Oleh: Mardianto Manan
PERLU saya sampaikan permohonan maaf kepada TVRI. Pada awalnya saya mengira pembawa acara yang tampil tanpa peci maupun tanjak merupakan bagian dari tim TVRI. Setelah memperoleh informasi yang lebih utuh, ternyata MC tersebut merupakan penunjukan dari Event Organizer (EO) Panitia Bersama antara Pemerintah Provinsi Riau dan Panitia Lokal. Dengan demikian, persoalan ini lebih tepat menjadi bahan evaluasi bagi panitia penyelenggara, khususnya bidang acara dan tim produksi yang bertanggung jawab atas konsep penampilan di panggung.
Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) bukan sekadar perlombaan membaca Al-Qur'an. MTQ adalah syiar Islam sekaligus ruang untuk menampilkan jati diri daerah. Provinsi Riau, keduanya tidak dapat dipisahkan, sebab Melayu dan Islam telah menyatu dalam falsafah hidup masyarakat: adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah.
Falsafah itu bukan hanya indah diucapkan dalam pidato, tetapi harus hidup dalam setiap penyelenggaraan acara resmi. Ia tercermin dalam tata krama, bahasa, tata panggung, hingga cara berpakaian orang-orang yang tampil mewakili wajah daerah.
Karena itu, ketika pembawa acara MTQ tampil tanpa peci ataupun tanjak, masyarakat tentu merasa ada bagian dari identitas Melayu yang tidak hadir di panggung yang seharusnya paling mencerminkan nilai Islam dan budaya daerah.
Dalam tradisi Melayu, tanjak bukan sekadar penutup kepala. Ia adalah lambang kehormatan, kewibawaan, dan marwah. Tanjak mengajarkan bahwa seseorang yang berdiri di hadapan masyarakat harus menjaga adab, menjaga perkataan, dan menghormati tempat di mana ia berdiri.
Begitu pula peci. Dalam perjalanan sejarah Indonesia, peci telah menjadi simbol kesantunan, nasionalisme, sekaligus identitas masyarakat Muslim. Peci bukan milik satu golongan, melainkan telah diterima sebagai bagian dari busana resmi bangsa Indonesia yang digunakan lintas agama dan lintas suku dalam berbagai acara kenegaraan.
Maka persoalan ini sesungguhnya bukan soal agama pembawa acara. Siapa pun yang dipercaya memandu MTQ seyogianya menyesuaikan penampilan dengan karakter acara dan budaya daerah yang menjadi tuan rumah. Menghormati adat bukan berarti kehilangan identitas pribadi, melainkan menunjukkan penghargaan kepada masyarakat yang sedang diwakili.
Dalam dunia penyiaran profesional, busana seorang MC bukanlah keputusan pribadi. Penampilan merupakan hasil koordinasi antara EO, penanggung jawab acara, tim produksi, dan penata busana. Karena itu, evaluasi seharusnya diarahkan kepada sistem penyelenggaraan, bukan semata-mata kepada individu yang tampil di atas panggung.
Momentum ini hendaknya menjadi pelajaran bersama. EO yang dipercaya menangani acara sebesar MTQ seharusnya memiliki kepekaan budaya yang tinggi. Jangan sampai kemegahan panggung, tata cahaya, dan teknologi modern justru mengabaikan simbol-simbol kecil yang memiliki makna besar bagi masyarakat Melayu.
Dalam adat Melayu dikenal ungkapan bahwa "adat itu dipakai, bukan dipajang." Artinya, adat harus hadir dalam perilaku dan tindakan nyata, bukan hanya menjadi slogan di baliho atau sambutan resmi.
Islam sendiri mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan suatu kaum selama tidak bertentangan dengan syariat. Rasulullah SAW menghargai tradisi masyarakat sepanjang membawa kepada kebaikan dan tidak melanggar ketentuan agama. Karena itu, mengenakan tanjak atau peci dalam pembukaan MTQ bukanlah sekadar soal pakaian, melainkan bentuk penghormatan terhadap syiar Islam dan budaya Melayu yang telah hidup berdampingan selama berabad-abad.
Harapan kita sederhana. Pada MTQ yang akan datang, jangan hanya panggungnya yang megah, tetapi juga identitas Melayunya terasa. Jangan hanya lantunan ayat suci yang menggema, tetapi nilai-nilai adat yang bersumber dari syariat juga tampak dalam setiap detail penyelenggaraan.
Sebab marwah suatu daerah sering kali tidak hilang karena kesalahan besar, melainkan karena kelalaian menjaga hal-hal kecil yang sesungguhnya menjadi simbol kehormatan bersama. Semoga acara penutupan EO atau Panitia Bersama bisa mengevaluasi diri dan tampil sebagai jati diri Melayu di kampung Melayu.***
(Mardianto Manan. Penulis: Majelis Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau/FKPMR)