Pendidikan Kita: Perut Kenyang, Otak Melayang, Guru Terbuang

I

Isman

Sabtu, 11 April 2026 | 10:11 WIB

Pendidikan Kita: Perut Kenyang, Otak Melayang, Guru Terbuang

​Oleh: Mardianto Manan

​DUNIA pendidikan kita hari ini sedang berada dalam pusaran "logika terbalik" yang menyesakkan dada. Di satu sisi, kita menyaksikan gegap gempita kebijakan yang begitu ramah pada urusan perut—insentif tinggi bagi petugas makan siang hingga hadiah motor listrik gratis. Namun di sisi lain, kita melihat sebuah tragedi kemanusiaan yang menimpa para "Umar Bakri" di pelosok Riau, di antara rimbunnya kebun sawit, yang harus bertarung dengan cicilan motor tua demi mencerdaskan anak bangsa.

​Sudah sedemikian tumpulkah nalar kita? Apakah akal sehat sudah menjadi barang mewah yang tak lagi terbeli oleh rezim penguasa?

​Standar Ganda: Manja Administrasi, Siksa Dedikasi

​Sangat kontradiktif ketika kita membandingkan nasib petugas program baru yang dimanjakan dengan fasilitas "wah", sementara guru honorer yang sudah mengabdi puluhan tahun harus mengurut dada. Guru kita hari ini dipaksa masuk dalam sistem yang "mengharamkan" kejujuran intelektual.

​Anak didik tak boleh dimarahi meski salah, tak boleh diberi nilai rendah meski tak mampu, dan wajib naik kelas meski tanpa kompetensi. Kita sedang menciptakan generasi "pemanjaan" yang rapuh. Pendidikan bukan lagi soal mengasah otak dan karakter, melainkan sekadar formalitas pengisian rapor yang harus terlihat indah di atas kertas.

​Nasib Guru Idealis: Dianggap Sok Hebat

​Celakanya lagi, ketika ada guru yang idealis—yang ingin menegakkan disiplin, yang ingin memberikan nilai apa adanya demi kejujuran—mereka justru dianggap "banyak cerita" atau "sok hebat". Guru yang ingin menjaga marwah pendidikan justru disisihkan oleh sistem yang lebih memuja pencitraan daripada kualitas.

​Beban mereka lengkap sudah:

​Beban Ekonomi: Gaji yang tak seberapa, sering terlambat, ditambah beban cicilan kendaraan untuk mobilitas ke sekolah terpencil.

​Beban Mental: Dilarang mendidik dengan keras (dalam arti disiplin), namun dituntut mencetak lulusan hebat.

​Beban Status: Nasib P3K yang masih terkatung-katung, tanpa pensiun yang jelas, sementara tenaga musiman di program populis justru dipuja-puji.

​Renungan untuk Penguasa

​Kita harus bertanya pada nurani: Apakah kita ingin membangun bangsa yang hanya kuat fisiknya tapi keropos otaknya? Kebijakan yang ramah perut tapi kejam pada otak adalah investasi menuju kegagalan masa depan.

​Jangan biarkan guru-guru kita di Riau, yang menerjang lumpur perkebunan, hanya menjadi penonton kemewahan kebijakan yang tak menyentuh akar persoalan. P3K dan guru honorer bukan "onderdil" yang bisa diganti-ganti tiap musim. Mereka adalah nyawa dari peradaban ini.

​Jika hari ini kita lebih menghargai petugas distribusi makanan daripada pendidik manusia, maka bersiaplah melihat menara peradaban kita runtuh karena fondasi otaknya telah kita hancurkan sendiri.

​Salam Perubahan Nalar!

​(Mardianto Manan. Penulis; Adalah Akademisi Universitas Islam Riau (UIR) dan Dosen Pasca Sarjana Sosiologi UNRI).