Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.
PENETAPAN Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah pada Rabu, 27 Mei 2026 menjadi momentum penting bagi umat Islam Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Agama bersama ormas-ormas Islam akhirnya berada pada satu kesepahaman dalam menetapkan 1 Zulhijjah 1447 H jatuh pada Senin, 18 Mei 2026.
Kesepakatan ini bukan sekadar penetapan tanggal keagamaan, tetapi cermin kedewasaan intelektual, spiritual, dan sosial umat Islam Indonesia. Di tengah kuatnya polarisasi sosial dan derasnya perdebatan publik, umat Islam justru menunjukkan bahwa perbedaan metodologi tidak harus melahirkan perpecahan.
Secara ilmiah, penetapan awal bulan hijriah merupakan hasil integrasi antara ilmu astronomi, matematika falak, observasi rukyatul hilal, dan kajian fikih. Pendekatan hisab menggunakan perhitungan astronomis modern terkait posisi matahari, bulan, elongasi, dan visibilitas hilal, sedangkan rukyat menegaskan pentingnya observasi empiris di lapangan. Dengan demikian, sidang isbat sejatinya merupakan forum akademik-keagamaan yang memadukan wahyu, sains, dan ijtihad ulama.
Tradisi keilmuan Islam sejak masa klasik memang tidak pernah memisahkan agama dan ilmu pengetahuan. Tokoh-tokoh Muslim seperti Al-Biruni dan Al-Khawarizmi telah membuktikan bahwa astronomi berkembang pesat dalam peradaban Islam. Karena itu, kesepakatan Idul Adha tahun ini sekaligus menjadi bukti bahwa Islam memiliki fondasi ilmiah yang kuat dalam menentukan praktik ibadah.
Secara filosofis, Idul Adha mengajarkan pengorbanan ego demi kemaslahatan bersama. Nabi Ibrahim AS menunjukkan bahwa kepatuhan kepada Allah berada di atas kepentingan pribadi. Dalam konteks kehidupan umat, semangat itu tercermin dalam kemampuan menempatkan persatuan di atas perbedaan teknis-metodologis.
Secara religius, Al-Qur’an mengingatkan agar umat Islam tidak terpecah-belah. Perbedaan ijtihad merupakan rahmat intelektual, tetapi ukhuwah tetap menjadi tujuan utama. Dari sisi historis, tradisi Islam Indonesia sejak dahulu dibangun di atas musyawarah, moderasi, dan penghormatan terhadap perbedaan pandangan.
Sementara secara sosiologis dan psikologis, kesamaan pelaksanaan Idul Adha menghadirkan ketenteraman kolektif. Masyarakat dapat melaksanakan puasa Arafah, takbiran, salat Id, dan ibadah kurban secara serentak tanpa kebingungan maupun ketegangan sosial.
Idul Adha 2026 bukan hanya tentang kesamaan tanggal, tetapi tentang kemenangan akal sehat, ilmu pengetahuan, dan persatuan umat. Ketika pemerintah dan ormas Islam mampu berjalan dalam satu irama, sesungguhnya yang sedang dibangun adalah fondasi peradaban Islam Indonesia yang dewasa, ilmiah, damai, dan bermartabat.
(Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Ketua Pimpinan Daerah Persatuan Islam (PERSIS) Kota Pekanbaru)