JAKARTA, AmiraRiau.com — Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Yassierli, menegaskan bahwa peran perusahaan tidak boleh berhenti hanya pada menyediakan lapangan kerja. Perusahaan wajib membuka ruang agar para pekerja dapat terus berkembang, meningkatkan kompetensi, dan siap menghadapi perubahan dunia kerja yang dinamis.
Menurut Menaker, sangat memprihatinkan jika seorang pekerja berada di posisi yang sama selama bertahun-tahun tanpa ada peningkatan kemampuan.
Pengembangan sumber daya manusia (SDM) bukan sekadar bentuk kepedulian sosial, melainkan strategi bisnis jangka panjang. Pekerja yang diberdayakan akan memiliki keterikatan (engagement) yang lebih kuat terhadap perusahaan.
“Ketika kita memampukan dan memberdayakan pekerja, itu akan memberikan long-term effect bagi ketahanan perusahaan,” ujar Yassierli di Jakarta yang disampaikan Biro Humas Kemnaker, Rabu (11/3/2026).
Ia menambahkan, lingkungan kerja yang mendukung pengembangan diri membuat pekerjaan menjadi lebih bermakna (meaningful). Hal ini akan memicu semangat dan rasa memiliki (sense of belonging) yang melampaui sekadar menjalankan tugas harian.
Yassierli juga menekankan pentingnya nilai-nilai asli Indonesia dalam hubungan industrial, yaitu gotong royong, kekeluargaan dan Musyawarah
“Ada yang hilang dari DNA kita. Kita harus membangkitkan kembali semangat kekeluargaan ini untuk menghadapi dinamika hubungan industrial ke depan,” tuturnya.
Menaker mengaku prihatin menemukan fakta adanya pekerja yang telah mengabdi selama 10 hingga 20 tahun namun tidak mengalami perkembangan skill yang berarti. Baginya, potensi manusia sangat besar dan harus difasilitasi agar tidak layu.
Sebagai langkah nyata, Yassierli menceritakan upayanya mendorong staf pendukung di lingkungannya untuk melek teknologi. “Driver, Satpam, hingga OB saya dorong belajar komputer. Kita tidak ingin mereka selamanya berada di posisi yang sama tanpa bekal untuk menyesuaikan diri dengan perubahan,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Menaker mengingatkan bahwa dunia kerja masa depan penuh dengan ketidakpastian. Oleh karena itu, kelincahan (agility) dan kemampuan beradaptasi menjadi syarat mutlak bagi pekerja maupun perusahaan.
Ia berharap perusahaan besar seperti PT Jasa Marga dapat menjadi pionir dan contoh nyata dalam memanusiakan pekerja sekaligus menyiapkan mereka menghadapi tantangan masa depan.
“Tugas kita adalah membantu menemukan dan mengoptimalkan potensi terbaik setiap pekerja,” pungkasnya.***