23 Juta Penduduk Miskin Indonesia, Menko Muhaimin Iskandar Ajak Santri Melek Teknologi

A

Alseptri Ady

Kamis, 22 Oktober 2026 | 16:16 WIB

23 Juta Penduduk Miskin Indonesia, Menko Muhaimin Iskandar Ajak Santri Melek Teknologi

PEKANBARU, AmiraRiau.com - Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dinilai menjadi salah satu modal penting bagi santri untuk ikut mengatasi kemiskinan dan meningkatkan daya saing Indonesia. Generasi pesantren diharapkan mampu mengambil peran dalam membangun bangsa yang mandiri dan unggul di tengah persaingan global.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin, menyampaikan hal tersebut saat membuka peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pondok Pesantren Dar El Hikmah, Pekanbaru, Riau, Kamis (22/10/2026).

Ia menyoroti masih adanya sekitar 23 juta penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan bersama yang perlu dihadapi, termasuk oleh kalangan santri melalui peningkatan pengetahuan dan kemampuan diri.

"Kita harus terus membangun ilmu pengetahuan dan teknologi agar kita terus mempersiapkan diri menjadi bangsa yang unggul, menjadi generasi emas yang siap bersaing dan tidak kalah, bahkan menang dibanding bangsa-bangsa lainnya," ujar Muhaimin.

Ia juga mengingatkan pentingnya memperkuat kemandirian nasional di tengah perubahan geopolitik, persaingan ekonomi dunia, serta berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi secara global.

Ia meyakini nilai-nilai yang ditanamkan di pesantren, seperti kejujuran dan ketangguhan, dapat menjadi bekal bagi santri untuk menghadapi tantangan sekaligus memperkuat kemampuan bangsa agar tidak terus bergantung pada negara lain.

"Santri insyaallah pasti jujur, santri insyaallah pasti tangguh, dan santri insyaallah tidak mudah goyah oleh berbagai tantangan," ucapnya.

Dalam amanatnya, Muhaimin menggarisbawahi tiga prinsip yang perlu diterapkan santri dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, mengambil peran aktif dalam menjaga persatuan umat Islam dan keutuhan bangsa.

Kedua, terus meningkatkan kualitas diri melalui proses belajar, pengembangan potensi, serta kemampuan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Ketiga, menjadikan nilai-nilai yang dicontohkan kiai, ulama, dan santri sebagai pedoman dalam berbagai bidang kehidupan.

Menurutnya, ketiga prinsip tersebut dapat menjadi landasan untuk menghadapi keterbatasan dan mengatasi ketertinggalan. Dengan bekal ilmu dan karakter yang kuat, santri diharapkan mampu berkontribusi lebih luas dalam pembangunan nasional.

"Dengan tiga komitmen ini, kita akan terus menerobos berbagai belenggu keterbatasan, menolak dan mengatasi segala bentuk ketertinggalan," katanya.

Muhaimin juga mengingatkan para santri agar mulai mempersiapkan diri sejak sekarang untuk membangun masa depan yang lebih baik daripada generasi sebelumnya. Upaya tersebut perlu disertai kesungguhan dalam menuntut ilmu dan menjalankan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Ia berharap santri senantiasa menjaga keselarasan antara hati, pikiran, dan perbuatan agar nilai-nilai Islam tercermin dalam sikap serta tindakan mereka.

Lebih lanjut, Muhaimin menegaskan bahwa makna santri tidak terbatas pada mereka yang belajar di lingkungan pesantren. Semangat dan nilai kesantrian juga dapat tercermin pada anak bangsa yang berkiprah di berbagai sektor, mulai dari sosial, ekonomi, hingga politik.

"Santri memiliki makna yang luas bagi seluruh eksponen anak-anak bangsa yang hari ini berkiprah di berbagai lini kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan berbagai bidang-bidang dalam keperluan membangun bangsa," tuturnya.***

Editor: Alseptri Ady

Sumber: MCR