Refleksi Hari Guru Nasional: Belajar dari Everest, Tenzing Norgay, dan Napas Panjang Pengabdian Guru Indonesia

A

administrator

Rabu, 26 November 2025 | 00:00 WIB

Refleksi Hari Guru Nasional: Belajar dari Everest, Tenzing Norgay, dan Napas Panjang Pengabdian Guru Indonesia

Oleh: Asep Ajidin

GUNUNG Himalaya berdiri seperti doa yang membeku dalam wujud pegunungan, menjulang di antara Nepal dan Tibet. Di sanalah Everest berdiri, puncak tertinggi dunia, menjadi metafora tertinggi dari cita-cita manusia. Sejak 1919, banyak petualang mencoba menaklukkannya. Namun baru pada tahun 1953 puncak Everest resmi ditaklukkan oleh Edmund Hillary, pria sederhana dari Selandia Baru, yang kemudian diberi gelar Sir oleh Kerajaan Inggris. Dunia mengenalnya sebagai ikon keberanian dan pencapaian.

Namun jauh dari sorotan, berdirilah seorang lelaki Sherpa bernama Tenzing Norgay, seorang pengiring, sahabat, sekaligus fondasi yang menopang setiap langkah Hillary. Ketika wartawan bertanya kepada Hillary, semua menunggu kisah heroik. Tetapi ketika seorang wartawan menoleh ke Norgay dan bertanya, ia memberikan jawaban yang jauh lebih memukau daripada kisah pendakian itu sendiri.

Ia bercerita bahwa Hillary pernah datang padanya, menyampaikan mimpi ingin mencapai puncak Everest. Mendengar mimpi itu, Norgay belajar mendaki lebih jauh, lebih tinggi, lebih keras. Ia menyiapkan diri bukan untuk mengibarkan namanya di puncak, tetapi untuk mengantarkan orang lain sampai ke sana. Dan ketika tinggal selangkah lagi menuju puncak tertinggi di muka bumi, Norgay menahan diri, menoleh, dan memanggil Hillary untuk maju terlebih dahulu dan menyuruh Hillary mencapai puncak Everest, sehingga Hillary menjadi manusia pertama yang sampai ke Everest tersebut.

Dunia tercengang. Wartawan bertanya:“Kenapa bukan Anda yang lebih dulu mencapai puncak? Anda pun akan terkenal.” Norgay menjawab, dengan ketulusan yang hanya dimiliki jiwa-jiwa besar:“Karena mimpi saya bukan mencapai puncak Everest. Mimpi saya adalah mengantarkan seseorang ke puncak Everest.”

Secara filosofis, kisah ini mencerminkan inti profesi guru, yaitu profesi yang tidak dibangun dari ambisi pribadi, melainkan dari keinginan untuk membuat orang lain lebih tinggi daripada dirinya. Secara historis, sejak awal peradaban, guru selalu menempati posisi khas, ia bukan pusat panggung, tetapi pusat pembentukan. Ia bukan objek penghormatan karena kemewahan, tapi karena jasa yang melekat dalam diam.

Dalam perspektif sosiologis, guru adalah pengikat peradaban. Ia bukan hanya mengajar, tetapi membentuk struktur sosial melalui anak-anak yang ia dampingi. Sementara secara religius, guru memikul amanah ta'lim dan tazkiyah yang menanamkan ilmu sekaligus memanusiakan manusia. Di dalam Islam, keberkahan ilmu ditentukan oleh keikhlasan, dan guru adalah sosok yang menghidupkan keikhlasan itu.

Dalam semua perspektif tersebut, esensinya sama: Guru adalah Tenzing Norgay bagi murid-muridnya. Ia tidak meminta puncak itu untuk dirinya. Ia meminta agar muridnya berdiri di sana.

Di usia 80 tahun, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) bukan sekadar organisasi profesi. Ia adalah rumah besar, sejarah panjang, benteng perjuangan, sekaligus lentera yang menjaga martabat guru. PGRI lahir pada tanggal 25 November 1945, seratus hari setelah kemerdekaan Indonesia, PGRI lahir ketika bangsa ini baru menegakkan kemerdekaan, dan guru waktu itu bukan hanya mengajar, tapi juga berjuang dalam arti sebenar-benarnya.

Kini, di Hari Guru Nasional 2025, kita punya ruang untuk bertanya dengan jujur: Apakah negara benar-benar telah menempatkan guru sebagai aktor utama pendidikan? Apakah masyarakat telah menghormati guru lebih dari sekadar seremoni tahunan? Dan apakah kebijakan hari ini benar-benar mendukung mimpi guru untuk memajukan muridnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting, karena mimpi guru tidak pernah kecil. Mimpi guru bukan naik pangkat, bukan sekadar peningkatan tunjangan, bukan pula penghargaan seremonial. Mimpi terbesar guru adalah melihat muridnya berdiri di puncak kehidupan. Dan itu adalah mimpi yang jauh lebih besar daripada ambisi pribadi.

Guru tidak meminta patung, tetapi meminta ruang agar mereka bisa bekerja dengan bermartabat. Guru tidak mengejar gelar, tetapi mengejar keberhasilan murid. Guru tidak menuntut tepuk tangan, tetapi membutuhkan kebijakan yang adil.

Secara kritis, bangsa ini perlu menyadari satu hal: tidak ada presiden, dokter, profesor, jenderal, ulama, polisi, jaksa, hakim atau jabatan lainnya yang lahir tanpa guru. Posisi guru mungkin paling rendah dalam hirarki popularitas, tetapi paling tinggi dalam hirarki kontribusi.

Guru tetap menjadi guru. Dosen tetap menjadi dosen. Mereka tidak berubah profesi meski murid-muridnya menjulang tinggi. Tetapi justru di sanalah keagungan mereka: mereka rela menjadi akar agar muridnya menjadi pohon yang kokoh. Mereka rela berada di lereng agar muridnya mencapai puncak. Guru adalah Tenzing Norgay yang tidak pernah meminta fotonya terpampang. Karena mimpi mereka bukan menjadi yang pertama, tetapi memastikan muridnya bisa menjadi yang pertama.

Akhirnya, kita mengerti bahwa mimpi terbesar guru adalah mimpi yang mengangkat peradaban. Mimpi kolektif para pendidik adalah mimpi yang tidak egois, mimpi yang mengalir dari hati yang bersih. Guru adalah refleksi tentang keikhlasan. Guru adalah pelita yang menyala meski tak selalu dipuji. Guru adalah pemandu yang tetap berjalan meski namanya tidak tercatat. Dan selama murid-murid terus mencapai puncak impiannya, selama generasi bangsa terus menanjak, selama peradaban terus berdiri di atas ilmu, maka mimpi terbesar guru telah tercapai secara berulang kali, sepanjang hayat, tanpa pernah menagih balasan.

Selamat Hari Guru Nasional 2025. Selamat HUT ke-80 PGRI. Semoga guru-guru Indonesia terus menjadi pendorong yang mengantarkan bangsa ini ke puncak Everest-nya.

( Asep Ajidin. Penulis; Dai, Akademisi, Pemerhati Kebijakan Publik dan Pendidikan Karakter)