Posisi Turki dalam Konflik di Asia Barat

I

Isman

Selasa, 17 Maret 2026 | 15:31 WIB

Posisi Turki dalam Konflik di Asia Barat

Oleh: Hasrul Sani Siregar, MA

TURKI dalam konflik Iran dan Amerika Serikat-Israel mengambil posisi netral dan mengimbau kepada pihak-pihak yang bertikai untuk kembali ke meja perundingan yang mana sebelumnya telah dilakukan perundingan antara Iran dan Amerika Serikat. Dalam proses perundingan yang masih berjalan, Amerika Serikat dan Israel menyerang Teheran yang mengorbankan pemimpin tertinggi Iran yaitu Ayatollah Ali Khamenei. Dan beberapa jam setelah itu Iran membalas serangan rudal ke Israel dan pangkalan militer yang ada di negara-negara Teluk.

Turki sebagai negara yang memiliki hubungan yang cukup baik dengan Iran terus berupaya agar konflik di Timur Tengah (Asia Barat) tersebut tidak menjadi konflik regional yang tentu saja akan berdampak terhadap kawasan regional kawasan Timur Tengah khususnya dan dunia umumnya. Turki telah berupaya sebagai mediator dalam perundingan antara Iran dan Amerika Serikat sebelum akhirnya pecah perang diantara 3 negara yaitu Iran dan koalisi Amerika Serikat dan Israel. Hampir di semua negara-negara teluk memiliki pangkalan militer Amerika Serikat yang menjadi sasaran rudal Iran yang telah memasuki hari ke-17 sejak serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran pada 28 Februari yang lalu. Pertanyaannya mengapa Iran tidak menyerang pangkalan militer Amerika Serikat (NATO) yang terletak di Incirlik, Turki selatan yang berbatasan dengan Provinsi Hatay, provinsi paling selatan Turki yang berbatasan langsung dengan Suriah di pesisir Laut Tengah.

Di Turki juga ada pangkalan militer, namun bukan pangkalan militer khusus Amerika Serikat saja seperti yang ada di negara-negara Teluk yang memiliki asset militer Amerika Serikat. Di Turki pangkalan militer di bawah komando NATO yang mana Turki menjadi bagian dari anggota NATO (North Atlantic Treaty Organization)  Dalam pasal 5 dari perjanjian NATO menyebutkan bahwa serangan terhadap salah satu anggotanya dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota NATO yang mana anggota NATO hingga saat ini anggotanya 32 negara,

Oleh sebab itu, Iran tidak menyerang pangkalan NATO yang ada di Turki, yang diserang adalah pangkalan militer dan asset Amerika Serikat khusus yang ada di negara-negara teluk. Beberapa negara seperti Bahran, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab yang memiliki pangkalan militer dan Asset Amerika Serikat tidak terlepas dari gempuran rudal Iran khususnya dari pasukan Garda Revolusi Islam Iran. Turki yang menjadi anggota aliansi militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara NATO (North Atlantic Treaty Organization) yang mana posisi Turki dalam konflik di Timur Tengah tersebut mengambil posisi yang cukup strategis yaitu tidak terlibat terlalu jauh dengan mendukung Amerika Serikat-Israel. Tentu Turki memiliki sejarah konflik dengan Israel. Ketegangan antara Israel dan Turki mengingatkan kembali pada tragedi kemanusiaan di jalur Gaza pada 31 Mei 2010 lalu ketika itu kapal misi kemanusiaan yang bernama Mavi Marmara berbendera Turki yang membawa bantuan kemanusiaan bagi Gaza diserang oleh pasukan komando Israel di perairan Internasional. 

Selama ini Turki sangat menentang invasi Israel ke Palestina khususnya di wilayah Gaza. Presiden Erdogan secara keras menentang penyerangan ke Gaza yang telah menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit tersebut. Walaupun Turki dan Israel memiliki hubungan diplomatik, namun selama ini posisi Turki terhadap Israel sangat keras dan menentang penyerangan terhadap Gaza oleh Israel yang terjadi sejak 7 Oktober 2023. Sejak perang antara Israel dan Hamas, Turki telah memanggil pulang duta besarnya untuk Israel dan memutuskan kontak dengan Perdana Menteri Netanyahu. Turki menganggap bahwa Israel telah melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap Palestina dan penduduk sipil. Turki menganggap Israel tidak lagi berupaya untuk menghentikan perang dan pendudukan terhadap wilayah Palestina. Oleh sebab itu, posisi Turki dalam konflik Iran dan Amerika Serikat-Iran mengambil posisi netral dan berupaya mengakhiri konflik tersebut dan mengajak kembali ke meja perundingan.***

 (Oleh: Hasrul Sani Siregar, MA. Penulis; Alumni Hubungan Antarabangsa, IKMAS, UKM, Bangi Selangor Malaysia/Widyaiswara di BPSDM Provinsi Riau)