Empat Anak, Satu Tekad, Satu Allah

A

Alseptri Ady

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:05 WIB

Empat Anak, Satu Tekad, Satu Allah

Kisah Inspiratif

Oleh: Suwarna Nazir

Usia 39 tahun seharusnya adalah usia ketika seorang perempuan mulai menikmati hasil dari perjuangan panjangnya, anak-anak yang mulai besar, rumah tangga yang mulai mapan, dan kehidupan yang mulai berjalan lebih tenang dari tahun-tahun sebelumnya. Namun bagi Aku, usia 39 tahun adalah usia ketika tanah di bawah kakinya tiba-tiba amblas, dan ia harus belajar berdiri kembali.

Sendirian, dengan empat anak yang menggantungkan seluruh dunia mereka dipundak ku.

Suami ku dirawat di Rumah Sakit Lancang Kuning karena sakit jantung. Delapan minggu, waktu yang cukup panjang untuk berdoa, untuk berharap, untuk meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik bagi ku.

Dan ketika dokter akhirnya mengizinkan sang suami pulang, rasa syukur pun tak terhingga, namun dua hari setelah pulang, jantung itu tidak kuat lagi. Dibawa kembali ke rumah sakit dan kali ini, suami ku tidak kembali ke rumah namun ke sang maha pencipta.

"Ketika tanah amblas di usia termuda, seorang ibu belajar bahwa kekuatan sesungguhnya lahir dari cinta kepada anak-anaknya."

Aku berdiri diambang pintu kehidupan yang baru dengan empat anak di sisinya, yang pertama baru kelas 1 SMA, yang kedua kelas 2 SMP, yang ketiga kelas 3 SD, dan yang bungsu baru kelas 1 SD.

Anak-anak yang masih sangat kecil, masih sangat butuh, masih sangat belum mengerti betapa beratnya beban yang kini harus ditanggung oleh satu pasang bahu ibunya.

Aku menangis, ya, tentu saja menangis. Namun aku tidak berlama-lama di sana. Karena empat pasang mata itu memandang ku penuh harapan, dan di dalam pandangan mereka ada pertanyaan yang tidak terucap namun sangat nyata: Ibu, kita akan baik-baik saja, bukan?

Aku memutuskan untuk menjawab pertanyaan itu bukan dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan.

Aku adalah seorang guru PNS, sebuah status yang di satu sisi memberikan kestabilan, namun di sisi lain berarti penghasilan yang tidak akan pernah berlebih untuk membiayai empat anak yang semuanya masih butuh sekolah, butuh makan, butuh tumbuh.

Matematika hidup ku tidak pernah mudah dijumlahkan. Namun aku tidak pernah belajar untuk menyerah bahkan sejak jauh sebelum ujian terberat ini datang.

"Ibu yang pernah melewati kesempitan tahu satu hal bahwa ia bisa melewatinya, demi empat pasang mata yang menunggu."

Aku ingat masa SD ku yang tidak mudah, orang tua ku sakit parah, keadaan yang serba terbatas, namun ada cita-cita yang tidak mau padam: ingin menjadi guru.

Cita-cita itu aku kejar dengan tekad yang tidak kenal kata menyerah, melewati semua kesulitan satu per satu, hingga akhirnya ia berhasil menyelesaikan pendidikan guru dan menjadi apa yang selama ini aku impikan.

Maka ketika kesulitan datang lagi di usia 39 tahun, aku tahu bahwa aku pernah melewati kesempitan sebelumnya dan aku bisa melakukannya lagi.

Hari-hari berlalu dengan ritme yang tidak pernah ringan. Pagi mengajar, sore mendampingi anak belajar, malam memikirkan kebutuhan esok hari.

Tidak ada yang membantu, tidak ada tangan lain yang meringankan. Namun di setiap malam yang terasa terlalu panjang, di setiap subuh yang terasa terlalu berat untuk disambut, Aku kembali kepada satu-satunya sandaran yang tidak pernah goyah hanya kepada Allah SWT. 

"Dan Allah tidak pernah mengecewakan hambanya yang bersungguh-sungguh."

Satu per satu, anak-anak ku tumbuh, mereka menapaki tangga pendidikan yang tidak pernah mudah, namun selalu berhasil dilewati. Dan kemudian, hasil dari doa-doa tengah malam ku itu mulai terlihat satu per satu dengan cara yang membuat aku harus duduk sejenak dan menangis syukur yang tidak bisa aku tahan.

"Allah tidak pernah mengecewakan hamba yang bersungguh-sungguh, dari doa tengah malam lahirlah anak-anak yang membanggakan."

Keempat anak ku, tiga perempuan dan satu laki-laki. Semua berhasil meraih gelar sarjana.

Tidak cukup sampai di sana, salah satunya bahkan menyelesaikan program S3 dan kini menjadi dosen di sebuah universitas di Pekanbaru.

Dari seorang ibu guru PNS yang ditinggal suami dengan empat anak kecil dan gaji yang pas-pasan, lahirlah seorang doktor yang mengajar di perguruan tinggi. Dan anak sulungku mengikuti jejak ku sebagai seorang guru TK, anak lelaki satu satunya juga sebagai pemimpin redaksi (pimred) sebuah media di Riau, serta si bungsu juga menjadi perawat di rumah sakit di Pekanbaru

Siapa yang berani mengatakan bahwa doa seorang ibu tidak memiliki kekuatan yang nyata? Keberkahan itu terus mengalir ke generasi berikutnya. Cucu-cucu ku tumbuh cerdas dan berprestasi bahkan sudah ada yang menyelesaikan kuliah dan menjadi PNS di Kementerian.

Aku yang dulu berdiri gemetar di depan pintu rumah sakit dengan empat anak kecil di sisiku, kini duduk dengan tenang menyaksikan pohon yang ia tanam dengan air mata dan keringat itu berbuah lebat, meneduhi generasi demi generasi.

Kini hari-hari ku diisi dengan kegiatan yang bermakna, aktif di Persatuan Purna Bakti, hadir di majelis-majelis taklim, bergaul dengan orang-orang baik yang seakidah dan senantiasa mengingatkannya kepada Allah. Bagi ku, kesehatan bukan hanya soal fisik, ia tentang siapa yang kita duduki bersama, tentang apa yang mengisi pikiran dan hati kita setiap hari.

Kepada keempat anak ku, aku hanya menitipkan satu doa yang di ulang setiap malam,

"Bersatulah, saling tolong menolong, jadilah anak-anak yang sholeh dan sholehah, dan setelah aku tiada — doakanlah aku."

Aku mengajarkan kita bahwa single parent bukan berarti lemah, ia berarti dua kali lebih kuat, karena tidak ada pilihan lain selain kuat.

Bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam keterbatasan namun dengan penuh cinta dan doa, akan tumbuh menjadi manusia yang jauh melampaui keterbatasan itu.

Dan bahwa Allah, bagi mereka yang benar-benar berserah, tidak pernah tidur, dan tidak pernah lupa.

"Single parent bukan berarti lemah, ia lebih kuat karena cinta dan doa tidak pernah mengenal keterbatasan." 

 

Suwarna Nazir, Penulis: Mantan Guru TK Pertiwi Tanjung Pinang dan Guru TK Adhyaksa Pekanbaru

Editor: Alseptri Ady