Dari Tanah Pasundan ke Ranah Minang: Menyemai Bakti di Bumi Lancang Kuning

I

Isman

Selasa, 25 Agustus 2026 | 16:20 WIB

Dari Tanah Pasundan ke Ranah Minang: Menyemai Bakti di Bumi Lancang Kuning

Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.

ADA manusia yang perjalanan hidupnya seperti garis lurus: lahir di satu tempat, tumbuh, bekerja, lalu mengakhiri pengabdiannya di tanah kelahiran. Ada pula manusia yang perjalanan hidupnya seperti sungai: bermula dari mata air kecil, mengalir melewati lembah, berkelok mengikuti kontur zaman, lalu bermuara di tempat yang lebih luas.

Saya merasa perjalanan hidup saya lebih dekat dengan gambaran yang kedua.

Saya lahir pada 25 April 1969 di Kampung Corenda, Desa Margaluyu, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, dari pasangan Abdul Hamid, seorang petani, dan Cuwangsih. Dari sebuah kampung kecil di tanah Pasundan itulah perjalanan panjang ini bermula.

Saya menuliskan kisah ini bukan untuk memamerkan jabatan, gelar, profesi, perjalanan karier, ataupun organisasi yang pernah saya ikuti. Justru sebaliknya, tulisan ini saya niatkan sebagai catatan sederhana tentang perjalanan seorang anak kampung yang memperoleh kesempatan untuk belajar, merantau, bekerja, berdakwah, mengajar, berorganisasi dan mengabdi.

Barangkali suatu hari nanti, ketika saya sudah tidak ada, tulisan ini dapat dibaca oleh anak cucu sebagai dokumentasi sederhana tentang dari mana mereka berasal dan bagaimana salah seorang leluhurnya mencoba menjalani kehidupan.

Sebab manusia pada akhirnya akan meninggalkan dunia, tetapi semoga nilai dan kebaikan yang pernah ditanam tidak ikut terkubur.

Kampung Kecil, Pelajaran Besar

Masa kecil saya berlangsung dalam suasana sederhana. Kampung Corenda bukan pusat kota dan bukan pula tempat dengan fasilitas pendidikan yang serba lengkap. Tetapi justru dari kesederhanaan itulah saya mendapatkan pelajaran kehidupan yang pertama.

Saya belajar di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Asy-Syifa Corenda. Di luar sekolah, saya belajar agama kepada para ulama di kampung. Salah seorang guru yang paling dekat dengan saya adalah ayah sendiri.

Dari beliau saya mengenal dasar-dasar nahwu dan sharaf. Lebih dari sekadar ilmu bahasa Arab, dari ayah saya belajar bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Rumah, masjid, surau, majelis dan kehidupan masyarakat juga merupakan sekolah.

Sejak kelas I hingga kelas VI, saya beberapa kali dipercaya menjadi ketua murid atau ketua kelas. Setelah tamat pada 1983, saya melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah Al-Ma'arif Leles dan dipilih menjadi Ketua Umum OSIS saat Kelas II MTs Swasta itu, kemudian melanjutkan pendidikan ke PGA Negeri Garut.

Di PGA Negeri Garut, kepercayaan sebagai ketua kelas dan kemudian Ketua Umum OSIS kembali diberikan. Pada usia yang masih sangat muda, saya belajar mengelola tanggung jawab dan berhadapan dengan berbagai karakter manusia.

Kini saya baru memahami bahwa kepemimpinan sebenarnya tidak dimulai ketika seseorang memperoleh jabatan formal. Kepemimpinan dimulai ketika seseorang dipercaya dan bersedia mempertanggungjawabkan kepercayaan tersebut.

Dari Mimbar Dakwah ke Ruang Kelas

Dakwah menjadi salah satu benang merah yang kemudian menyertai perjalanan hidup saya.

Sejak menjadi pelajar PGA Negeri Garut, saya mulai belajar menyampaikan ceramah agama. Saya tentu tidak merasa sebagai orang yang paling pandai berdakwah. Saya hanya berusaha menyampaikan apa yang saya ketahui sambil terus belajar memperbaiki diri.

Dari sana saya memahami bahwa dakwah bukan hanya keberanian berbicara. Dakwah juga membutuhkan ilmu, hikmah, kesabaran dan keteladanan.

Setelah menyelesaikan PGA Negeri Garut pada 1989, saya sempat melanjutkan pendidikan ke Jurusan Dakwah Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Namun jalan hidup membawa saya ke tempat lain.

Pada Januari 1990, saya merantau ke Ranah Minang.

Saya datang ke Koto Bangun, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat sebagai dai, muballigh dan penyuluh agama Islam melalui amanah dari Majelis Dakwah Islamiyah, Yayasan Muballigh Sumatera Barat dan Kantor Departemen Agama Kabupaten Lima Puluh Kota.

Saya datang sebagai orang Sunda ke tengah masyarakat Minangkabau.

Di sanalah saya belajar bahwa merantau bukan sekadar berpindah tempat. Merantau adalah proses memperluas diri, belajar menghargai perbedaan, dan menemukan makna pengabdian di tempat yang bukan tanah kelahiran.

Saya belajar satu falsafah Minangkabau yang kemudian terasa sangat dekat dengan perjalanan hidup:
"Dima bumi dipijak, di sinan langik dijunjuang." 
Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung.

Saya datang membawa akar Pasundan, tetapi belajar tumbuh bersama masyarakat Minangkabau.

Pendidikan: Dakwah yang Berjangka Panjang

Pada 1992, saya diangkat sebagai CPNS Pendidikan Guru Agama Islam dan mulai menjalani pengabdian sebagai guru di SD Negeri 32 Simpang Koto Bangun Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat.

Dari sinilah dunia pendidikan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saya.

Saya kemudian mendapat amanah sebagai kepala sekolah di sejumlah sekolah, antara lain SD Negeri 27 Kayu Gadang, SD Negeri 03 Lubuk Alai, dan SD Negeri 01 Batu Balang.

Saya semakin memahami bahwa mendidik adalah bentuk dakwah yang panjang.

Ceramah mungkin selesai setelah jamaah meninggalkan masjid. Tetapi pendidikan dapat meninggalkan jejak puluhan tahun.

Seorang guru mungkin hanya bertemu seorang anak selama beberapa jam dalam sehari. Namun kalimat yang disampaikan, teladan yang diberikan dan karakter yang dibentuk dapat memengaruhi kehidupan anak tersebut sepanjang masa.

Karena itu, saya tidak pernah melihat profesi guru hanya sebagai pekerjaan. Guru adalah amanah untuk ikut membentuk manusia.

Ketika Pengabdian Memasuki Birokrasi

Perjalanan berikutnya membawa saya ke lingkungan birokrasi dan pemerintahan.

Saya pernah menjadi pengawas TK/SD, staf pada Badan Pengawas Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota, Kasubag Agama pada Sekretariat Daerah, Kabid Teknologi Tepat Guna, Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak, Kabag Risalah dan Persidangan Sekretariat DPRD, hingga Kepala Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Lima Puluh Kota.

Saya juga pernah bertugas di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Pada 2017, saya melanjutkan pengabdian di Pemerintah Kabupaten Solok, antara lain sebagai Kabid PAUD dan DIKMAS, Kabag Kesra Sekretariat Daerah, dan Tenaga Ahli Bupati Solok Bidang Pendidikan dan Pembinaan SDM.

Jika direnungkan, jabatan-jabatan tersebut sesungguhnya mempertemukan saya dengan berbagai wajah masyarakat.

Dari pendidikan saya belajar bagaimana manusia dibentuk.

Dari birokrasi saya belajar bagaimana kepentingan publik harus dikelola.

Dari pemerintahan saya belajar bahwa kebijakan yang tertulis di atas kertas pada akhirnya harus menyentuh kehidupan manusia.

Karena itu, jabatan bagi saya bukanlah ukuran kemuliaan. Jabatan hanyalah ruang amanah yang suatu hari akan ditinggalkan.

Belajar Tidak Mengenal Usia

Di tengah perjalanan pekerjaan, saya berusaha untuk tidak berhenti belajar.

Saya menyelesaikan Program Diploma II Pendidikan Agama Islam IAIN Imam Bonjol Padang, kemudian S.1 Pendidikan Agama Islam STAIN Batusangkar, S.2 Magister Hukum STIH “IBLAM” Jakarta, dan pada 26 Februari 2020 menyelesaikan Program Doktor Pendidikan Islam UIN Imam Bonjol Padang.

Ketika kemudian semakin banyak bergelut di dunia hukum dan akademik, saya kembali menempuh pendidikan Ilmu Hukum dan menyelesaikannya pada 2023.

Pada tahun yang sama, perjalanan tersebut berlanjut ke dunia profesi: saya diangkat dan menjalani profesi sebagai advokat atau pengacara.

Bagi saya, menjadi advokat bukan sekadar memperoleh profesi baru. Ia merupakan konsekuensi dari proses belajar hukum sekaligus bentuk pengabdian baru kepada masyarakat.

Hukum tidak hanya berbicara tentang pasal dan peraturan. Hukum berbicara tentang manusia, hak, kewajiban, keadilan dan martabat.

Karena itu, profesi advokat semestinya dijalankan dengan integritas. Seorang advokat bukan hanya dituntut memahami hukum, tetapi juga memiliki keberanian moral, menjunjung etika, menjaga kepercayaan dan memperjuangkan kepentingan hukum klien dengan cara yang benar.

Saya menyadari bahwa menjadi advokat bukan berarti selalu memenangkan perkara. Ada perkara yang dapat dimenangkan, ada pula yang harus diterima hasilnya. Yang paling penting adalah menjalankan amanah secara profesional dan bertanggung jawab.

Dengan demikian, perjalanan saya di bidang hukum menjadi sebuah rangkaian: belajar hukum, mengajar hukum, menulis tentang hukum, dan kemudian menjalankan profesi hukum sebagai advokat.

Semakin banyak belajar, semakin saya menyadari bahwa ilmu manusia sesungguhnya sangat terbatas.

Karena itu, gelar dan profesi tidak semestinya menjadi mahkota. Keduanya adalah amanah.

Dari Birokrasi ke Dunia Akademik

Sejak sekitar 2021, saya semakin banyak menjalani aktivitas di dunia akademik.

Saya mengajar di STIH Putri Maharaja Payakumbuh, dan mendapat kesempatan menjadi dosen luar biasa di sejumlah perguruan tinggi, yaitu pada Program Magister Manajemen Institut Teknologi dan Bisnis Haji Agus Salim (ITBHAS) Bukittinggi dan UIN Sultan Syarif Kasim Riau.

Ruang kelas memberikan pengalaman yang berbeda. Jika dahulu saya berdiri di depan jamaah dengan mimbar, kini saya berhadapan dengan mahasiswa di ruang akademik.

Saya berusaha menyampaikan bukan hanya pengetahuan, tetapi juga nilai.

Mahasiswa hari ini adalah pemimpin masyarakat esok hari. Mereka akan menjadi guru, advokat, birokrat, pengusaha, akademisi dan berbagai profesi lainnya.

Karena itu, jika ada ilmu yang dapat saya titipkan kepada mereka, saya berharap ilmu tersebut menjadi amal yang terus mengalir meskipun suatu saat saya tidak lagi berada di ruang kelas.

Organisasi sebagai Sekolah Kehidupan

Selain pendidikan, birokrasi, hukum dan akademik, organisasi juga menjadi bagian penting dalam perjalanan saya.

Saya aktif di PGRI, termasuk dalam kepengurusan di tingkat cabang dan provinsi. Saya pernah mendapat amanah dalam bidang pengembangan karier serta hukum dan perlindungan profesi.

Saya juga aktif dalam Majelis Ulama Indonesia, mulai dari tingkat Kabupaten Lima Puluh Kota hingga kemudian mendapat amanah di MUI Provinsi Riau sebagai Wakil Sekretaris Komisi Pendidikan dan Kaderisasi.

Dalam perjalanan dakwah, saya juga mendapat kesempatan mengabdi melalui Persatuan Islam (PERSIS).

Saya pernah menjadi bagian dari kepengurusan PERSIS Sumatera Barat dan kemudian pada 7 Februari 2026 mendapat amanah sebagai Ketua Pimpinan Daerah PERSIS Kota Pekanbaru periode 2026–2031.

Saya menyebutnya sebagai amanah, bukan prestasi.

Sebab semakin banyak kepercayaan yang diterima seseorang, semakin banyak pula pertanggungjawaban yang harus dipikulnya.

Dakwah Tidak Mengenal Pensiun

Ada satu hal yang berusaha saya pertahankan di tengah perubahan pekerjaan dan lingkungan: dakwah.

Ceramah agama, khutbah Jumat, khutbah Idul Fitri, khutbah Idul Adha, tabligh akbar dan pengajian tetap menjadi bagian dari perjalanan saya. Saya percaya dakwah tidak mengenal pensiun.

Seseorang dapat pensiun dari sekolah. Dapat meninggalkan kantor. Dapat menyelesaikan masa jabatan. Dapat berganti organisasi.

Tetapi selama masih memiliki kemampuan untuk menyampaikan kebaikan, dakwah tetap memiliki ruang.

Ketika menjadi guru, dakwah dilakukan melalui pendidikan.

Ketika menjadi birokrat, dakwah dilakukan melalui amanah dan pelayanan.

Ketika menjadi akademisi, dakwah dilakukan melalui ilmu.

Ketika menjadi advokat, dakwah dilakukan melalui ikhtiar menegakkan keadilan dan memberikan bantuan hukum sesuai koridor profesi.

Ketika menjadi organisator, dakwah dilakukan melalui ukhuwah dan kaderisasi.

Inilah yang saya pahami sebagai dakwah bil-lisan sekaligus bil-hal: berbicara tentang kebaikan dan berusaha menghadirkannya dalam tindakan.

Menulis untuk Berdialog dengan Masa Depan

Selain berbicara dan mengajar, saya mencoba meninggalkan gagasan melalui tulisan.

Saya pernah menulis buku dan artikel tentang agama, pendidikan, hukum, ekonomi syariah, kebangsaan dan persoalan sosial.

Saya meyakini bahwa tulisan memiliki usia yang berbeda dengan penulisnya.

Ceramah mungkin selesai ketika jamaah meninggalkan ruangan. Tetapi tulisan dapat terus dibaca ketika penulisnya sudah tidak ada.

Karena itu, menulis bagi saya adalah bentuk dialog dengan masa depan.

Saya tidak berharap semua tulisan saya dianggap benar. Justru saya berharap generasi setelah saya berani membaca, mengkritik, memperbaiki dan mengembangkan gagasan yang pernah saya tuliskan.

Sebab ilmu seharusnya tidak berhenti pada satu generasi.

Keluarga adalah Muara

Di balik perjalanan panjang ini, ada keluarga yang menjadi tempat kembali.

Saya menikah dengan Nurainarti, perempuan asal Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Lima Puluh Kota. Dari pernikahan tersebut kami dikaruniai tiga anak: Zilal Afwa Ajidin, Farhan Alfaruq Ajidin dan Salsa Hauna Ajidin. 

Kini keluarga juga telah memasuki generasi cucu. Dari pasangan Zilal Afwa Ajidin dan Nafkhatul Wahidah telah lahir cucu perempuan Nahya Istari Afwa. Dan dari Pasangan Farhan Alfaruq Ajidin dan Nesa Maulani telah lahir Zayra Medine Alfaruqy yang juga perempuan.

Bagi saya, keluarga adalah amanah yang tidak kalah penting dibandingkan pekerjaan dan organisasi.

Apa arti perjalanan yang jauh jika seseorang kehilangan kedekatan dengan keluarganya?

Apa arti dikenal banyak orang jika orang-orang terdekat justru tidak merasakan manfaat kehadirannya?

Karena itu, pada akhirnya keluarga tetap menjadi tempat untuk kembali.

Tiga Tanah, Satu Pengabdian

Jika perjalanan hidup saya diringkas secara geografis, mungkin cukup tiga nama: Garut — Sumatera Barat — Riau.

Garut memberikan akar.
Sumatera Barat memberikan ruang untuk tumbuh.
Riau memberikan medan pengabdian berikutnya.

Saya tidak merasa harus memilih antara menjadi orang Sunda, belajar menjadi bagian dari masyarakat Minangkabau, dan kemudian hidup di tengah masyarakat Melayu Riau. Ketiganya justru menjadi kekayaan pengalaman.

Perjalanan tersebut mengajarkan bahwa Indonesia bukan dibangun oleh keseragaman, melainkan oleh kemampuan manusia untuk hidup bersama dalam keberagaman.

Dari tanah Pasundan saya belajar kesederhanaan.

Dari Ranah Minang saya belajar merantau dan beradaptasi.

Dari Riau saya belajar bahwa setiap tempat selalu memiliki ruang untuk berbuat baik.

Apa yang Sebenarnya Dicari?

Jika seluruh perjalanan hidup dilihat secara lahiriah, mungkin yang tampak hanyalah daftar panjang profesi dan jabatan: Guru, Kepala sekolah, Pengawas, Birokrat, Tenaga ahli, Dosen, Advokat,  Pengurus organisasi Dai dan Penulis serta bidang lainnya.

Tetapi jika dibaca lebih dalam, semuanya hanyalah wadah.

Ilmu adalah bekal.
Dakwah adalah jalan.
Jabatan adalah amanah.
Profesi adalah tanggung jawab.
Organisasi adalah ruang ukhuwah.
Keluarga adalah tempat kembali.
Dan hidup adalah kesempatan untuk memberi manfaat.

Saya tidak menganggap perjalanan itu sebagai tanda keberhasilan pribadi.

Saya justru melihatnya sebagai rangkaian kesempatan yang diberikan Allah SWT.

Sebab manusia tidak membawa jabatan ke dalam liang lahat.

Tidak membawa gelar.

Tidak membawa kartu nama.

Tidak membawa popularitas.

Yang dibawa adalah amal dan pertanggungjawaban.

Karena itu, ukuran keberhasilan hidup semestinya bukan semata-mata seberapa tinggi seseorang pernah berdiri, tetapi seberapa banyak orang yang menjadi lebih baik karena kehadirannya.

Sebuah Pesan untuk Anak Cucu

Jika suatu hari anak cucu saya membaca tulisan ini ketika saya sudah tidak berada di tengah-tengah mereka, saya tidak ingin mereka melihat kehidupan saya sebagai sesuatu yang sempurna.

Saya juga tidak ingin mereka merasa harus mengikuti seluruh jalan yang pernah saya tempuh.

Ambillah yang baik.

Tinggalkan yang kurang baik.

Perbaikilah kesalahan yang pernah saya lakukan.

Jika ada pesan yang ingin saya titipkan, pesannya sederhana:

Jangan pernah berhenti belajar. Jangan malu memulai dari bawah. Hormati orang tua dan guru. Jangan merasa lebih tinggi karena jabatan atau gelar. Hormati orang lain. Pegang amanah. Dan berusahalah agar kehadiran kita memberi manfaat.

Sebab manusia tidak pernah tahu kapan halaman terakhir hidupnya ditulis.

Yang dapat dilakukan adalah terus menanam. Menanam ilmu, menanam iman, menanam akhlak, menanam gagasan, menanam persaudaraan, dan menanam kebaikan.

Dari Corenda ke Pekanbaru

Kini, setelah perjalanan yang panjang, saya semakin memahami bahwa merantau bukan sekadar meninggalkan kampung halaman.

Merantau adalah memperluas medan kemanfaatan tanpa kehilangan akar.

Dari Corenda ke Garut. Dari Garut ke Kapur IX. Dari Lima Puluh Kota ke Solok. Dari Payakumbuh ke Pekanbaru. Dari mimbar ke ruang kelas. Dari sekolah ke birokrasi. Dari birokrasi ke kampus. Dari kampus ke profesi hukum. Dari organisasi kembali ke mimbar.

Semuanya merupakan rangkaian perjalanan yang belum tentu selalu berhasil, tetapi selalu memberikan pelajaran.

Saya tidak tahu seberapa berarti jejak yang telah saya tinggalkan.

Namun saya ingin percaya bahwa setiap ilmu yang pernah dibagikan, setiap anak didik yang pernah dibimbing, setiap mahasiswa yang pernah diajar, setiap jamaah yang pernah diingatkan, setiap orang yang pernah dibantu, setiap perkara yang pernah diperjuangkan sesuai koridor hukum, setiap gagasan yang pernah ditulis, dan setiap kebaikan kecil yang dilakukan dengan ikhlas, semoga kelak menjadi saksi yang baik di hadapan Allah SWT.

Jejak yang Tertinggal

Biografi bukan sekadar catatan tentang tempat kelahiran, sekolah, pekerjaan, jabatan, gelar atau profesi.

Biografi yang paling penting adalah jejak nilai.

Saya adalah seorang anak petani dari sebuah kampung kecil di Garut yang kemudian diberi kesempatan untuk berjalan jauh. Pernah menjalani berbagai profesi, juga berorganisasi, menulis dan terus berusaha berdakwah.

Tetapi semua itu pada akhirnya bukanlah sesuatu yang perlu dibanggakan secara berlebihan.

Sebab semakin panjang perjalanan, semestinya semakin rendah hati seseorang.

Semakin banyak ilmu, semestinya semakin sadar bahwa masih banyak yang tidak diketahui.

Semakin banyak amanah, semestinya semakin takut untuk menyalahgunakannya.

Dan semakin dekat seseorang kepada akhir perjalanan, semestinya semakin banyak ia bertanya kepada dirinya sendiri:

Apa yang sudah saya tinggalkan?

Bukan berapa banyak orang mengenal nama saya.

Bukan berapa tinggi jabatan saya.

Bukan berapa banyak gelar yang tertulis di belakang nama.

Tetapi apakah pernah ada manusia yang hidupnya menjadi sedikit lebih baik karena saya?

Jika jawabannya ada, sekecil apa pun, saya patut bersyukur.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak akan dikenang karena seberapa banyak ia memiliki, melainkan karena seberapa banyak ia memberi.

Dari Tanah Pasundan saya berangkat. Di Ranah Minang saya ditempa. Di Bumi Lancang Kuning saya kembali menyemai bakti. Tiga tanah. Tiga ruang budaya. Satu perjalanan. Dan satu orientasi:
"Ilmu untuk menerangi, dakwah untuk mengingatkan, jabatan untuk mengabdi, profesi untuk memberi manfaat, organisasi untuk memperkuat ukhuwah, keluarga untuk kembali, dan kehidupan untuk berbuat baik."

Saya tidak tahu kapan perjalanan ini akan berakhir.

Tetapi selama Allah masih memberikan kesempatan, saya ingin terus belajar, terus memperbaiki diri, terus berdakwah dan terus berusaha menjadi manusia yang bermanfaat.

Sebab ketika suatu hari langkah ini benar-benar berhenti, saya tidak ingin meninggalkan kemegahan.

Saya hanya ingin meninggalkan kebaikan.

Dan mungkin itulah makna paling sederhana dari sebuah perjalanan hidup: bukan tentang seberapa jauh kita pergi, tetapi tentang seberapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan ketika kita pergi.***

Wallahu a'lam bish-shawab.

Refleksi Diri, 12 Rabi'ul Awal 1448/25 Agustus 2026.