Nasi Padang Legendaris

A

administrator

Rabu, 28 Januari 2026 | 00:00 WIB

Nasi Padang Legendaris

Oleh: Hasrul Sani Siregar, MA

TERLETAK di Jalan Kandahar St, kawasan yang bernama kampong Glam Singapura telah beroperasi warong nasi pariaman yang dikenal dengan nama rumah makan nasi padang yang berdiri sejak tahun 1948 jauh sebelum negara Singapura wujud dan merdeka pada 9 Agustus 1965. Bagi yang pernah ke Singapura, tentu kampong Glam tidak asing lagi yang juga di kenal dengan kawasan The Arab Street. Singapura dulunya menjadi bagian dari Federasi Malaya. Singapura dari awal berdirinya tetap bernama Singapura hingga keluar dari Federasi Malaya. Keluarnya Singapura dalam Federasi Malaysia disebabkan oleh perbedaan idiologi antara Tunku Abdul Rahman Putra dan Lee Kuan Yew. Singapura yang di abad ke 19 dikenal dengan sebutan Temasek, sebelum Raffles menemukan pulau tersebut masuk dalam tiga negeri Selat yaitu Melaka (Malacca), Pulau Penang dan Singapura. Singapura dari awal berdirinya tetap bernama Singapura hingga dikeluarkan dari Federasi Malaysia tahun 1965. Singapura hanya bertahan dengan Federasi Malaysia selama 2 tahun dari bulan September 1963 hingga 9 Agustus 1965.

Warong nasi pariaman yang cukup legendaris tersebut terletak tidak jauh pula dari Mesjid Sultan yang merupakan Ikon umat muslim di Singapura. Kawasan kampong Gelam di kenal dengan pemukiman muslim di Singapura. Berbagai kuliner selalu tersedia di sana. Roti canai mamak dan teh tarik sangat mudah di dapatkan di kampong yang cukup terkenal di Singapura. Perkampungan muslim di Singapura terletak di Arab Street yang dikenal dengan Kampong Glam. Kampong Glam selalu ramai dengan menyajikan makanan khas Malaysia. Jika di bulan suci Ramadhan tentunya semakin semarak dan ramai dengan menu menu berbuka puasa. 

Oleh sebab itu, Kampung Glam menjadi pusat kehidupan umat muslim Singapura yang juga dekat dengan Mesjid Sultan yang sudah ada sejak abad ke-19. Rumah makan tersebut tidak saja dikenal bagi para pelancong dari Indonesia dan Malaysia juga bagi masyarakat Singapura yang selalu menikmati aneka kuliner khas padang tersebut. Berbagai media memberitakan bahwa terhitung 31 Januari 2026 warong nasi padang tersebut akan tutup dengan alasan yang belum jelas dan menimbulkan pertanyaan bagi masyarakat Singapura khususnya yang selalu menikmati makanan di warong nasi tersebut. 

Banyak pelanggan dan penikmat kuliner khususnya masakan padang, warong nasi padang ini bukan sekedar rumah makan, melainkan bagian dari sejarah kuliner dan memori kebersamaan komunitas di Singapura. Gelombang dukungan dan kenangan pun membanjiri media social dan media masa setelah kabar penutupan tersebar, dengan harapan agar restoran legendaris ini masih dapat menemukan jalan untuk terus bertahan di masa depan. Informasi penutupan warong nasi padang tersebut telah terdengar oleh pejabat Singapura. 

Menteri negara urusan umat muslim Singapura yang juga menjabat sebagai Associate Professor, Faishal Ibrahim mengatakan bahwa beliau telah mengunjungi keluarga pemilik restoran tersebut dan telah meminta teman-teman yang berada di berbagai lembaga pemerintah Singapura untuk terhubung dengan para pemilik warong makan padang tersebut untuk membantu dan merencanakan untuk tetap beroperasi dan menentukan langkah berikutnya. Sebagai menteri yang mengurus umat muslim di Singapura, Faishal juga menyoroti besarnya sumbangan dari warong nasi Pariaman tersebut bagi masyarakat Singapura. Sumbangan kuliner warong nasi padang bagi negara ke Singapura sungguh tak ternilai harganya dan itu menjadi ikon bagi Singapura.

Kuliner tersebut cukup memberi kenangan bagi masyarakat Singapura yang selama bertahun tahun menikmati warong padang tersebut. Seperti diberitakan oleh The Straits Times, terdapat kenaikan harga sewa khususnya di kawasan Kampong Gelam dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa unit rumah took dan kedai runcit dilaporkan mengalami kenaikan sewa dari sekitar 3.000 dollar Singapura (sekitar Rp 39 juta) hingga menjadi hampir 10.000 dollar Singapura (sekitar Rp 132 juta). Di beritakan juga pada tahun 2025 di Singapura rata rata 300 kedai runcit atau outlets tutup dampak dari kenaikan sewa yang cukup tinggi dan berdampak pula terhadap penurunan konsumen.***

(Hasrul Sani Siregar, MA. Penulis; Alumni Hubungan antarabangsa IKMAS, UKM, Selangor Malaysia/Widyaiswara di BPSDM Provinsi Riau)