PEKANBARU, AmiraRiau.com – Sastra bukan sekadar rangkaian kata, melainkan jendela yang membuka wawasan, memperkaya imajinasi, dan membangun kepekaan manusia. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Bicara Bunda: Merangkai Kata, Menyalakan Imajinasi Bersama Bunda Anie Din di Islamic School Riau Global Terpadu (IRGT), Jumat (18/9/2026).
Kegiatan yang mengusung tema A Literary Session with Bunda Anie Din itu menghadirkan sastrawan dan novelis Singapura, Rohanie Din atau Anie Din, sebagai narasumber utama.
Di hadapan ratusan guru, siswa, dan undangan, Anie Din berbagi pengalaman mengenai perjalanan kreatifnya sebagai penulis sekaligus mengajak generasi muda untuk menjadikan membaca dan menulis sebagai bagian dari kehidupan.
Kegiatan tersebut diikuti guru dan siswa IRGT School tingkat Grades 5–9, baik secara langsung maupun melalui jaringan daring.

Hadir dalam kegiatan itu sastrawan Dr. (Can) Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom., Ketua WPI Wilayah Riau, Hj. Tutin Apriyani, S.E. atau Nenny, serta aktivis LPIP, Rysma Widiarti dan dr. Evi Kamelia, Sp.A.
Sastra Membuka Jendela Kehidupan
Pimpinan IRGT, Drs. Jasman Jaiman, M.Ed., mengatakan, sekolah menghadirkan Anie Din untuk memberikan motivasi menulis kepada para guru dan siswa.
Menurut Jasman yang lulusan S2 Matematika di Inggeris ini, Anie Din memiliki pengalaman luas dalam menghasilkan dan menerbitkan karya sastra, baik berupa novel, cerpen, puisi maupun cerita anak. Aktivitas kesastraannya juga telah menjangkau berbagai wilayah di kawasan Asia Tenggara dan rumpun Melayu.
Dalam pemaparannya, Anie Din menekankan pentingnya membangun kebiasaan membaca dan menulis sejak dini.

Ia menyampaikan bahwa sastra dapat menjadi sarana untuk mengenali diri, memahami lingkungan, dan membangun karakter manusia.
“Sastra adalah jendela jiwa, yang membuka kita kepada dunia yang lebih manusiawi,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi landasan kegiatan literasi yang mengangkat tiga pokok bahasan, yakni sastra dan kehidupan, inspirasi bagi generasi muda, serta pembangunan karakter melalui literasi.
Melalui kegiatan ini, para peserta diajak memahami bahwa kemampuan mengolah kata tidak hanya diperlukan dalam dunia pendidikan, tetapi juga memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman Menulis Selama Puluhan Tahun
Anie Din kemudian membawa peserta menyusuri perjalanan panjangnya dalam dunia tulis-menulis.
Ia mengisahkan bahwa pada awalnya, dirinya hanya menulis berbagai aktifitas, kejadian disekitar kehidupan di lembaran kertas dan menyimpannya di dalam laci.
Puluhan tahun kemudian, catatan-catatan tersebut kembali dibuka dan dirangkai menjadi sebuah novel.
“Dulu, Bunda hanya menulis-nulis di halaman kertas dan disimpan di laci. Setelah 27 tahun, tulisan pada kertas-kertas itu Bunda coba rangkai dan jadilah novel,” tuturnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa proses kreatif membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan keberanian untuk terus mencoba dan belajar dari ketidak tahuan dalam hal menulis.
Anie Din juga mengisahkan pengalaman ketika salah satu novelnya ditolak oleh penerbit karena dianggap belum layak.
Namun, penolakan tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan menuju keberhasilan. Ketika sebuah sayembara penulisan novel digelar di Singapura, teman-temannya mendorong Anie Din untuk mengikuti kompetisi tersebut. Novel yang sebelumnya ditolak itu akhirnya meraih juara pertama.
“Alhamdulillah, novel Bunda keluar sebagai pemenang pertama. Bunda mendapat hadiah, kemudian novel itu diterbitkan dan memperoleh royalti. Bahkan novel tersebut laris terjual dan dicetak sampai empat kali,” ujarnya.
Setiap cetakan, katanya, berjumlah sekitar 4.000 eksemplar.
Penghargaan bagi Karya dan Kepuasan Batin
Dalam perbincangan dengan peserta, Anie Din juga mengungkapkan pengalaman memperoleh honorarium dari karya sastra. Pada masa lalu, sebuah puisi yang dimuat di surat kabar Singapura dapat memperoleh bayaran sekitar SGD 60 (sekarang Setara Rp. 840 ribu). Namun, menurutnya, perkembangan era digital telah mengubah pola penghargaan terhadap karya sastra di media massa.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa seorang penulis tidak seharusnya menjadikan uang sebagai satu-satunya tujuan berkarya.
“Karya-karya tentu menghasilkan uang. Tapi Bunda berkarya tak semata-mata untuk mencari uang. Ada kepuasan lain apabila karya Bunda dibaca oleh orang lain,” katanya.
Anie Din juga mengajak peserta mengenal kekayaan sastra Melayu lama, seperti pantun, syair, talibun, dan karmina. Pemaparan tersebut mendapat sambutan antusias dari para siswa dan guru. Dalam sesi tanya jawab, sejumlah peserta mengajukan pertanyaan mengenai proses menulis, pengalaman menerbitkan buku, dan karya-karya Anie Din.
Sastrawan Riau Berbagi Pengalaman
Sastrawan Fakhrunnas MA Jabbar yang hadir dalam kegiatan tersebut turut berbagi pengalaman tentang perjalanan kepenulisannya.
Saat berdialog dengan Anie Din, Fakhrunnas sempat menanyakan pengalaman memperoleh penghasilan dari karya sastra. Namun, Anie Din tidak menyampaikan secara terbuka nilai penghasilan yang pernah diterimanya.
Fakhrunnas kemudian mengisahkan pengalamannya ketika tulisan-tulisannya dimuat di sekitar seratus majalah dan surat kabar. Honorarium yang diperoleh dari tulisan-tulisan tersebut, awal nya sekedar hobby menulis tapi menghasilkan, dan pernah membantu membiayai kuliahnya selama empat hingga lima semester. Sehingga menjadi motivasi untuk terus berkarya.
Penulis yang telah menerbitkan 16 buku tersebut juga menyumbangkan sejumlah buku untuk perpustakaan sekolah, di antaranya Air Mata Batu, buku puisi yang pernah meraih penghargaan sebagai salah satu dari lima buku puisi terbaik di Indonesia.
Sementara itu, Ketua WPI Riau, Hj. Tutin Apriyani, S.E., usai acara, mengaku memperoleh inspirasi dari kegiatan tersebut.
“Acara ini cukup menarik. Pengalaman menulis Bunda benar-benar dapat memotivasi diri untuk menulis,” ujar Nenny yang sedang mempersiapkan penerbitan buku perdananya, Catatan Lepas Seorang Pramugari.
Sehari sebelumnya, Anie Din juga tampil dalam kegiatan Bincang Sastra: Pantun, Syair, Talibun dan Karmina di Perpustakaan Soeman Hs, Pekanbaru, sehari sebelum kegiatan di Sekolah Global Riau.
Acara yang digelar Komunitas Sastra Rumah Sunting pimpinan Kunni Masrohanti bersama Alang Khatulistiwa tersebut dihadiri puluhan sastrawan dan peminat sastra.
Kehadiran Anie Din dalam dua kegiatan sastra di Pekanbaru itu menjadi ruang pertemuan antara pegiat sastra Singapura dan Riau, sekaligus memperkuat interaksi kebudayaan dalam lingkungan.***
Penulis: HWN
Editor: Isman