Teduh di Pendopo Rokan Hulu, Saat Ulama dan Anak Yatim 'Pulang ke Rumah'

A

administrator

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:00 WIB

Teduh di Pendopo Rokan Hulu, Saat Ulama dan Anak Yatim 'Pulang ke Rumah'

PASIR PENGARAIAN, AmiraRiau.com- Mentari pagi di pertengahan Februari 2026 terasa lebih bersahabat di atas langit Pasir Pengaraian. Di Pendopo Rumah Dinas Bupati Rokan Hulu, Kamis (12/2), udara yang biasanya formal berubah menjadi hangat dan penuh aroma kekeluargaan. Ratusan pasang mata, mulai dari kerut bijaksana para ulama hingga binar polos anak-anak yatim, berkumpul dalam satu harmoni yang sama.

Hari itu bukan sekadar agenda protokoler pemerintah. Ini adalah momen "pulang ke rumah" bagi para penjaga moral bangsa dan tunas harapan daerah dalam menyambut tamu agung, Bulan Suci Ramadhan 1447 H.

Di tengah aula, duduk barisan pria dan wanita bersahaja. Mereka adalah para Mubaligh dan Mubaligoh, pejuang dakwah yang saban hari keluar-masuk kampung di 16 kecamatan se-Rokan Hulu. Di tangan mereka, nilai-nilai "Negeri Seribu Suluk" dijaga agar tetap menyala.

Bupati Rokan Hulu, Anton, ST, MM, menatap mereka dengan penuh rasa hormat. Baginya, mereka adalah rekan jejak dalam membangun daerah.

“Bapak dan Ibu adalah lentera umat,” ujar Anton dengan nada yang tak lagi terdengar seperti pejabat, melainkan seperti seorang murid kepada gurunya. “Tetaplah istiqamah. Ulama dan umara harus berjalan seiring, karena tanpa bimbingan Bapak dan Ibu, pembangunan fisik yang kami lakukan akan kehilangan jiwanya.”

Penyerahan bingkisan dan "sagu hati" kepada 230 mubaligh siang itu menjadi simbol kecil dari rasa terima kasih yang besar. Sebuah pengakuan bahwa di balik ketenangan batin masyarakat Rohul, ada keringat para pendakwah yang tak jarang terlupakan.

Namun, suasana haru yang paling terasa adalah saat tatapan Bupati beralih kepada 250 anak yatim yang duduk dengan rapi. Bagi anak-anak ini, Pendopo hari itu bukan lagi gedung megah yang jauh, melainkan sebuah ruang yang hangat—seperti pelukan orang tua yang mereka rindukan.

Anton, didampingi istrinya Ny. dr. Yenni Dwi Putri, melangkah mendekat. Ia mensejajarkan tingginya dengan anak-anak itu saat menyerahkan santunan. Sebuah pesan singkat namun menggetarkan hati ia bisikkan ke udara, membuat beberapa orang dewasa di ruangan itu menyeka sudut mata.

“Kalian mungkin kehilangan sosok orang tua, tapi yakinlah, kalian tidak pernah kehilangan kasih sayang Allah,” ucapnya lembut. “Kami di sini, pemerintah daerah, hadir untuk memastikan kalian tetap tersenyum dan tetap memiliki mimpi.”

Kalimat itu bukan sekadar janji politik, melainkan komitmen kemanusiaan bahwa negara hadir sebagai sandaran bagi mereka yang paling membutuhkan kasih sayang.

Silaturahmi akbar ini ditutup dengan cara yang sangat manis: siraman rohani. Suara penceramah menggema di langit-langit pendopo, mengajak semua yang hadir untuk membersihkan hati sebelum memasuki Ramadhan yang tinggal menghitung hari.

Canda tawa kecil pecah saat sesi makan bersama dan foto dokumentasi. Para Camat, jajaran dinas, hingga pengurus Baznas melebur tanpa sekat bersama warga.

Pertemuan ini menjadi pengingat bagi setiap jiwa yang hadir di sana: bahwa pembangunan di Rokan Hulu bukan hanya soal beton dan aspal. Ia juga soal merawat ikatan batin, memuliakan para pewaris nabi, dan memastikan bahwa tidak ada satu pun anak yatim yang merasa berjalan sendirian di bawah langit Negeri Seribu Suluk.

Ramadhan 1447 H kini sudah di ambang pintu, dan Rokan Hulu menyambutnya dengan hati yang lapang, sejuk, dan penuh syukur.***

Penulis: Kominfo/Yus