Oleh: Hasrul Sani Siregar, MA
HINGGA di hari kesembilan konflik militer Iran dan Amerika Serikat-Israel, tidak membuat Iran tunduk. Diawali dengan serangan sepihak Amerika Serikat-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 lalu yang kemudian tidak beberapa lama di balas kembali oleh Iran, ini menunjukkan bahwa Iran memiliki persiapan dan kekuatan untuk melawan agresi oleh Amerika Serikat dan sekutunya Israel. Iran sebagai kekuatan militer terkuat di Timur Tengah (Asia Barat) tentu memiliki tanggungjawab untuk membalasnya.
Beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara teluk tak terlepas dari serangan balasan Iran dan juga ke Israel secara langsung yang menjadi target utama Iran setelah perang 12 hari dengan Israel pada juni tahun 2025. Serangan balasan Iran ke Israel telah mengubah posisi keamanan dan geo-strategis Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Perarng jilid kedua telah terjadi dan praktis hanya Iran yang berani melawan Israel ketika negara negara di Timur Tengah lainnya tidak berani menyerang Israel secara langsung. Dan serangan balasan Iran tersebut akan membuka konflik di kawasan Timur Tengah yang mana masalah konflik Israel dan Hamas (Palestina) belum selesai.
Serangan balasan Iran ke Israel dan juga ke pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara teluk dikhawatirkan akan menimbulkan konflik secara meluas di wilayah sekitarnya seperti Turki dan Azerbaizan yang juga memiliki pangkalan militer Amerika Serikat di negara yang bertetangga dengan Iran. Balasan militer ke Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di Negara-negara teluk lainnya di klaim oleh Iran telah sesuai dengan Piagam PBB pasal 51 yang berbunyi “tidak ada ketentuan dalam piagam ini yang dapat mengurangi hak membela diri yang melekat pada individu atau kolektif jika terjadi serangan bersenjata terhadap anggota PBB, sampai Dewan Keamanan mengambil tindakan yang diperlukan untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional”.
Dapat dibayangkan kekuatan Iran yang ada sampai saat ini masih bertahan dan semakin kuat walaupun pemimpin tertingginya wafat, Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan tak terduga oleh Amerika Serikat dan Israel yang waktu itu masih dalam perundingan. Dan Iran menjadi satu satunya Negara di Timur Tengah yang berani melawan kekuatan Israel berbanding Negara-negara di kawasan Timur Tengah lainnya yang hanya diam dan malahan memberikan fasilitas berupa pangkalan militer bagi Amerika Serikat. Teheran sendiri telah memperingatkan berulang ulang bahwa bahwa setiap serangan terhadap negaranya akan dibalas. Dan terbukti Iran akan menyerang jika diserang dan itu juga terjadi dalam perang 12 hari tahun 2025 yang didahului oleh penyerangan oleh Israel ke Iran.
Oleh sebab itu, kekuatan militer Iran masih sangat kuat yang juga di dukung oleh mitra militernya yaitu Rusia, China dan Korea Utara, walaupun secara langsung tidak mendukung secara militer, namun dalam bentuk pertukaran intelijen dan dukungan diplomatik di forum-forum Internasional seperti dalam forum Perserikatan bangsa-bangsa (PBB). Kekuatan Iran juga di dukung oleh adanya latihan bersama antara Iran, Rusia dan China yang membuat Iran semakin percaya diri terhadap setiap agresi yang dilakukan Amerika Serikat maupun Israel. Latihan militer antara Iran dengan dua negara sekutu terdekatnya yaitu Rusia dan China tersebut telah meningkatkan ketegangan dengan Amerika Serikat dengan hadirnya armada laut Rusia dan China. Latihan militer tersebut dilakukan sebelum meletusnya perang Amerika Serikat-Israel dan Iran yang diawali dengan penyerangan Israel-Amerika Serikat-Israel ke Iran.
Melihat kekuatan Iran secara militer dan persenjataan walaupun diembargo secara politik, ekonomi dan militer sejak revolusi islam tahun 1979, tidak membuat Iran jatuh, namun tetap diperhitungkan di kawasan Timur Tengah. Jauh sebelumnya, Iran sudah melalukan kerjasama dan hubungan militer dengan Uni Sovyet hingga militer Rusia saat ini. Iran merupakan sekutu Rusia di kawasan Timur Tengah, sebagai penyeimbang dari kekuatan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah yang memiliki beberapa pangkalan militer di Negara-negara teluk seperti Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Vradimir Putin dalam beberapa kesempatan menyebut bahwa aliansi militer yang dibangun dengan Iran salah satunya adalah untuk mengantisipasi dan mengimbangi strategi Amerika Serikat yang sudah berniat menambah kekuatan maritimnya kawasan di Timur Tengah.
Oleh karena itulah Rusia dan Iran ingin mempertahankan hubungan dengan membentuk aliansi militer bersama. Moskow dan Teheran telah bersepakat melakukan kerjasama dalam membangun persenjataan bagi Iran seperti pabrik drone di Rusia yang dapat memproduksi ribuan drone per tahun. Rata rata Drone yang digunakan oleh Iran untuk menyerang Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di negara negara teluk merupakan produksi dari Rusia sebagai mitra aliansi militer Rusia dan Iran. Selain drone, Rusia dan Iran juga bekerjasama dalam pembuatan jet tempur militer canggih, helikopter, dan sistem pertahanan udara. Oleh sebab itu kekuatan militer Iran akan terus didukung oleh Rusia yang menjadi mitra strategisnya di kawasan Timur Tengah (Asia Barat).***
(Hasrul Sani Siregar, MA. Penulis; Alumni Hubungan Antarabangsa, IKMAS, UKM, Selangor Malaysia/Widyaiswara di BPSDM Provinsi Riau)