Menggugat Simbol, Menghidupkan Substansi Ibadah Haji

I

Isman

Minggu, 29 Maret 2026 | 08:02 WIB

Menggugat Simbol, Menghidupkan Substansi Ibadah Haji

Oleh: H. Farhan Alfaruq Ajidin, Lc.

“Berapa banyak di antara kita yang bangga dipanggil ‘H.’?”

Pertanyaan ini terdengar biasa, tetapi sesungguhnya mengusik kenyamanan batin. Ia seperti ketukan halus di pintu kesadaran, mengajak kita bercermin, bukan di hadapan manusia, tetapi di hadapan Allah. Lalu pertanyaan itu menjadi lebih tajam:
“Apakah Allah juga memanggil kita dengan panggilan yang sama?”

Di tengah masyarakat Muslim hari ini, haji sering ditempatkan sebagai puncak ibadah. Ia menjadi simbol kesalehan, bahkan tidak jarang berubah menjadi legitimasi sosial. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur:
apa yang benar-benar berubah setelah seseorang pulang dari haji?

Apakah yang kembali adalah manusia yang lebih dekat kepada Tuhan, atau sekadar individu dengan gelar baru di depan nama?

Secara historis, haji bukanlah ritual kosong. Ia adalah warisan spiritual dari Nabi Ibrahim—seorang manusia yang membangun Ka’bah bukan sebagai simbol peradaban, tetapi sebagai pusat tauhid.

Al-Qur’an menegaskan:

وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا…

“Dan serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu…” (Q.S. Al-Hajj: 27).

Seruan ini bukan sekadar undangan perjalanan, tetapi panggilan eksistensial. Haji adalah jawaban manusia atas panggilan Tuhan. Maka ketika ia direduksi menjadi “wisata religi”, yang hilang bukan sekadar makna, tetapi ruh ibadah itu sendiri.

Kisah Siti Hajar menghadirkan dimensi psikologis terdalam dalam ibadah haji. Ia berlari di antara Shafa dan Marwah bukan sebagai ritual, tetapi sebagai jeritan hidup—antara harapan dan keputusasaan.

Kini kita menirunya dalam sa’i. Kita berlari kecil. Kita berkeringat. Tetapi pertanyaan yang menggugah adalah:
apakah kita pernah benar-benar berlari dalam keputusasaan seperti Hajar?
Atau justru kita menjalani ritual itu dalam kenyamanan tanpa makna?

Air zamzam yang kita minum bukan sekadar air suci. Ia adalah simbol bahwa pertolongan Allah sering lahir ketika manusia berada di titik paling rapuh dalam hidupnya.

Figur Nabi Ismail adalah representasi kepasrahan total. Ia tidak melawan, tidak menawar, tidak bertanya, ia tunduk sepenuhnya.

Al-Qur’an merekam dialog itu:

يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ…

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah)…” (Q.S. Ash-Saffat: 102).

Di titik ini, haji bukan lagi ritual, tetapi ujian eksistensial. Maka pertanyaan yang seharusnya kita bawa pulang adalah:
apa yang telah kita korbankan setelah haji?
Apakah hanya biaya dan waktu?
Ataukah juga ego, kesombongan, dan dosa yang selama ini kita pelihara?

Kembali kepada Nabi Ibrahim, kita menemukan arketipe keikhlasan yang melampaui batas kewajaran manusia. Ia meninggalkan keluarga, menghadapi kesendirian, bahkan siap mengorbankan anaknya.

Al-Qur’an menyebut:

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ

“Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata.” (Q.S. Ash-Saffat: 106).

Dalam perspektif sosiologis, Ibrahim adalah figur yang tidak tunduk pada norma sosial, tetapi pada kebenaran Ilahi. Ia berani kehilangan demi ketaatan.

Lalu pertanyaan itu berbalik kepada kita:
kita diuji dengan apa?
Atau jangan-jangan, kita belum diuji karena belum siap untuk kehilangan?

Di era modern, haji tidak bisa dilepaskan dari dimensi sosial. Gelar “H.” menjadi simbol kehormatan. Undangan, spanduk, hingga status sosial sering menyertai.

Di sinilah kritik harus diajukan secara jujur:
apakah kita berhaji untuk Allah… atau untuk pengakuan manusia?

Dalam psikologi sosial, manusia memang memiliki kebutuhan akan pengakuan. Namun ketika ibadah dijadikan alat untuk memenuhi kebutuhan itu, maka terjadi pergeseran orientasi—dari Tuhan kepada manusia.

Inilah yang bisa disebut sebagai krisis spiritual dalam bungkus religiusitas.

Kini kita sampai pada titik paling reflektif.
Huruf “H.” di depan nama kita… sebenarnya apa maknanya?
Apakah ia benar-benar singkatan dari Haji—sebuah perjalanan spiritual yang mengubah jiwa?
Ataukah hanya formalitas sosial yang menambah identitas?
Apakah ia tanda bahwa kita telah menjadi hamba?
Ataukah sekadar tanda ingin dihormati?

Pertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban lisan, tetapi jawaban kehidupan:
Sejauh mana “H.” itu mencerminkan pengorbanan seperti Ibrahim? Sejauh mana ia mencerminkan kesabaran seperti Hajar? Sejauh mana ia mencerminkan ketaatan seperti Ismail?

Dan mungkin pertanyaan paling pahit:
jangan-jangan huruf “H.” itu lebih dikenal manusia… daripada dikenal Allah.

Haji sejatinya bukan sekadar perjalanan fisik menuju Makkah, tetapi perjalanan batin menuju Allah. Ia bukan tentang gelar, tetapi tentang perubahan.

Al-Qur’an mengingatkan:

وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 197).

Pada akhirnya, yang menentukan bukan apakah kita pernah berhaji, tetapi apakah haji itu masih hidup dalam diri kita.

Jika tidak, maka mungkin yang perlu kita ulang bukan perjalanan ke Tanah Suci, melainkan perjalanan ke dalam hati.***

(H. Farhan Alfaruq Ajidin, Lc. Penulis; Mahasiswa Program Pascasarjana (S2) Institut Agama Islam Diniyyah Pekanbaru dan Muthawwif Haji dan Umrah).