Oleh: Hasrul Sani Siregar, MA
SENGKETA khususnya wilayah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia tentu dapat diselesaikan dengan mengedepankan hubungan yang saling menghormati atas kedaulatan masing-masing negara. Dalam masalah nelayan Malaysia yang memasuki wilayah kedaulatan Indonesia secara ilegal, pemerintah Malaysia telah meminta nelayannya untuk tidak menangkap ikan di perairan Indonesia secara ilegal dan begitu pula sebaliknya. Tentunya, Malaysia menghormati kedaulatan wilayah Indonesia dan begitu juga Indonesia menghormati kedaulatan Malaysia untuk kasus tenaga kerja Indonesia (TKI) yang memasuki wilayah Malaysia secara ilegal. Hubungan antara Indonesia dan Malaysia yang mengalami pasang surut tersebut tidak terlepas dari kedekatan dan hubungan sosial dan budaya yang telah lama terjalin diantara kedua negara yang serumpun tersebut.
Tidak dapat dinafikan bahwa hubungan antara Indonesia dan Malaysia mengalami pasang surut seiring berbagai persoalan yang timbul. Terakhir komentar dari mantan menteri luar negeri Malaysia Tan Sri Rais Yatim tentang bantuan bencana di Aceh yang menimbulkan kesalah fahaman. Ada beberapa catatan yang menimbulkan persoalan diantara kedua negara yang barangkali masalah tersebut relatif tidak berdampak besar dalam hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia, namun perlu diselesaikan guna menjaga hubungan baik antara Indonesia dan Malaysia.
Dalam beberapa tahun yang lalu, kes (kasus) iklan dari sebuah produk elektronik luar negeri yang berada di Malaysia menjadi persoalan yang mengganggu hubungan baik kedua negara. Sebuah perusahaan asing di Malaysia yang menggunakan kalimat tak pantas dalam iklan produk elektroniknya. Kalimat tersebut dinilai menyudutkan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Kalimat yang dimaksud adalah "Fire Your Indonesia Maid Now!" (Pecat pembantu rumah tangga Indonesia sekarang!). Iklan itu mengajak calon konsumennya untuk menggunakan produk Irobot untuk membersihkan lantai dan kolam renang, tanpa menggunakan tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.
Dalam sengketa perbatasan dan simpadan negara, Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim telah beberapa kali membicarakan dengan rekannya dari Indonesia yaitu Presiden Prabowo Subianto unuk terus merundingkan sengketa kepemilikan di Pulau Ambalat. Dan terakhir pembicaraan mengarah kepada kerja sama oleh kedua negara untuk memanfaatkan segala potensi kekayaan yang ada di pulau tersebut hingga perundingan perbatasan selesai melalui meja perundingan. Melalui perundingan bilateral antara Indonesia dan Malaysia tentu akan menghasilkan keuntungan bersama dan saling menghormati kedaulatan masing-masing negara. Malaysia yang menjadi ketua ASEAN tahun 2025 yang lalu telah berhasil dalam menjaga hubungan yang baik diantara sesama anggota ASEAN dan demikian juga dengan Indonesia dalam hal perundingan sengketa perbatasan. Keberhasilan Malaysia juga dilihat dengan adanya kesepakatan damai antara Kamboja dan Thailand di wilayah perbatasan.
Isu pemancangan patok di Kawasan Tanjung Datuk, Kecamatan Paloh, Kalimantan Barat oleh Malaysia juga telah dilakukan melalui meja perundingan yang pada akhirnya Malaysia bersedia menarik patok yang telah di pasang di Tanjung Datu tersebut dan terus berupaya untuk menyelesaikan sengketa wilayah di kedua negara yang memiliki perbatasan daratan dan lautan tersebut. Penguatan wilayah maritim dan kepulauan Indonesia menjadi prioritas yang sangat urgen mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki kedekatan wilayah khususnya lautan dengan Malaysia.
Peningkatan infrastruktur di wilayah perbatasan dan kepulauan menjadi hal yang utama. Wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar Indonesia tentunya menjadi wilayah terdepan yang mana Indonesia sudah diakui oleh dunia internasional sebagai negara kepulauan (Archipelagic State). Sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah yang cukup luas dan berpotensi menjadi sengketa dengan negara-negara lainnya, Indonesia perlu memperkuat infrastruktur dan segala potensi yang ada didalamnya untuk mendukung hal tersebut Kalau itu tidak dikelola secara baik dan profesional, akan berdampak kepada hilangnya pulau-pulau yang lainnya. Oleh sebab itu, kerjasama wilayah dengan negara tetangga khususnya Malaysia merupakan faktor yang penting dalam menjaga hubungan baik antara Indonesia dan Malaysia. ***
(Oleh: Hasrul Sani Siregar, MA. Penulis; Alumni Hubungan Antarabangsa, IKMAS, UKM, Bangi Selangor Malaysia/Widyaiswara di BPSDM Provinsi Riau)