Oleh: Buya Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.
DALAM kesadaran religius umat Islam, malam Lailatul Qadar sering dipahami sebagai malam yang penuh keberkahan dan menjadi puncak spiritual pada bulan Ramadhan. Banyak orang membayangkan malam ini sebagai momentum mistis yang datang secara rahasia pada salah satu malam di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Namun jika ditelusuri secara lebih ilmiah, historis, dan filosofis, makna Lailatul Qadar sesungguhnya jauh lebih dalam daripada sekadar “malam yang dicari”.
Secara bahasa, Lailatul Qadar berarti malam yang agung, malam yang menentukan, atau malam yang penuh ketetapan. Dalam perspektif keilmuan Islam, konsep ini memiliki dua konteks penting yang perlu dibedakan agar pemahamannya tidak menyempit.
Pertama, Lailatul Qadar sebagai peristiwa historis, yakni malam pertama turunnya wahyu Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad. Peristiwa monumental ini hanya terjadi satu kali dalam sejarah dan tidak berulang setiap tahun. Ia adalah titik balik sejarah manusia, ketika wahyu ilahi mulai menyinari dunia yang sebelumnya diliputi kegelapan moral dan spiritual.
Kedua, Lailatul Qadar dalam konteks ritual-spiritual pada bulan Ramadhan, yaitu malam yang diyakini hadir setiap tahun namun waktunya dirahasiakan. Nabi Muhammad menganjurkan umat Islam untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Hikmah dari dirahasiakannya malam tersebut bukanlah untuk menciptakan misteri, melainkan agar manusia bersungguh-sungguh dalam ibadah sepanjang malam-malam Ramadhan.
Menariknya, para ulama sepanjang sejarah berbeda pendapat mengenai kapan tepatnya malam tersebut terjadi. Bahkan sebagian literatur klasik menyebutkan hingga empat puluh pendapat tentang waktunya. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada dalil yang benar-benar pasti (qath’i) yang menentukan tanggalnya.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi pernah hendak memberitahukan waktu pasti Lailatul Qadar. Namun penjelasan itu tidak jadi disampaikan karena pada saat itu dua orang sahabat sedang bertengkar. Peristiwa ini memberi pelajaran moral yang mendalam: pertikaian manusia bisa menghilangkan keberkahan pengetahuan.
Jika kita menelaah Surat Al-Qadr, para mufasir menjelaskan bahwa surat tersebut turun di Makkah sebelum syariat puasa Ramadhan diwajibkan. Artinya, Lailatul Qadar yang disebut dalam surat tersebut pada mulanya merujuk pada malam turunnya Al-Qur’an, bukan pada malam ibadah dalam bulan Ramadhan sebagaimana yang populer dipahami.
Allah berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam Lailatul Qadar.”
Kemudian disebutkan:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Sering kali ayat ini dipahami bahwa ibadah pada malam tersebut lebih baik daripada ibadah seribu bulan. Namun sebagian ulama tafsir memberikan penjelasan yang lebih historis.
Mufasir besar Muhammad Jamaluddin al-Qasimi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa masyarakat Arab pada masa Zaman Jahiliyah telah hidup berabad-abad dalam kegelapan akidah, kekacauan moral, dan ketidakteraturan sosial. Maka satu malam ketika cahaya wahyu Al-Qur’an mulai turun, nilainya tentu lebih besar daripada ribuan bulan kehidupan tanpa petunjuk.
Dengan kata lain, ayat tersebut menegaskan nilai transformasi sejarah, bukan sekadar perbandingan matematis ibadah.
Perumpamaan ini dapat dipahami seperti ungkapan dalam sejarah bangsa:
“Detik-detik proklamasi kemerdekaan lebih berharga daripada ratusan tahun hidup dalam penjajahan.”
Demikian pula, satu malam turunnya wahyu yang mengubah arah peradaban manusia tentu lebih bermakna daripada ribuan bulan kehidupan tanpa petunjuk ilahi.
Meskipun peristiwa turunnya wahyu pertama telah selesai, Lailatul Qadar tidak berarti berhenti eksistensinya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar al-Ghifari, ia bertanya kepada Nabi apakah Lailatul Qadar hanya ada selama para nabi masih hidup ataukah tetap berlangsung hingga akhir zaman. Nabi menjawab bahwa Lailatul Qadar akan tetap ada sampai hari kiamat.
Ini menunjukkan bahwa makna Lailatul Qadar tidak hanya berkaitan dengan sejarah wahyu, tetapi juga berkaitan dengan mekanisme spiritual kosmik dalam kehidupan manusia.
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa pada malam tersebut para malaikat turun dengan membawa ketetapan Ilahi:
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
Ayat ini menegaskan bahwa Lailatul Qadar adalah malam ketika berbagai urusan manusia ditetapkan dalam rentang satu tahun ke depan. Ungkapan “min kulli amr” (dari segala urusan) menunjukkan keluasan makna yang tidak dibatasi oleh jenis urusan tertentu.
Ia mencakup segala aspek kehidupan manusia: agama, hidayah, rezeki, kesehatan, kecerdasan, keluarga, pekerjaan, bahkan urusan sosial dan kemasyarakatan.
Dengan demikian, Lailatul Qadar bukan sekadar malam ibadah individual, tetapi juga malam penentuan arah kehidupan manusia.
Dalam praktik spiritualnya, Nabi Muhammad memberikan teladan yang sangat jelas. Ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, beliau mengencangkan ikat pinggangnya—sebuah ungkapan simbolik yang berarti memperbanyak ibadah dan menjauh dari hal-hal yang melalaikan.
Beliau menghidupkan malam dengan: memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an dan
berdoa serta membangunkan keluarganya untuk beribadah.
Nabi juga melakukan i’tikaf di masjid, yaitu berdiam diri dalam ibadah dan kontemplasi spiritual. Bahkan pada tahun terakhir kehidupannya, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah binti Abu Bakar, ia pernah bertanya kepada Nabi tentang doa yang sebaiknya dibaca jika seseorang mengetahui malam Lailatul Qadar.
Nabi menjawab dengan doa yang sangat singkat namun penuh makna:
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Doa ini menunjukkan bahwa inti spiritual Lailatul Qadar bukanlah sekadar memperbanyak amal secara kuantitatif, melainkan memohon pengampunan dan pembaruan diri di hadapan Tuhan.
Dari sudut pandang filosofis, Lailatul Qadar sesungguhnya adalah simbol momentum perubahan besar dalam kehidupan manusia.
Ia mengajarkan bahwa satu malam kesadaran spiritual bisa lebih bermakna daripada puluhan tahun kehidupan tanpa arah. Satu keputusan untuk kembali kepada Tuhan bisa lebih bernilai daripada seribu bulan hidup dalam kelalaian.
Itulah sebabnya generasi sahabat, tabi’in, dan ulama salaf sangat merindukan malam tersebut. Mereka tidak hanya mencarinya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai momen pembaruan spiritual.
Bahkan seorang ulama besar generasi tabi’in, Sa'id ibn al-Musayyib, mengatakan bahwa siapa yang menunaikan shalat Maghrib dan Isya secara berjamaah pada malam Ramadhan, maka ia memiliki peluang memperoleh pahala Lailatul Qadar.
Pernyataan ini mengandung pesan penting: Lailatul Qadar bukan hanya milik para ahli ibadah yang melakukan amalan berat, tetapi juga terbuka bagi siapa saja yang menjaga ibadah dengan keikhlasan.
Pada akhirnya, memaknai Lailatul Qadar bukan sekadar mencari satu malam yang tersembunyi dalam kalender Ramadhan. Yang lebih penting adalah memahami pesan spiritual dan historisnya.
Lailatul Qadar adalah simbol bahwa cahaya wahyu mampu mengubah sejarah manusia. Ia mengingatkan bahwa satu momen kesadaran dapat mengalahkan panjangnya masa kegelapan.
Jika manusia mampu menjadikan malam-malam Ramadhan sebagai ruang kontemplasi, memperbaiki hubungan dengan Tuhan, serta menata kembali arah kehidupannya, maka sesungguhnya ia telah meraih hakikat Lailatul Qadar.
Sebab pada hakikatnya, Lailatul Qadar bukan hanya malam yang dicari, tetapi juga malam yang membangunkan manusia dari tidur panjang peradaban.
(Buya Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.. Penulis; Ketua Pimpinan Daerah Persatuan Islam (PERSIS) Kota Pekanbaru)