Oleh: Dr. Adv. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.*
KEMENTERIAN Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkenalkan Program Pembelajaran Mendalam (PM) sebagai upaya menjawab krisis pembelajaran yang selama ini menghantui pendidikan kita. Anak-anak belajar banyak hal, tapi sering kali tak memahami maknanya. PM hadir bukan sekadar mengganti kurikulum, melainkan mengubah cara berpikir tentang belajar itu sendiri.
Filosofi PM sederhana namun revolusioner: belajar itu bukan menumpuk hafalan, melainkan menumbuhkan pemahaman yang mendalam dan aplikatif. Siswa tidak lagi sekadar menjawab soal, tetapi menghubungkan ilmu dengan kehidupan nyata. Guru bukan lagi pusat pengetahuan, melainkan fasilitator yang menuntun lahirnya makna.
Program ini lahir dari refleksi panjang: skor literasi dan numerasi siswa Indonesia rendah, sementara sistem belajar masih berorientasi pada ujian. PM mencoba menjawab tantangan itu dengan menekankan pembelajaran yang kontekstual, reflektif, kolaboratif, dan bermakna.
Secara sosiologis, PM juga berusaha menghapus jurang ketimpangan mutu sekolah, agar anak di kota maupun di pelosok sama-sama berhak atas pendidikan bermutu.
Menariknya, PM tidak hanya berbicara soal kecerdasan kognitif. Ia menghidupkan empat olah: pikir, hati, rasa, dan raga. Di sinilah spiritualitas pendidikan hadir, bahwa belajar sejatinya adalah proses memanusiakan manusia. Dalam Islam, semangat ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW:“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Namun, pelaksanaan PM tak mudah. Kesenjangan fasilitas, kesiapan guru, dan budaya belajar lama menjadi tantangan nyata. Jika tidak diimbangi pelatihan berkelanjutan, pendampingan, dan evaluasi adil, program ini bisa terjebak menjadi jargon administratif.
Meski begitu, PM tetap langkah maju menuju pendidikan yang lebih manusiawi, berkeadilan, dan berkesadaran nilai. Ia mengingatkan kita bahwa tugas pendidikan bukan hanya mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk insan beriman, berpikir kritis, beretika, dan berdaya guna bagi sesama.
Program Pembelajaran Mendalam bukan soal berapa banyak yang diajarkan, tetapi seberapa dalam manusia memahami dirinya dan dunianya.***
(Dr. Adv. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Dai, Akademisi, Advokat, Pemerhati Kebijakan Publik dan Pendidikan)