Kolaborasi Mendidik Akhlak Anak: Sinergi Guru di Sekolah dan Orang Tua di Rumah

A

administrator

Jumat, 26 Desember 2025 | 00:00 WIB

Kolaborasi Mendidik Akhlak Anak: Sinergi Guru di Sekolah dan Orang Tua di Rumah

Oleh: Dr. Adv. Asep Ajidin, S.Pd.I., M.H.

Al-ummu madrasatul ūlā yang dimaknai bahwa ibu adalah sekolah pertama. Namun sekolah kehidupan tidak berhenti di rumah. Ia berlanjut di ruang kelas, di bawah bimbingan guru. Ketika rumah dan sekolah berjalan seirama, di sanalah akhlak anak tumbuh kokoh.

Pendidikan akhlak selalu menjadi jantung peradaban. Sejarah menunjukkan, runtuh atau bangkitnya sebuah bangsa tidak semata ditentukan oleh kecanggihan ilmu dan teknologi, tetapi oleh kualitas akhlak generasinya. Dalam konteks inilah, kolaborasi antara guru di sekolah dan orang tua di rumah bukan sekadar pilihan, melainkan keniscayaan.

Akhlak bukanlah mata pelajaran yang selesai diajarkan dalam satu jam pelajaran. Ia adalah proses panjang pembiasaan, pengulangan, dan keteladanan. Karena itu, pendidikan akhlak tidak bisa didelegasikan sepihak kepada sekolah, apalagi sepenuhnya dibebankan kepada guru.

Demikian pula, orang tua tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan ekosistem pendidikan yang sehat.
Rasulullah SAW menegaskan fondasi awal pendidikan manusia melalui sabdanya:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah…”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Fitrah ini bersifat netral dan potensial. Ia akan tumbuh subur bila lingkungan rumah dan sekolah selaras dalam nilai, namun dapat menyimpang bila anak menerima pesan moral yang saling bertentangan. Anak yang diajarkan kejujuran di sekolah, tetapi menyaksikan kebohongan dilegalkan di rumah, akan mengalami kebingungan nilai yang serius.

Di sekolah, guru menempati posisi strategis sebagai figur otoritas moral di ruang publik. Guru bukan hanya penyampai ilmu pengetahuan, tetapi juga pendidik karakter. Cara guru berbicara, menegur, menghargai perbedaan, dan menegakkan keadilan adalah “kurikulum hidup” yang diamati murid setiap hari.

Ulama klasik telah lama mengingatkan prinsip dasar pendidikan:
الأدبُ قبلَ العلمِ
Adab lebih dahulu daripada ilmu.
Anak mungkin lupa rumus matematika atau definisi teori, tetapi ia hampir tidak pernah lupa bagaimana gurunya memperlakukan dirinya. Sikap empatik, ketegasan yang adil, dan ketulusan guru sering kali membekas jauh lebih lama daripada isi buku pelajaran.

Jika guru menjadi teladan di ruang publik, maka orang tua adalah cermin paling jujur di ruang privat. Rumah adalah laboratorium pertama pembentukan akhlak. Di sanalah anak belajar tentang makna kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, dan kasih sayang, bukan dari ceramah panjang, melainkan dari contoh nyata.

Anak memperhatikan bagaimana orang tua menepati janji, menyelesaikan konflik, mengelola emosi, dan memperlakukan orang lain. Ketika sekolah menanamkan disiplin, tetapi rumah membiarkan kelalaian, pesan pendidikan menjadi timpang. Anak pun belajar satu hal yaitu nilai bisa dinegosiasikan sesuai kepentingan.

Kolaborasi antara guru dan orang tua bukan sekadar formalitas pertemuan wali murid, melainkan upaya menyatukan nilai dan menyamakan arah pendidikan. Kolaborasi yang ideal setidaknya mencakup empat hal utama. Pertama, komunikasi terbuka dan rutin. Komunikasi tidak hanya dilakukan saat anak bermasalah, tetapi juga ketika anak menunjukkan perkembangan positif. Apresiasi bersama memperkuat motivasi anak.

Kedua, kesepakatan nilai akhlak. Nilai dasar seperti kejujuran, tanggung jawab, sopan santun, empati, dan disiplin harus diterapkan konsisten di rumah dan sekolah.

Ketiga, bahasa pendidikan yang selaras. Teguran, pujian, dan bentuk disiplin tidak saling meniadakan. Apa yang dilarang di sekolah tidak dilegalkan di rumah.

Keempat, keteladanan bersama. Anak belajar lebih cepat dari apa yang ia lihat daripada apa yang ia dengar. Ketika guru dan orang tua sama-sama menjadi contoh, nilai akhlak menemukan pijakannya.

Di era gawai dan media sosial, tantangan pendidikan akhlak kian kompleks. Anak kini belajar bukan hanya dari guru dan orang tua, tetapi juga dari layar media yang tanpa guru dan tanpa akhlak. Algoritma tidak mengajarkan adab, dan popularitas sering kali mengalahkan nilai.
Dalam situasi ini, kolaborasi sekolah dan keluarga menjadi benteng terakhir. Mereka tidak boleh hanya menjadi pengamat, tetapi harus hadir sebagai penuntun nilai, penyeimbang informasi, dan penjaga nurani anak.

Mendidik akhlak anak bukan proyek individu, melainkan kerja peradaban dalam skala kecil. Ketika guru dan orang tua berjalan bersama, anak tidak hanya tumbuh menjadi cerdas, tetapi juga beradab. Sebab tujuan akhir pendidikan bukan sekadar mencetak generasi berpengetahuan, melainkan melahirkan manusia baik, yaitu manusia yang ilmunya menuntun, sikapnya menenangkan, dan akhlaknya meneduhkan kehidupan bersama.

*Disampaikan pada Parenting SD IT At-Taqwa Kel. Pangkalan Kerinci Kota, Kec. Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau, pada Jumat tanggal 19 Desember 2025.

(Dr. Adv. Asep Ajidin, S.Pd.I., M.H. Penulis; Dai, Advokat, Akademisi, Pemerhati Kebijakan Publik dan Pendidikan) Karakter)