Berpulang

A

administrator

Rabu, 19 November 2025 | 00:00 WIB

Berpulang

Oleh: Isman Iriadi

RIAU saat ini benar-benar berduka. Seorang putra terbaik, Dr. drh. H. Chaidir, MM, telah berpulang untuk selamanya pada Selasa (18/11/2025) sekitar pukul 17.41 Wib, setelah menjalani serangkaian perawatan di salah satu rumah sakit di Pekanbaru.

Kabar ini, tentu saja sangat mengejutkan. Bagaimana tidak, pada 10 hari lalu, beliau masih menulis sebuah cerita yang berjudul SAHABAT TAK TERLIHAT, yang diterbitkan di AmiraRiau.com.

Tulisan ini memang merupakan karyanya yang dibaca banyak orang, tak hanya judul, tetapi isinya juga selalu menambah wawasan dengan bahasa berkelas namun juga tidak terlalu berat, bahkan ada kalanya menggelitik.

Lebih dari itu, tulisannya selalu bisa dipahami dengan cepat oleh semua kalangan, aktual dan selalu memberikan solusi secara baik dan benar-benar bisa diterapkan. Membaca tulisan beliau, kita seolah-seolah terbawa suasana dan menjadi pelaku utama dalam ceritanya.

Dalam tulisannya Sahabat Tak Terlihat, beliau memulai dengan; Pujangga Mesir peraih Nobel Sastra 1988, menyebut, “takdir (nasib) adalah sahabat yang tak terlihat”. Ungkapan ini mengandung makna filosofis yang dalam. Secara transendental, ungkapan Naguib Mahfouz itu adalah sesuatu yang melampaui pengalaman biasa, abstrak, sarat niliai spiritual, dan di luar jangkauan indra dan akal. Sebab dalam sudut pandang biasa, sahabat itu adalah orang terdekat dalam kehidupan kita, tempat curhat dalam suka dan duka, saling pandang, menangis bersama atau tertawa bersama.

Tapi ternyata manusia memiliki sahabat dalam  suka dan duka yang tak terlihat, bernama nasib atau takdir. Bukankah keyakinan kita sebagai umat beragama telah memahami dan menghayati, bahwa keseluruhan perjalanan hidup manusia, kelahiran, kematian, rezeki, jodoh, karir, sudah tertulis dalam “buku takdir” Sayangnya manusia tak pernah bisa melihat atau membaca buku tersebut, bahkan bocorannya tak pernah bisa dan tak akan pernah bisa kita peroleh, satu kata pun. Tak ada peluang sedikit pun untuk kongkalikong guna mendapatkan bocoran buku itu. Yang bisa mengubah buku takdir itu adalah Tuhan Yang Maha Pencipta, Sang Pencipta buku takdir itu, dst.      

Tulisan ini hanya satu diantara banyaknya tulisan yang dimuat di AmiraRiau.com sebagai Ketua Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR) serta mantan Ketua DPRD Riau 2 periode (1999-2004 dan 2004-2008). Ada banyak tulisan lain dengan bobot tak kalah mengagumkan!

Namun sejak Selasa (18/11/2025), takkan ada lagi penulis hebat seperti Dr. drh. H. Chaidir, MM. 'Permainan' dalam rangkaian kata demi kata yang lahir dari Tokoh Penting Riau ini, takkan ada lagi yang baru.

Beliau sudah tenang di Sisi-Nya, meskipun kita yakin bahwa beliau akan selalu menjadi 'Sahabat Tak Terlihat' yang akan selalu memberi pengetahuan dan pencerahan dengan caranya sendiri.

Saya mengenal drh. H. Chaidir sejak tahun 90-an atau sejak menjadi Wartawan GeNTA di Pekanbaru. Ketika itu, saya aktif mengikuti Asosiasi 5 Media (A5M); yang isinya adalah pemikir hebat H. Chaidir (alm), Makmur Hendrik, Fachruddin, Oberlin Marbun dan Edi Ruslan P Amanriza (alm).

Salah satu agenda yang paling saya gemari adalah, kelimanya selalu menggelar diskusi tentang apapun yang terjadi di Riau, bahkan nasional. Meskipun menjadi pendengar, namun dalam hati ada rasa kekaguman luar biasa.

Sejak masa itu, Saya nyaris tak pernah putus untuk berkomunikasi dengan H. Chaidir. Ada rasa nyaman ketika berdiskusi dengannya; ada senyum lembut dan mengayomi dari seorang laksana ayah bahkan abang.

Diyakini bahwa kita semua mengenal beliau secara baik dengan cara yang berbeda-beda. Tapi saya juga yakin seyakin-yakinnya, kita semua punya pendapat sama bahwa beliau adalah sosok hebat, tulus dan amat baik.

Selamat jalan Dr. drh. H. Cahdir, MM, semoga jalanmu dilapangkan menuju syurga. Kami yang engkau tinggalkan akan menerima segalanya dengan kesabaran dan ketegaran.***

(Isman Iriadi, penulis; Wartawan AmiraRiau.com. Pekanbaru, 19/11/2025)