Oleh: Abdul Hakim El Hamidy
ISRA Mi’raj sering kita sebut sebagai peristiwa agung. Ia diperingati dengan khidmat, diceritakan berulang-ulang, dan dihafal sejak kecil sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw. Namun, di balik kisah yang luar biasa itu, ada lapisan makna yang kerap luput: bahwa Isra Mi’raj bukan hanya perjalanan Nabi, melainkan cermin perjalanan batin manusia. Ia bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan peta spiritual yang relevan lintas zaman—terutama di saat manusia modern mengalami kelelahan jiwa, kehilangan orientasi, dan kebingungan membaca takdir hidupnya sendiri.
Isra Mi’raj terjadi bukan pada masa kejayaan, tetapi pada masa keterpurukan. Nabi Muhammad berada di titik paling sunyi dalam hidupnya. Khadijah, pendamping hidup dan sandaran emosionalnya, telah wafat. Abu Thalib, pelindung sosial dan politiknya, juga telah tiada. Dakwah yang ia sampaikan bertahun-tahun justru berujung penolakan dan kekerasan, sebagaimana yang ia alami di Thaif. Dalam bahasa manusiawi, inilah fase ketika doa terasa menggantung dan masa depan tampak buram.
Namun justru dari titik inilah perjalanan ke langit dimulai. Seolah Tuhan sedang mengajarkan satu pelajaran penting: bahwa kenaikan spiritual tidak selalu lahir dari keberhasilan, tetapi sering kali dari kehancuran; bukan dari tepuk tangan, melainkan dari air mata. Isra Mi’raj menegaskan bahwa dalam logika ilahi, luka sering kali menjadi pintu.
Perjalanan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha, bukan sekadar perpindahan ruang. Ia adalah perpindahan kesadaran. Dari dunia yang penuh penolakan menuju ruang keheningan yang penuh penerimaan. Dari beban kemanusiaan menuju dialog langsung dengan Tuhan. Namun yang menarik, Nabi tidak diminta menetap di sana. Ia justru diminta kembali.
Di sinilah makna Isra Mi’raj menjadi utuh. Kesempurnaan spiritual dalam Islam bukanlah pelarian dari dunia, melainkan kemampuan kembali ke dunia dengan jiwa yang telah ditempa. Mi’raj tanpa kembali hanyalah eskapisme; kembali tanpa Mi’raj adalah keterjebakan dalam rutinitas yang kering makna. Nabi mengalami keduanya: naik, lalu turun—dengan tanggung jawab yang lebih berat.
Oleh-oleh dari perjalanan agung itu bukanlah kekuasaan, bukan pula jaminan bahwa hidup akan menjadi lebih mudah. Yang dibawa pulang justru salat. Ritual yang tampak sederhana, bahkan mungkin terasa repetitif. Namun di sanalah letak kedalamannya. Salat bukan hadiah kemewahan, melainkan latihan kedewasaan. Ia mengajarkan bahwa hubungan dengan Tuhan dibangun bukan dengan ledakan emosi sesaat, tetapi dengan kesetiaan yang berulang.
Salat adalah ruang di mana doa bertemu disiplin. Di dalamnya ada harapan, tetapi juga keteraturan. Ada kepasrahan, tetapi juga komitmen waktu. Lima kali sehari, bukan saat kita sempat, melainkan saat kita diperintah. Dalam salat, manusia dilatih untuk tidak menjadikan Tuhan sekadar tempat meminta, tetapi pusat orientasi hidup.
Di sinilah Isra Mi’raj berkelindan dengan pertanyaan mendasar manusia sepanjang zaman: tentang doa dan takdir. Apakah doa mampu mengubah takdir, ataukah takdir tetap berjalan tanpa peduli pada doa-doa kita? Isra Mi’raj tidak menjawab pertanyaan itu dengan rumus teologis, melainkan dengan pengalaman spiritual.
Nabi berdoa, tetapi takdir kesulitan tidak serta-merta dihapus. Nabi bersujud, tetapi jalan dakwah tetap terjal. Yang berubah bukan semata keadaan, melainkan cara memikul keadaan. Doa, dalam konteks ini, bukan alat untuk menawar nasib, melainkan proses pembentukan jiwa agar sanggup menerima dan menempuh takdir dengan martabat.
Dalam kehidupan modern, doa sering direduksi menjadi permintaan cepat saji. Kita berdoa agar masalah selesai, agar kesulitan hilang, agar hidup segera lapang. Ketika doa tidak “dikabulkan” sesuai harapan, kekecewaan pun muncul—bahkan pada Tuhan. Isra Mi’raj mengajak kita menata ulang cara pandang itu. Bahwa doa bukan selalu tentang perubahan keadaan, tetapi sering kali tentang perubahan kesadaran.
Salat yang diturunkan dalam Isra Mi’raj mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, berdiri tegak di hadapan Tuhan, lalu kembali menjalani hidup dengan perspektif yang lebih jernih. Ia adalah Mi’raj kecil yang diulang setiap hari. Jika salat hanya berhenti pada gerakan, ia kehilangan ruhnya. Tetapi jika ia dihayati, ia menjadi ruang perjumpaan batin yang menenangkan.
Menariknya, sebelum perintah salat ditetapkan, Nabi mengalami dialog panjang tentang jumlahnya. Dari lima puluh, lalu diringankan menjadi lima. Di sini, kita melihat wajah Tuhan yang penuh rahmat, sekaligus pelajaran tentang beban hidup. Bahwa tidak semua beban dihilangkan, tetapi sering kali diringankan agar manusia mampu berjalan. Takdir tidak selalu diubah, tetapi diberi jalan agar dapat dilalui.
Isra Mi’raj juga mengajarkan bahwa puncak spiritualitas tidak diukur dari sejauh mana seseorang menjauh dari realitas sosial, melainkan dari seberapa dalam ia menghadirinya dengan nilai-nilai langit. Nabi kembali ke bumi untuk melanjutkan dakwah, membangun masyarakat, menegakkan keadilan, dan merawat kemanusiaan. Spirit Mi’raj justru diuji di tanah, bukan di langit.
Dalam konteks hari ini, pesan ini terasa relevan. Kita hidup di tengah simbol-simbol religius yang semakin ramai, tetapi keheningan batin justru semakin langka. Ritual berjalan, tetapi empati menipis. Doa dilantunkan, tetapi kesabaran mudah runtuh. Isra Mi’raj mengingatkan bahwa spiritualitas bukan tentang banyaknya simbol, melainkan kedalaman makna.
Kesempurnaan yang ditawarkan Isra Mi’raj bukan kesempurnaan tanpa luka, melainkan kesempurnaan dalam menerima luka dengan kesadaran. Bukan hidup tanpa masalah, tetapi hidup dengan arah. Bukan takdir yang selalu sesuai harapan, tetapi hati yang tetap teguh saat harapan diuji.
Pada akhirnya, Isra Mi’raj adalah undangan untuk melakukan perjalanan batin—bukan sekali setahun, tetapi setiap hari. Setiap kali kita berdiri dalam salat, kita sedang diingatkan bahwa hidup ini lebih luas dari urusan duniawi. Setiap kali kita berdoa dengan jujur, kita sedang belajar berdamai dengan takdir. Dan setiap kali kita kembali ke dunia dengan niat yang lebih lurus, kita sedang menapaki jalan kesempurnaan itu.
Bukan kesempurnaan yang gemerlap, tetapi kesempurnaan yang tenang. Kesempurnaan seorang hamba yang tahu ke mana ia menuju, kepada siapa ia bersandar, dan untuk apa ia kembali ke bumi.***
Abdul Hakim El Hamidy. Penulis; Founder Penulis Prolifik Indonesia (PENPI) dan Peraih Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) dari Universal Institute of Professional Management (UIPM), Malaysia dalam Bidang Literature and Education Sciences.