Pakistan Accords

I

Isman

Minggu, 12 April 2026 | 08:51 WIB

Pakistan Accords

Oleh: Hasrul Sani Siregar, MA

ISLAMABAD, Pakistan akan menjadi tuan rumah dalam perundingan untuk mengakhiri konflik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel yang telah memasuki hari ke-40 sejak penyerangan sepihak oleh Amerika Serikat-Israel pada 28 Februari yang lalu terhadap Iran yang kemudian di balas oleh Iran dengan menyerang pangkalan Amerika Serikat di negara-negara teluk dan ke Israel. Proposal penghentian sementara atau gencatan senjata telah disepakati oleh kedua Negara yang diprakarsai oleh Pakistan. Gencatan senjata selama dua pekan kedepan merupakan kesepakatan yang telah disetujui.

Lebih kurang sepuluh syarat yang diajukan Iran yang sebelumnya lima belas syarat. Pemerintah Iran mengumumkan sepuluh syarat kepada Amerika Serikat sebagai dasar untuk mengakhiri perang secara damai dan komprehensif. Ke sepuluh syarat yang diajukan oleh Iran tersebut diantaranya yang sangat krusial yaitu pertama pengawasan Selat Hormuz dan pengakuan pengayaan uranium program nuklir secara damai, bukan untuk perang. Proposal perundingan Iran tersebut diajukan melalui perantara Pakistan sebagai tuan rumah dalam perundingan di tengah ketegangan yang memanas. Gencatan senjata selama dua pekan antara AS dan Iran mulai berlaku pada tanggal 8 April yang diperkirakan akan menentukan kelanjutan perundingan secara permanen atau perundingan tersebut akan menemui jalan buntu dan konflik berlanjut.

 Posisi Iran dalam perundingan di Pakistan tersebut memasukkan konflik Libanon untuk diselesaikan, namun pihak Israel menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut tidak mencakup konflik di Lebanon, sebuah posisi yang dibantah oleh Iran dan mediator Pakistan. Ini merupakan dilemma bagi pihak Iran dan juga Amerika Serikat untuk menyelesaikan konflik yang sudah lebih empat puluh hari. Dapat dibayangkan kekuatan Iran yang ada sampai saat ini masih bertahan dan semakin kuat walaupun pemimpin tertingginya wafat yaitu Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan tak terduga oleh Amerika Serikat dan Israel yang waktu itu masih dalam perundingan.

Iran yang saat ini dipimpin oleh anak Ayatollah Ali Khamenei yaitu Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei memiliki jika kepemimpinan yang diwariskan oleh ayahnya. Walaupun kehadiran beliau yang jarang tampil di depan publik, namun pemimpin tertinggi republic islam Iran  tersebut menjadi symbol perjuangan Iran melawan kekuatan Amerika Serikat dan sekutunya yaitu Israel serta Negara-negara teluk yang memiliki pangkalan militer yang juga memerangi Iran. Dan Iran menjadi satu satunya negara di Timur Tengah yang berani melawan kekuatan Israel berbanding negara-negara di kawasan Timur Tengah lainnya yang hanya diam dan malahan memberikan fasilitas berupa pangkalan militer bagi Amerika Serikat dan Israel. Teheran sendiri telah memperingatkan berulang ulang bahwa bahwa setiap serangan terhadap negaranya akan dibalas.

 Melihat kekuatan Iran secara militer dan persenjataan walaupun diembargo secara politik, ekonomi dan militer sejak revolusi islam tahun 1979, tidak membuat Iran jatuh, namun tetap diperhitungkan di kawasan Timur Tengah. Jauh sebelumnya, Iran sudah melalukan kerjasama dan hubungan militer dengan Uni Sovyet hingga militer Rusia saat ini. Iran merupakan sekutu Rusia di kawasan Timur Tengah, sebagai penyeimbang dari kekuatan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah yang memiliki beberapa pangkalan militer di Negara-negara teluk seperti Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

 Iran bersedia melakukan perundingan selama gencatan senjata dengan Amerika Serikat selama empat belas hari menjadi momentum yang sangat menentukan kelanjutan stabilitas di kawasan Timur Tengah (Asia Barat). Teheran meningkatkan tekanan terhadap Washington yang salah satunya untuk mencairkan seluruh asset negara Iran yang telah dibekukan di bank-bank internasional. Melalui saluran diplomatik dan perundingan di Islamabad, Pakistan, Teheran menegaskan bahwa pemulihan akses terhadap dana miliaran dolar tersebut merupakan syarat mutlak untuk mengubah gencatan senjata sementara menjadi perdamaian permanen di kawasan Timur Tengah dan menjadikan kawasan tersebut terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan telah banyak menimbulkan korban jiwa. Oleh sebab itu, perundingan “Pakistan Accords” akan menjadi penentu perundingan selanjutnya diantara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi oleh Pakistan yang juga masih berkonflik dengan India di wilayah Kashmir.***

(Hasrul Sani Siregar, MA. Penulis; Alumni Hubungan Antarabangsa, IKMAS, UKM, Selangor Malaysia/Widyaiswara di BPSDM Provinsi Riau)