Oleh: Dr. Adv. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.
DALAM kehidupan sehari-hari, hampir setiap Muslim memanjatkan doa agar dianugerahi ‘afiyah: kesehatan, keselamatan, dan kehidupan yang lapang. Doa ini terasa wajar, bahkan dianjurkan. Namun jarang disadari, ‘afiyah bukan hanya nikmat, melainkan juga ujian yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Di hadapan Allah kelak, manusia tidak sekadar dihisab berdasarkan berat-ringannya cobaan hidup, tetapi berdasarkan sikap iman dalam menjalani cobaan itu, baik dalam kelapangan maupun dalam kesempitan.
Mereka yang hidup dalam ‘afiyah—sehat, berkecukupan, dan relatif aman—sering kali dianggap sebagai orang-orang yang paling beruntung. Namun Al-Qur’an justru mengingatkan bahwa setiap kenikmatan akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagaimana Firman Allah SWT:“Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang segala kenikmatan.” (QS. At-Takatsur: 8).
Kesehatan akan ditanya ke mana ia digunakan.
Harta akan ditanya bagaimana ia diperoleh dan dibelanjakan.
Kekuasaan dan pengaruh akan ditanya apakah menghadirkan keadilan atau justru kezaliman.
Dalam perspektif iman, kelapangan hidup bukan jaminan keselamatan, melainkan amanah yang panjang hisabnya.
Di sisi lain, ada kelompok manusia yang hidupnya penuh dengan ujian. Sakit yang berkepanjangan, kehilangan orang tercinta, kesulitan ekonomi, hingga ketidakadilan sosial yang tak kunjung berakhir.
Namun Islam memandang musibah bukan sebagai kehinaan, melainkan sebagai sarana penghapus dosa dan pengangkat derajat, selama disikapi dengan sabar dan tawakal.
Rasulullah SAW bersabda:"Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah hapuskan dengannya sebagian dosa-dosanya.” (Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Musibah menjadi proses pembersihan sebelum manusia berdiri di hadapan Pengadilan Allah. Karena itu, banyak ulama menyebut bahwa orang-orang yang sabar dalam ujian memiliki hisab yang lebih ringan di akhirat.
Dalam berbagai nasihat keagamaan, para ulama sering mengingatkan bahwa kelak, ketika ahlul ‘afiyah melihat pahala orang-orang yang sabar dalam musibah, mereka akan menyadari bahwa penderitaan di dunia bukanlah kerugian, melainkan investasi akhirat.
Apa yang di dunia terasa pahit, di akhirat justru menjadi manis. Sebaliknya, kenikmatan yang tak disyukuri bisa berubah menjadi penyesalan.
Sebagai bentuk Keadilan hakiki adalah Allah tidak menyamakan hisab antara orang yang diuji dengan kelapangan dan orang yang diuji dengan kesempitan. Sebab keadilan Allah selalu mempertimbangkan kemampuan hamba-Nya. Sebagaimana Firman-Nya:“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286).
Musibah bukan tanda murka Allah, dan ‘afiyah bukan bukti keistimewaan. Keduanya adalah bentuk ujian yang berbeda, tetapi sama-sama bertujuan menguji kejujuran iman dan keteguhan akhlak.
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat hari ini, pesan ini penting untuk direnungkan bersama. Jangan sampai mereka yang hidup dalam kelapangan merasa paling aman, sementara mereka yang diuji justru dipandang sebagai orang-orang yang gagal.
Islam mengajarkan empati, keadilan, dan kepedulian sosial. Sebab bisa jadi, orang yang hari ini terpinggirkan secara sosial justru memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah.
Jika hari ini kita hidup dalam ‘afiyah, maka kewajiban kita adalah bersyukur, berbagi, dan menjaga amanah.
Jika hari ini kita hidup dalam musibah, maka kesabaran dan keikhlasan adalah jalan keselamatan.
Sebab pada akhirnya, di hari hisab kelak, yang menentukan bukan apakah kita hidup lapang atau sempit,
melainkan apakah kita tetap setia kepada nilai iman dan kemanusiaan dalam setiap keadaan.
(Dr. Adv. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Dai, Akademisi, Advokat, Pemerhati Kebijakan Publik dan Pendidikan)