Menyingkap Misteri Air Keabadian di Sumur Tua Masjid Raya Senapelan yang tak Pernah Kering

A

administrator

Kamis, 26 Februari 2026 | 00:00 WIB

Menyingkap Misteri Air Keabadian di Sumur Tua Masjid Raya Senapelan yang tak Pernah Kering

PEKANBARU, AmiraRiau.com – Di jantung sejarah Kota Pekanbaru, tepat di dataran tinggi yang semestinya gersang saat kemarau, tersimpan sebuah teka-teki spiritual yang telah bertahan selama hampir satu abad. Di lingkungan Masjid Raya Senapelan, sebuah sumur tua berdiri sunyi, menyimpan air yang tak hanya membasuh dahaga, tetapi juga diyakini membawa keberkahan bagi jiwa-jiwa yang mencari kesembuhan.

Sumur ini bukan digali oleh tangan biasa. Adalah Haji Sulaiman India, seorang saudagar dermawan pada tahun 1928, yang meninggalkan warisan abadi ini. Sejak cangkul pertama menghujam tanah hampir seratus tahun silam, mata air ini terus mengalir—menentang hukum alam—tanpa pernah sekalipun mencicipi rasa kering.

Ketua Pengurus Masjid Raya Senapelan, H. Juli Usman, mengungkapkan kekaguman yang tak lekang oleh waktu. Secara logika, letak sumur di dataran relatif tinggi seharusnya membuat sumber air sulit didapat atau mudah surut. Namun, sumur sedalam enam meter ini justru menjadi "mukjizat" kecil di tengah kota.

"Alhamdulillah, sejak dulu tidak pernah kering walaupun berada di dataran tinggi. Ini menjadi cerita yang turun-temurun di tengah jemaah," tutur H. Juli Usman dengan nada penuh syukur, Kamis (26/02/2026).

Saat sumur-sumur warga di dataran rendah mulai meratap karena kekeringan, air di Masjid Raya Senapelan tetap meluap. Seolah ada janji dari langit bahwa mata air ini akan terus ada untuk menjaga kekhusyukan mereka yang bersujud.

Ada sesuatu yang lebih dari sekadar H2O di dalam sumur ini. Orang-orang tua terdahulu hingga jemaah masa kini meyakini adanya khasiat tersembunyi. Banyak yang datang membawa botol kosong, bukan karena sekadar haus, melainkan membawa pulang harapan akan kesembuhan.

"Orang-orang tua kita dulu percaya kalau air dari sumur ini berkhasiat menyembuhkan penyakit. Hingga hari ini, banyak jemaah yang mengambil airnya sebagai bentuk ikhtiar," jelas H. Juli Usman. Tradisi lisan ini terus hidup, menjadikan setiap tetesan airnya sebagai saksi bisu perjalanan iman dan peradaban Islam di Tanah Melayu.

Menyadari nilai spiritual dan sejarah yang tak ternilai, pengurus masjid kini menempatkan sumur tersebut di dalam ruangan khusus dengan kerangkeng pelindung yang kokoh. Namun, kerangkeng itu bukan untuk menjauhkan jemaah, melainkan untuk menjaga kemurnian mata air karomah tersebut dari tangan-tangan yang tak bertanggung jawab.

Modernisasi pun menyentuh tanpa menghilangkan kesakralan. Sistem filterisasi kini dipasang agar jemaah dapat langsung meminum air "sejarah" ini melalui keran di bagian luar.

Hampir seratus tahun berlalu sejak Haji Sulaiman India wafat, namun sedekah jariahnya dalam bentuk air terus mengalir tanpa henti. Di tengah hingar-bingar Pekanbaru yang modern, sumur tua Masjid Raya Senapelan teguh berdiri sebagai pengingat: bahwa di dunia ini, ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan oleh sains, namun bisa dirasakan oleh hati yang beriman.***