaimana ruang dibentuk oleh nilai, simbol, dan relasi kekuasaan.

Kota sebagai “Ibu”: Ruang yang Mengasuh
Dalam teori perencanaan modern, kota dipahami sebagai ruang hidup (living space), bukan sekadar kumpulan bangunan. Kota ideal digambarkan sebagai ruang yang:
aman,
ramah,
inklusif,
melayani kelompok rentan,
menyediakan fasilitas kesehatan, pendidikan, dan ruang publik.
Karakter ini secara kultural dilekatkan pada figur ibu.

Maka tak heran pusat pemerintahan disebut ibu kota—tempat negara “mengasuh” warganya melalui kebijakan, pelayanan publik, dan perlindungan sosial.
Dalam bahasa PWK, ibu kota adalah node utama pelayanan, pusat pengambilan keputusan, sekaligus simbol keberlanjutan kehidupan bernegara.
Ayah tidak muncul dalam penamaan, bukan karena tidak penting, tetapi karena perannya dianggap struktural, bukan simbolik.

Ayah dalam PWK: Infrastruktur yang Tidak Terlihat
Jika ibu adalah simbol kota, maka ayah adalah infrastruktur.
Dalam perencanaan wilayah, kita mengenal istilah:
jaringan jalan,
sistem drainase,
utilitas kota,
struktur ekonomi,
sistem logistik wilayah.

Semua itu jarang dipuji, jarang difoto, jarang dijadikan slogan kampanye. Tapi tanpa itu, kota lumpuh.
Begitulah ayah dalam keluarga dan dalam kota.
Ia hadir sebagai:
pendukung ekonomi,
penjaga stabilitas,
penyangga risiko,
penahan guncangan sosial.
Dalam PWK, ini disebut fungsi penopang (supporting system).

Dan supporting system memang tidak didesain untuk dipamerkan—cukup bekerja dengan baik.
Rumah Sakit Ibu dan Anak, Bukan Ayah
Kenapa rumah sakit dinamai ibu dan anak?

Karena sistem kesehatan kota dirancang berbasis kelompok rentan.
Ibu dan anak dipandang sebagai kelompok yang perlu perlindungan khusus dalam struktur kota: akses layanan, gizi, keselamatan, dan kesehatan reproduksi.
Ayah?
Diasumsikan sehat, kuat, dan bisa menunggu.

Dalam bahasa perencanaan: ayah sering masuk kategori populasi residual—ada, tapi tidak menjadi prioritas intervensi kebijakan. Padahal, jika ayah runtuh, banyak sistem ikut goyah.

Ruang Kota Ramah Anak, Ramah Ibu—Tapi Ayah?
Kota-kota kini berlomba menjadi:
Kota Layak Anak
Kota Ramah Ibu
Kota Inklusif

Semua penting dan sangat benar.
Namun jarang kita dengar konsep kota ramah ayah:
kota yang memberi ruang bagi ayah untuk:
hadir dalam pengasuhan,
pulang tepat waktu,
mengekspresikan emosi,
tidak selalu dituntut kuat secara ekonomi semata.

PWK modern sebenarnya mulai membahas ini lewat isu work-life balance, transportasi manusiawi, dan kota berorientasi keluarga. Tapi wacananya masih malu-malu, seperti ayah yang pulang malam dan tidak mau membangunkan anaknya.

Hari Ayah dan Sunyi Struktural
Hari Ibu dirayakan dengan penuh emosi.
Hari Ayah datang belakangan—dan sering lewat tanpa upacara.

Dalam kacamata PWK, ini mencerminkan bias simbolik dalam ruang sosial. Kita merayakan yang tampak, yang emosional, yang ekspresif. Sementara yang struktural, fungsional, dan sunyi dianggap “sudah sewajarnya”.

Ayah menanggung sunyi itu sendirian.
Seperti saluran drainase: baru dicari ketika kota kebanjiran.
Penutup: Kota Butuh Ibu, Tapi Juga Butuh Ayah
Dalam perencanaan wilayah dan kota, keseimbangan adalah kunci.
Kota tidak hanya butuh ruang yang mengasuh (ibu),
tetapi juga sistem yang menopang (ayah).
Jika ibu adalah wajah kota,
maka ayah adalah kerangkanya.
Tak selalu terlihat.
Tak selalu disebut.

Tapi tanpanya, kota—dan keluarga—tidak akan berdiri lama.
Mungkin ayah memang tidak perlu banyak penamaan.
Namun dalam perencanaan yang adil dan manusiawi,

ayah tetap perlu diakui sebagai bagian dari ruang hidup—bukan hanya sebagai beban tanggung jawab, tetapi sebagai manusia utuh.
Dan itu, sejatinya, adalah pelajaran penting PWK:
bahwa kota bukan hanya tentang bangunan dan jalan,
tetapi tentang relasi manusia yang sering kita anggap biasa-biasa saja.***