Foto Jembatan Ponton tahun 1960. Sumber : PT. CALTEX PACIFIC INDONESIA (Foto ini telah dihibahkan kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru) Koleksi : Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru.[/caption]
"Jembatan ponton adalah milik Caltex yang saat ini dikenal dengan PT Cevron Pacific Indonesia yang digunakan untuk kepentingan Caltex, namun masyarakat juga bisa menggunakannya pada saat-saat tertentu. Pada tahun 1938 Caltex sudah menanda tangani kontrak eksploitasi minyak pertama di Bumi Melayu bersama Sultan Siak," jelas Ketua Majelis Kerapatan Adat LAM Kota Pekanbaru, Datuk Oka Tabrani.
Saat meresmikan jembatan yang menjadi landmark Kota Pekanbaru tersebut, Presiden RI Soeharto menyatakan bahwa Jembatan Siak mempunyai arti penting dari segi ekonomi dan sosial, tidak hanya bagi Provinsi Riau, tetapi juga Sumatera. Lantas bagaimana cerita pembangunan jembatan Leighton yang dikenang sebagai pengantar awal sejarah modern infrastruktur di Pekanbaru dan tonggak sejarah perkambangan ekonomi Pekanbaru?
'Leighton' Mengambil Nama Perusahaan Kontraktor Australia
Jika PT CPI merupakan perusahaan Amerika, maka tidak serta merta semua mitra kerjanya Amerika atau Indonesia. Siapa sangka kontraktor pembangunan jembatan yang diberi kepercayaan oleh PT CPI sebagai pelaksana pembangunan Jembatan Leighton, adalah sebuah perusahaan konstruksi asal Australia, yakni PT Leighton Indonesia Construction Company. Saat jembatan tersebut dibangun, sang kontraktor memasang plang nama berukuran besar bertuliskan "PT Leighton Indonesia Construction Company" di depan gerbang proyek pembangunan Jembatan Leighton.
Hal tersebut menjadi alasan masyarakat lebih mengenal jembatan tersebut dengan nama jembatan Leigton. Bahkan sebutan Jembatan Leighton masih melekat di masyarakat hingga saat ini.
Jembatan yang mulai dibangun pada 1973 dengan panjang 350 meter itu diperkirakan mampu berfungsi dengan baik hingga 50 tahun kemudian. Proyek tersebut membutuhkan 600 ton baja, 1.200 kaki kubik beton, 150.000 kaki kubik tanah timbun, serta pengaspalan jalan 700 meter persegi.
Seiring dengan perkembangan Kota Pekanbaru, kekuatan jembatan ini diperkirakan tinggal 30 persen saja sehingga dipasang portal di tiap ujung jembatan untuk membatasi tonase kendaraan yang melewatinya.
Tonggak Sejarah Ekonomi Modern Kota Pekanbaru
Sejak difungsikannya Jembatan Leighton, peradaban perekonomian mulai berkembang pesat. Angkutan barang maupun orang yang semula melewati jembatan ponton hanya pada pagi dan sore hari, kini dapat berjalan kapan saja. Hal ini semakin mempermudah transportasi yang mendukung kemajuan ekonomi Kota Pekanbaru.
Menurut Guru Besar Universitas Riau, Bidang Studi Pembangunan, Ilmu Ekonomi Pertanian, dan Ilmu Ekonomi, Prof. Dr. H.B. Isyandi, SE., MS, jembatan yang menghubungkan beberapa kecamatan menjadi daerah penyangga atau interland memberikan beberapa keuntungan bagi Kota Pekanbaru.
"Keuntungan pertama dengan adanya jembatan, kita bisa melihat perpindahan penduduk yang tadinya bermukim di wilayah Pekanbaru yang berada di pusat perdagang dan jasa. Selain itu juga meningkatnya mobilitas untuk bermukim di wilayah Rumbai dan sekitarnya. Bahkan berkembang venue olah raga hingga pusat pendidikan dengan adanya Universitas yang berpusat di Rumbai. Kedua memberikan kesempatan wilayah Rumbai menjadi pusat aktifitas olah raga, pendidikan, dan perekonomian. Ketiga memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah yang semula sulit menarik pajak daerah seperti PBB, jasa restoran, fasilitas pendidikan dan sebagainya. Hal tersebut merupakan sumber pendapatan daerah. Adanya jembatan dapat meningkatkan pendapatan daerah walau tidak terlalu besar, namun cukup dominan dan signifikan. Keempat, kota Pekanbaru menjadi lirikan pertama investor yang dinilai aman dan strategis karena merupakan lalu lintas di pusat Sumatera. Kota Pekanbaru menjadi tempat berbisnis yang menyenangkan dan menjanjikan khususnya di sektor perdagangan dan jasa. Hal ini salah satu pendorong arus lalu lintas yang tinggi dengan adanya jembatan tersebut. Sehingga menjadi basis pusat perbankan dan industri yang memberikan dampak besar bagi perekonomian. Inilah yang disebut denyut jantung sistem transportasi di Pekanbaru," jelas Isyandi.
"Yang tidak kalah penting jika dihitung, sumbangan jembatan terhadap laju kecepatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) antara 5% sampai 7% yang menyangga ekonomi. Barang produksi di Riau jika dihitung nilainya adalah 25% dari total peredaran se-Sumatera dan itu digerakkan oleh Pekanbaru," imbuh Guru Besar Universitas Riau tersebut pada 23 Agustus 2020.
Berikut tabel Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Pekanbaru atas dasar harga konstan pada tahun 2010 menurut lapangan usaha yang menggambarkan kemajuan perekonomian Kota Pekanbaru :
https://datawrapper.dwcdn.net/XfVgd/1/
Jembatan Yang Mendukung Pertumbuhan Penduduk Sekitarnya
Sementara itu, Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau H Sugeng Pranoto, S.Sos menyatakan, keberadaan Jembatan Siak I sangat mempengaruhi pertumbuhan jumlah penduduk.
"Pertumbuhan penduduk di sekitar Jembatan Siak I terbilang cepat, yang semula sepi menjadi ramai. Nilai jual tanah dan bangunan yang meningkat juga mendorong pertumbuhan penduduk di sana," jelas Sugeng Pranoto.
Dalam grafik ini dapat dilihat bahwa jumlah penduduk di sekitar Jembatan Siak I pada tahun 2019, yaitu Kecamatan Senapelan, Rumai, dan Rumbai Pesisir adalah di atas 10% dari seluruh jumlah penduduk di Kota Pekanbaru.
https://datawrapper.dwcdn.net/xwSLS/1/
Jembatan Indah Yang Masih Mempesona
Di era 1980 hingga 1990-an, masih segar dalam ingatan kita, bagaimana pelan-pelan fenomena sekitar Jembatan Leighton berubah. Kesibukan sampan-sampan nelayan sirna satu demi satu di telan jaman, ditambah lagi dengan PT Rikri (perusahaan karet, red) yang telah direlokasi dari tempat tersebut karena dampak lingkungan.
Dulunya suasana ketika kita melewati jembatan, akan tampak sampan-sampan dan perahu kapal bermotor. Namun kisah aktivitas yang demikianpun telah pupus dengan kebijakkan pembangunan jembatan di sepanjang Sungai Siak yang tidak membenarkan lagi akses kapal besar atau bermesin kecepatan tinggi masuk.
Namun ketika pantauan AmiraRiau.com di lapangan pada sore hari beberapa hari lalu, terlihat masih tersisa kenangan secara fisik yang masih bisa kita dijumpai. Sisa-sisa kemegahan sebagai jembatan terbaik yang pernah ada tampak tidak pernah pupus dimakan waktu, walaupun disisi kanan taman menghadap utara di bawah jembatan, tampak kemegahan modern Jembatan Siak IV, namun tidak meruntuhkan sisa-sisa indahnya pesona Leighton.
Bahkan sebuah sampan warga setempat, tampak memancing di bawah seputar jembatan menambah ingatan kita akan susana lingkungan seputar Leighton tempo dulu. Seorang lelaki tua, duduk disebuah sampan meluncur palan-pelan mengapung dengan riak-riak kecil gelombang sungai dan berhenti di setiap titik di bentang sungai tersebut, sambil memegang pancing.
Fenomena sampan yang hanya sendiri mengapung dan dari kejauahan hanya kelihatan sedikit muncul dipermukaan air sungai, menambah fenomena di bawah jembatan itu kontras dengan makin modernnya pembangunan infrastruktur. Justru perahu kecil dan sang nelayan yang memancing ikan tersebut menambah pesona dan kenangan Leighton yang dinaungi sinar jingga matahari yang akan terbenam di barat di kejauhan menjadikan kita rindu akan legenda Leighton di eranya.
Bisa dirasakan untuk sejenak sekelebat dalam ingatan, ketika melalui jembatan kita akan menjumpai sampan-sampan atau kapal motor warga yang melakukan aktivitas, kini sirna tertelan peradaban yang makin modern. Warga tempatan yang dulunya ramai memenuhi sungai seputar jembatan, kini sekitar jembatan hanya ramai sebagai tempat rileks bagi warga Kota Pekanbaru dengan warung di bawah jembatan.
Namun jejak sejarah Leighton, sentuhan gaya perusahaan minyak ternama PT CPI, masih tinggal dibenak kita bersama, bahwa Leighton dibangun bukan saja sebagai Landmark Kota yang mengubahkan, tetapi juga tonggak awal perkembangan ekonomi modern Kota Pekanbaru.**
Foto Jembatan Ponton tahun 1960. Sumber : PT. CALTEX PACIFIC INDONESIA (Foto ini telah dihibahkan kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru) Koleksi : Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru.[/caption]
"Jembatan ponton adalah milik Caltex yang saat ini dikenal dengan PT Cevron Pacific Indonesia yang digunakan untuk kepentingan Caltex, namun masyarakat juga bisa menggunakannya pada saat-saat tertentu. Pada tahun 1938 Caltex sudah menanda tangani kontrak eksploitasi minyak pertama di Bumi Melayu bersama Sultan Siak," jelas Ketua Majelis Kerapatan Adat LAM Kota Pekanbaru, Datuk Oka Tabrani.
Saat meresmikan jembatan yang menjadi landmark Kota Pekanbaru tersebut, Presiden RI Soeharto menyatakan bahwa Jembatan Siak mempunyai arti penting dari segi ekonomi dan sosial, tidak hanya bagi Provinsi Riau, tetapi juga Sumatera. Lantas bagaimana cerita pembangunan jembatan Leighton yang dikenang sebagai pengantar awal sejarah modern infrastruktur di Pekanbaru dan tonggak sejarah perkambangan ekonomi Pekanbaru?
'Leighton' Mengambil Nama Perusahaan Kontraktor Australia
Jika PT CPI merupakan perusahaan Amerika, maka tidak serta merta semua mitra kerjanya Amerika atau Indonesia. Siapa sangka kontraktor pembangunan jembatan yang diberi kepercayaan oleh PT CPI sebagai pelaksana pembangunan Jembatan Leighton, adalah sebuah perusahaan konstruksi asal Australia, yakni PT Leighton Indonesia Construction Company. Saat jembatan tersebut dibangun, sang kontraktor memasang plang nama berukuran besar bertuliskan "PT Leighton Indonesia Construction Company" di depan gerbang proyek pembangunan Jembatan Leighton.
Hal tersebut menjadi alasan masyarakat lebih mengenal jembatan tersebut dengan nama jembatan Leigton. Bahkan sebutan Jembatan Leighton masih melekat di masyarakat hingga saat ini.
Jembatan yang mulai dibangun pada 1973 dengan panjang 350 meter itu diperkirakan mampu berfungsi dengan baik hingga 50 tahun kemudian. Proyek tersebut membutuhkan 600 ton baja, 1.200 kaki kubik beton, 150.000 kaki kubik tanah timbun, serta pengaspalan jalan 700 meter persegi.
Seiring dengan perkembangan Kota Pekanbaru, kekuatan jembatan ini diperkirakan tinggal 30 persen saja sehingga dipasang portal di tiap ujung jembatan untuk membatasi tonase kendaraan yang melewatinya.
Tonggak Sejarah Ekonomi Modern Kota Pekanbaru
Sejak difungsikannya Jembatan Leighton, peradaban perekonomian mulai berkembang pesat. Angkutan barang maupun orang yang semula melewati jembatan ponton hanya pada pagi dan sore hari, kini dapat berjalan kapan saja. Hal ini semakin mempermudah transportasi yang mendukung kemajuan ekonomi Kota Pekanbaru.
Menurut Guru Besar Universitas Riau, Bidang Studi Pembangunan, Ilmu Ekonomi Pertanian, dan Ilmu Ekonomi, Prof. Dr. H.B. Isyandi, SE., MS, jembatan yang menghubungkan beberapa kecamatan menjadi daerah penyangga atau interland memberikan beberapa keuntungan bagi Kota Pekanbaru.
"Keuntungan pertama dengan adanya jembatan, kita bisa melihat perpindahan penduduk yang tadinya bermukim di wilayah Pekanbaru yang berada di pusat perdagang dan jasa. Selain itu juga meningkatnya mobilitas untuk bermukim di wilayah Rumbai dan sekitarnya. Bahkan berkembang venue olah raga hingga pusat pendidikan dengan adanya Universitas yang berpusat di Rumbai. Kedua memberikan kesempatan wilayah Rumbai menjadi pusat aktifitas olah raga, pendidikan, dan perekonomian. Ketiga memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah yang semula sulit menarik pajak daerah seperti PBB, jasa restoran, fasilitas pendidikan dan sebagainya. Hal tersebut merupakan sumber pendapatan daerah. Adanya jembatan dapat meningkatkan pendapatan daerah walau tidak terlalu besar, namun cukup dominan dan signifikan. Keempat, kota Pekanbaru menjadi lirikan pertama investor yang dinilai aman dan strategis karena merupakan lalu lintas di pusat Sumatera. Kota Pekanbaru menjadi tempat berbisnis yang menyenangkan dan menjanjikan khususnya di sektor perdagangan dan jasa. Hal ini salah satu pendorong arus lalu lintas yang tinggi dengan adanya jembatan tersebut. Sehingga menjadi basis pusat perbankan dan industri yang memberikan dampak besar bagi perekonomian. Inilah yang disebut denyut jantung sistem transportasi di Pekanbaru," jelas Isyandi.
"Yang tidak kalah penting jika dihitung, sumbangan jembatan terhadap laju kecepatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) antara 5% sampai 7% yang menyangga ekonomi. Barang produksi di Riau jika dihitung nilainya adalah 25% dari total peredaran se-Sumatera dan itu digerakkan oleh Pekanbaru," imbuh Guru Besar Universitas Riau tersebut pada 23 Agustus 2020.
Berikut tabel Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Pekanbaru atas dasar harga konstan pada tahun 2010 menurut lapangan usaha yang menggambarkan kemajuan perekonomian Kota Pekanbaru :
https://datawrapper.dwcdn.net/XfVgd/1/
Jembatan Yang Mendukung Pertumbuhan Penduduk Sekitarnya
Sementara itu, Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau H Sugeng Pranoto, S.Sos menyatakan, keberadaan Jembatan Siak I sangat mempengaruhi pertumbuhan jumlah penduduk.
"Pertumbuhan penduduk di sekitar Jembatan Siak I terbilang cepat, yang semula sepi menjadi ramai. Nilai jual tanah dan bangunan yang meningkat juga mendorong pertumbuhan penduduk di sana," jelas Sugeng Pranoto.
Dalam grafik ini dapat dilihat bahwa jumlah penduduk di sekitar Jembatan Siak I pada tahun 2019, yaitu Kecamatan Senapelan, Rumai, dan Rumbai Pesisir adalah di atas 10% dari seluruh jumlah penduduk di Kota Pekanbaru.
https://datawrapper.dwcdn.net/xwSLS/1/
Jembatan Indah Yang Masih Mempesona
Di era 1980 hingga 1990-an, masih segar dalam ingatan kita, bagaimana pelan-pelan fenomena sekitar Jembatan Leighton berubah. Kesibukan sampan-sampan nelayan sirna satu demi satu di telan jaman, ditambah lagi dengan PT Rikri (perusahaan karet, red) yang telah direlokasi dari tempat tersebut karena dampak lingkungan.
Dulunya suasana ketika kita melewati jembatan, akan tampak sampan-sampan dan perahu kapal bermotor. Namun kisah aktivitas yang demikianpun telah pupus dengan kebijakkan pembangunan jembatan di sepanjang Sungai Siak yang tidak membenarkan lagi akses kapal besar atau bermesin kecepatan tinggi masuk.
Namun ketika pantauan AmiraRiau.com di lapangan pada sore hari beberapa hari lalu, terlihat masih tersisa kenangan secara fisik yang masih bisa kita dijumpai. Sisa-sisa kemegahan sebagai jembatan terbaik yang pernah ada tampak tidak pernah pupus dimakan waktu, walaupun disisi kanan taman menghadap utara di bawah jembatan, tampak kemegahan modern Jembatan Siak IV, namun tidak meruntuhkan sisa-sisa indahnya pesona Leighton.
Bahkan sebuah sampan warga setempat, tampak memancing di bawah seputar jembatan menambah ingatan kita akan susana lingkungan seputar Leighton tempo dulu. Seorang lelaki tua, duduk disebuah sampan meluncur palan-pelan mengapung dengan riak-riak kecil gelombang sungai dan berhenti di setiap titik di bentang sungai tersebut, sambil memegang pancing.
Fenomena sampan yang hanya sendiri mengapung dan dari kejauahan hanya kelihatan sedikit muncul dipermukaan air sungai, menambah fenomena di bawah jembatan itu kontras dengan makin modernnya pembangunan infrastruktur. Justru perahu kecil dan sang nelayan yang memancing ikan tersebut menambah pesona dan kenangan Leighton yang dinaungi sinar jingga matahari yang akan terbenam di barat di kejauhan menjadikan kita rindu akan legenda Leighton di eranya.
Bisa dirasakan untuk sejenak sekelebat dalam ingatan, ketika melalui jembatan kita akan menjumpai sampan-sampan atau kapal motor warga yang melakukan aktivitas, kini sirna tertelan peradaban yang makin modern. Warga tempatan yang dulunya ramai memenuhi sungai seputar jembatan, kini sekitar jembatan hanya ramai sebagai tempat rileks bagi warga Kota Pekanbaru dengan warung di bawah jembatan.
Namun jejak sejarah Leighton, sentuhan gaya perusahaan minyak ternama PT CPI, masih tinggal dibenak kita bersama, bahwa Leighton dibangun bukan saja sebagai Landmark Kota yang mengubahkan, tetapi juga tonggak awal perkembangan ekonomi modern Kota Pekanbaru.**