Memahami Makna Waktu Shalat, Bukan Sekadar Mengejar Simbol

I

Isman

Jumat, 13 Maret 2026 | 09:51 WIB

Memahami Makna Waktu Shalat, Bukan Sekadar Mengejar Simbol

Oleh: Buya Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.

MANUSIA seringkali mencintai simbol lebih daripada makna. Dalam kehidupan beragama, kecenderungan ini tampak jelas. Ketika adzan berkumandang, sebagian orang merasa harus segera berdiri, bergegas meninggalkan apa pun yang sedang dikerjakan. Seolah-olah kesalehan harus dibuktikan dengan kecepatan langkah menuju tempat shalat.

Padahal, kesalehan dalam Islam tidak selalu diukur dari seberapa cepat seseorang bergerak, tetapi dari seberapa benar ia memahami makna di balik ibadah yang dijalankannya.

Di sinilah pandangan ulama seperti Ahmad Bahauddin Nursalim—yang lebih dikenal sebagai Gus Baha’—menjadi menarik untuk direnungkan. Dalam salah satu pengajiannya, ia mengingatkan sesuatu yang sederhana, bahkan terdengar mengejutkan bagi sebagian orang.
“Kalau sedang antar barang atau bercengkrama dengan teman, waktu sholat masih panjang, jadi tidak harus segera berhenti ketika adzan,” tegas Gus Baha’.

Kalimat itu tampak sederhana, tetapi menyimpan kedalaman cara pandang tentang agama. Ia mengajak umat Islam untuk memahami ibadah bukan hanya pada tingkat simbol, tetapi pada tingkat makna.

Sejak kecil banyak orang diajarkan bahwa adzan adalah tanda semua orang harus segera menghentikan aktivitas. Gambaran ini sering kita lihat: pedagang menutup tokonya, percakapan dihentikan seketika, pekerjaan ditinggalkan begitu saja.

Padahal dalam kajian fikih, adzan pada dasarnya bukan perintah untuk langsung menghentikan aktivitas. Ia adalah pengumuman bahwa waktu shalat telah masuk.

Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa shalat memiliki waktu-waktu tertentu yang telah ditetapkan:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Q.S. An-Nisa: 103).

Ayat ini menegaskan bahwa yang menjadi kewajiban adalah melaksanakan shalat dalam rentang waktunya, bukan harus tepat pada detik pertama ketika adzan berkumandang.

Dengan kata lain, adzan adalah pintu yang baru saja dibuka, bukan alarm darurat yang menuntut reaksi seketika.

Dalam hadits memang disebutkan bahwa shalat pada awal waktu memiliki keutamaan.
Rasulullah SAW bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah shalat pada waktunya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Namun para ulama menjelaskan bahwa “pada waktunya” berarti dalam rentang waktu yang telah ditentukan, bukan selalu pada detik pertama setelah adzan.
Bahkan dalam riwayat lain, Rasulullah SAW memberi kelonggaran bagi manusia yang sedang memiliki kebutuhan atau aktivitas penting.

Dalam hadits disebutkan:

إِذَا وُضِعَ الْعَشَاءُ وَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَابْدَؤُوا بِالْعَشَاءِ

“Jika makan malam telah dihidangkan dan shalat telah ditegakkan, maka dahulukanlah makan malam.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa Islam memahami realitas manusia. Nabi tidak menghendaki umatnya beribadah dalam kondisi tergesa-gesa, apalagi dengan hati yang tidak tenang.

Fikih yang Humanis
Pandangan Gus Baha’ sesungguhnya berada dalam tradisi fikih klasik yang sangat rasional dan humanis. Para ulama membedakan antara masuknya waktu shalat dan keharusan segera melaksanakannya.

Selama seseorang masih berada dalam rentang waktu shalat, ia tetap berada dalam koridor syariat.

Sebagai contoh: Shalat Dzuhur memiliki rentang waktu hingga datangnya Ashar. Shalat Maghrib hingga masuk Isya. Rentang waktu ini justru menunjukkan bahwa Islam memberi ruang bagi manusia untuk menyelesaikan aktivitasnya dengan baik, tanpa harus merasa bersalah ketika adzan baru saja berkumandang.

Sering kali keberagamaan berubah menjadi kepanikan simbolik. Orang takut dianggap tidak saleh jika tidak langsung berlari ke masjid ketika adzan. Padahal ibadah dalam Islam dibangun di atas ketenangan (sakinah), bukan kegelisahan. Al-Qur’an bahkan mengingatkan bahwa shalat seharusnya melahirkan kedalaman kesadaran:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Q.S. Thaha: 14).

Artinya, shalat adalah ruang kontemplasi spiritual, bukan sekadar reaksi otomatis terhadap suara adzan.

Jika seseorang sedang menyelesaikan pekerjaan, mengantar barang, atau berbincang dengan orang lain, menyelesaikannya terlebih dahulu dengan baik juga merupakan bagian dari etika Islam.

Apa yang disampaikan Gus Baha’ pada dasarnya adalah upaya mengembalikan agama pada hikmahnya. Islam bukan agama yang memusuhi kehidupan sehari-hari. Ia tidak memaksa manusia hidup dalam ketegangan antara dunia dan ibadah. Justru Islam mengajarkan keseimbangan.

Adzan adalah panggilan. Ia mengingatkan manusia agar tidak lupa kepada Tuhan. Namun panggilan itu tidak selalu menuntut respon yang panik. Ia memberi ruang bagi manusia untuk menata langkahnya menuju shalat dengan tenang.
Karena pada akhirnya, yang paling penting dalam ibadah bukanlah seberapa cepat seseorang berdiri setelah adzan, tetapi seberapa hadir hatinya ketika ia berdiri di hadapan Allah.

Dan mungkin di situlah letak kebijaksanaan pesan Ahmad Bahauddin Nursalim:
agama tidak selalu membutuhkan gerakan yang tergesa-gesa, tetapi pemahaman yang mendalam.***

(Buya Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Dai, Akademisi, Pemerhati Kebijakan Publik dan Pendidikan Karakter)