Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.
DI TENGAH peradaban modern, istilah winning the future terdengar begitu akrab. Buku-buku motivasi, seminar pengembangan diri, hingga konten media sosial ramai mengajarkan strategi menaklukkan masa depan. Ukurannya sering kali seragam: karier mapan, finansial stabil, jejaring luas, dan pengakuan sosial. Masa depan dipahami sebagai sesuatu yang harus dimenangkan, dikejar, bahkan ditaklukkan.
Namun, di balik gemerlap orientasi duniawi itu, Islam menawarkan sudut pandang yang lebih utuh, lebih filosofis, sekaligus lebih menenangkan. Masa depan dalam perspektif iman bukan hanya soal apa yang akan kita miliki, tetapi lebih dalam lagi: akan menjadi apa diri kita di hadapan Allah. Di titik inilah konsep ar-rūḥ at-tanāfus yaitu semangat berlomba dalam kebaikan, menemukan relevansinya.
Semangat berlomba merupakan energi spiritual yang eering terlupakan. Al-Qur’an menggunakan diksi yang sangat kuat:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (Q.S. Al-Baqarah: 148).
Ayat ini menarik untuk direnungkan secara filosofis. Allah tidak sekadar memerintahkan berbuat baik, tetapi berlomba-lomba dalam kebaikan. Ada akselerasi, ada daya dorong, ada energi. Seolah Islam ingin mengatakan bahwa kebaikan bukan sesuatu yang dijalani dengan santai, apalagi sekadar rutinitas tanpa ruh. Ia harus dihidupkan dengan gairah, kesadaran, dan kesungguhan.
Dalam konteks sosiologis, manusia memang makhluk kompetitif. Sejak kecil kita diajarkan untuk bersaing: nilai terbaik, sekolah unggulan, jabatan strategis. Kompetisi menjadi mesin penggerak peradaban. Masalah muncul ketika kompetisi kehilangan arah moral. Persaingan berubah menjadi saling menjatuhkan, iri hati, bahkan konflik sosial.
Di sinilah keindahan konsep tanāfus. Ia bukan kompetisi destruktif, tetapi kompetisi konstruktif. Tujuannya bukan mengalahkan orang lain, melainkan mengalahkan kelemahan diri sendiri. Lawan utamanya bukan sesama manusia, tetapi kemalasan, kelalaian, dan hawa nafsu.
Secara historis, kemajuan peradaban selalu ditentukan oleh etos kerja dan mentalitas suatu masyarakat. Bangsa yang unggul adalah bangsa yang menghargai waktu, disiplin, dan kerja keras. Prinsip ini sejatinya selaras dengan pesan keagamaan. Islam sejak awal membentuk umat dengan kesadaran waktu dan produktivitas amal.
Allah menegaskan:
وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang berlomba.” (QS. Al-Muthaffifīn: 26).
Yang diperebutkan bukan sekadar simbol dunia, tetapi sesuatu yang abadi: surga dan ridha Ilahi. Ini adalah revolusi cara berpikir. Pertanyaan hidup tidak lagi semata:
“Bagaimana masa depan karier saya?”
melainkan,
“Bagaimana masa depan iman saya?”
Tidak lagi hanya:
“Apa yang sudah saya kumpulkan?”
tetapi,
“Apa yang sudah saya persiapkan?”.
Paradigma ini menghadirkan keseimbangan psikologis. Dunia tetap penting, tetapi bukan tujuan akhir. Ia menjadi sarana, bukan pusat orientasi.
Tiga Penyakit yang Melemahkan Semangat Kebaikan
Dalam realitas sosial, semangat berlomba dalam kebaikan sering meredup. Ada tiga penyakit mental yang diam-diam menggerogoti.
Pertama, rasa puas diri.
Merasa sudah cukup baik. Merasa ibadahnya sudah memadai. Padahal, dalam tradisi keimanan, justru orang-orang saleh paling merasa kurang. Para sahabat Nabi SAW, meskipun memiliki kedudukan tinggi, tetap diliputi rasa takut dan terus memperbaiki diri. Kesadaran spiritual selalu melahirkan kerendahan hati.
Kedua, budaya menunda kebaikan.
“Nanti saja.”
“Kalau sudah tua.”
“Kalau sudah longgar.”
Ini jebakan psikologis yang sangat halus. Manusia merasa memiliki waktu yang panjang, padahal hidup penuh ketidakpastian. Kematian adalah satu-satunya kepastian yang waktunya dirahasiakan.
Ketiga, terjebak kompetisi dunia tanpa batas.
Masyarakat modern mendorong manusia untuk terus membandingkan diri. Gaya hidup, pencapaian materi, bahkan citra digital menjadi arena perlombaan tak berujung. Ironisnya, energi besar dicurahkan untuk hal-hal fana, sementara investasi akhirat sering dikesampingkan.
Menumbuhkan Kembali Ar-Rūḥ at-Tanāfus
Semangat kebaikan bukan sesuatu yang statis. Ia perlu dipelihara, dirawat, dan dihidupkan.
Kesadaran akan singkatnya hidup adalah fondasi utama. Orang yang sadar waktunya terbatas akan hidup lebih fokus dan bermakna. Setiap hari menjadi kesempatan, bukan sekadar rutinitas.
Lingkungan sosial juga memainkan peran besar. Semangat itu menular. Berteman dengan pribadi-pribadi positif, rajin, dan berorientasi kebaikan akan memperkuat energi ruhiyah. Sebaliknya, lingkungan yang apatis cenderung melahirkan kelalaian kolektif.
Selain itu, manusia modern perlu belajar menetapkan target ruhiyah sebagaimana target duniawi. Tilawah, sedekah, ilmu, dan akhlak bukan sekadar wacana moral, tetapi agenda hidup yang terukur. Spiritualitas yang konkret lebih efektif daripada sekadar idealisme.
Tak kalah penting adalah memahami nilai amal kecil yang konsisten. Islam mendidik umat dengan logika keberlanjutan. Amal kecil namun rutin lebih bernilai daripada amal besar namun sporadis. Di sini terdapat pelajaran sosiologis dan psikologis bahwa perubahan besar lahir dari kebiasaan kecil yang dijaga.
Pada akhirnya, memenangkan masa depan dalam Islam bukan sekadar tentang pencapaian eksternal. Ia adalah kemenangan internal, yaitu menang melawan hawa nafsu, mnang melawan kemalasan, dan menang melawan kelalaian.
Kesuksesan dunia tanpa keselamatan akhirat adalah kemenangan semu. Sebaliknya, kehidupan sederhana namun penuh keberkahan bisa menjadi kemenangan hakiki.
Allah mengingatkan dengan nada reflektif:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.” (Q.S. Al-Hasyr: 18).
“Hari esok” dalam ayat ini bukan sekadar dimensi waktu, tetapi dimensi eksistensial. Ia berbicara tentang masa depan yang tidak pernah berakhir.
Semangat ar-rūḥ at-tanāfus mengajarkan kita untuk hidup aktif, progresif, dan penuh makna. Berlomba dalam shalat yang lebih khusyuk. Berlomba dalam sedekah yang lebih tulus. Berlomba dalam ilmu yang lebih luas. Berlomba dalam akhlak yang lebih indah.
Karena masa depan tidak dimenangkan oleh angan-angan, melainkan oleh kesungguhan. Bukan oleh keinginan, tetapi oleh tindakan.
Di tengah dunia yang semakin kompetitif, manusia beriman tidak anti-kompetisi. Ia hanya memastikan bahwa kompetisinya tidak kehilangan arah. Bahwa yang dikejar bukan sekadar dunia, tetapi keberkahan hidup dan keselamatan abadi.
Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak lelah memperbaiki diri, tidak jenuh menanam kebaikan, dan tidak lalai menyiapkan masa depan sejati.
Wallāhu a‘lam.
( Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Dai, Akademisi, Pemerhati Kebijakan Publik dan Pemerhati Pendidikan Karakter)