Oleh: Hasrul Sani Siregar, MA
CHINA dalam kebijakan luar negerinya menerapkan apa yang disebut dengan kebijakan satu China (one China policy) untuk seluruh Negara yang melakukan hubungan diplomatic dengan negeri Tiongkok tersebut dan tidak terkecuali Taiwan yang oleh China merupakan provinsinya yang dikemudian hari akan bergabung dalam wilayah China sebagaimana Hongkong dan Macau. Kebijakan satu China merupakan prinsip geo-politik dan geo-strategis yang menyatakan bahwa hanya ada satu negara yaitu China yang terpusat di Beijing dan Taiwan merupakan bagian dari wilayah China yang tidak berdaulat.
Negara-negara yang ingin menjalin hubungan diplomatik resmi dengan China harus mengakui prinsip demikian dan secara umum berarti tidak boleh mengakui Taiwan sebagai negara merdeka, berdaulat dan tidak melakukan hubungan diplomatik dengan Taiwan. Negara lain yang ingin menjalin hubungan diplomatik secara resmi dengan China harus mematuhi kebijakan demikian. Sebaliknya, negara yang membuka hubungan diplomatik secara resmi dengan Taiwan harus memutuskan hubungan diplomatik dengan China. Itu prinsip yang dilakukan oleh China dalam hal kebijakan satu China.
Dalam beberapa kejadian, ketegangan di wilayah semenanjung Taiwan semakin menegangkan ketika beberapa pesawat tempur dan kapal perang dari China mendekati perairan Taiwan. Hingga saat ini pertanyaan yang sering mengemuka adalah apakah China akan segera menginvasi Taiwan atau sebaliknya sebagai penekan terhadap Taiwan yang sering mengundang ketegangan dengan Tiongkok. Isu yang demikian terus menghantui Taiwan, jika sewaktu waktu China akan menginvasi Taiwan yang dianggap oleh China sebagai Provinsi yang membandel dan Provinsi yang membangkang terhadap China. China tentu akan dengan berbagai pertimbangan yang jika menginvasi Taiwan akan menyurut perang di semenanjung Taiwan serta wilayah sekitarnya. China tetap menerapkan kebijakan kebijakan satu China (one China policy) yang dianggap Taiwan sebagai upaya konfrontasi dan menjadi ancaman di semenanjung Taiwan.
Apa dampaknya jika China berani menginvasi Taiwan?. Tentu Taiwan yang menjadi salah satu Aliansi dan sekutu Amerika Serikat akan meminta bantuan untuk menghalau China jika negara tersebut tetap menginvasi Taiwan. Tentu negara-negara sekitarnya akan turut terdampak dari konflik China dan Taiwan yang oleh China menjadi Provinsinya. Tentu Negara seperti Jepang dan Korea Selatan akan terdampak jika konflik China dan Taiwan yang juga merupakan tetangga terdekat di kedua negara tersebut. Selain bersitegang dengan Taiwan, China juga masih berselisih perairan atas pulau-pulau dengan Jepang di wilayah perbatasan (laut kuning). Bagaimana peran Rusia sebagai negara yang secara tradisional telah menjalin hubungan dengan China. Dalam konflik antara China dan Taiwan tersebut, sampai sejauh ini, Rusia masih memantau perkembangan yang terjadi di wilayah semenanjung Taiwan dan wilayah sekitarnya.
Secara militer, tentu Taiwan bukan tandingan dari China. Namun China masih akan berpikir untuk melakukan invasi ke Taiwan dengan berbagai pertimbangan. Salah satu pertimbangannnya adalah posisi Amerika Serikat yang tetap mendukung Taiwan dalam konflik dengan China. Aliansi militer Amerika Serikat dan Taiwan dalam bentuk bantuan peralatan militer dan dukungan penuh Amerika Serikat terhadap Taiwan jika diinvasi oleh China. Bagi Amerika Serikat, Cina merupakan negara yang perlu diawasi dalam hal menjaga perimbangan kekuatan (balance of power) khususnya dalam hal kekuatan militer khususnya di semenanjung Taiwan dan sekitarnya. China merupakan negara yang cukup kuat tidak saja secara ekonomi, namun juga dalam hal kekuatan militer khususnya di kawasan Asia Pasifik. Di tambah lagi kekuatan China yang semakin kuat dengan adanya kerjasama militer dengan Rusia (Aliansi militer Rusia-China).
etegangan militer di semenanjung Taiwan akan menjadi unjuk kekuatan diantara kekuatan militer salah satunya Amerika Serikat dan Rusia. Rusia berperan dan menjadi aliansi militer dengan China. Selama ini sudah terbangun aliansi militer antara China dan Rusia dalam konflik di Laut China Selatan (LCS) dan ketegangan antara China dan Jepang. China bersitegang dengan Taiwan di semenanjung Taiwan yang akan menyeret kekuatan militer Rusia dan Amerika Serikta. Rusia beraliansi militer dengan China dan Amerika Serikat mendukung Taiwan yang berhadapan dengan China.
Latihan militer Rusia dan China menjadi agenda rutin. Kerjasama militer Rusia dan China dalam latihan militer bersama tentu secara tidak langsung akan mempertemukan dua kekuatan militer yaitu Amerika Serikat dan Rusia dalam upaya mencari pengaruh kepentingan khususnya di semenanjung Taiwan. Pada akhirnya pengaruh kedua kekuatan militer Rusia dan Amerika Serikat akan mempengaruhi konstelasi politik antara China dan Taiwan yang dianggap China sebagai Provinsinya bukan sebagai negara berdaulat seperti halnya Hongkong dan Macau.***
(Hasrul Sani Siregar, MA. Penulis; Alumni Hubungan Antarabangsa, IKMAS, UKM, Bangi Selangor Malaysia/Widyaiswara di BPSDM Provinsi Riau)