Asap Berbahaya, 27.250 Masyarakat Riau Terserang ISPA, Pekanbaru Terbanyak Disusul Kampar

A

Alseptri Ady

Kamis, 08 Oktober 2026 | 16:57 WIB

Asap Berbahaya, 27.250 Masyarakat Riau Terserang ISPA, Pekanbaru Terbanyak Disusul Kampar

PEKANBARU, AmiraRiau.com – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Provinsi Riau masih tinggi. Berdasarkan laporan yang diterima Dinas Kesehatan (Diskes) Riau, hingga saat ini total sudah ada 27.250 masyarakat Riau terpapar ISPA yang berasal dari 12 kabupaten/kota di Riau.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Zulkifli,  mengatakan dari jumlah tersebut Kota Pekanbaru menjadi daerah dengan kasus tertinggi yaitu 7.434 kasus. Disusul Kabupaten Kampar 3.629 kasus, Bengkalis 2.964 kasus.

“Kemudian Kota Dumai 2.887 kasus, Siak 2.806 kasus, Pelalawan 2.555 kasus, Kuansing 1.297 kasus, Indragiri Hulu 1.235 kasus, Kepulauan Meranti 1.188 kasus, Rokan Hulu 908 kasus, Rokan Hilir 205 kasus dan Indragiri Hilir 79 kasus,” katanya, Kamis (8/10/2026).

Meski terjadi kenaikan kasus ISPA, Zulkifli mengklaim fasilitas kesehatan di daerah terdampak masih sanggup menampung dan melayani para pasien secara maksimal.

Guna menekan dampak buruk kasus ISPA, Diskes Riau terus menggalakkan pembagian masker gratis dan kampanye edukasi kesehatan ke masyarakat.

“Pemerintah daerah juga menyalurkan makanan tambahan bagi ibu hamil serta balita terdampak, sembari menyiagakan oksigen konsentrator di Puskesmas. Tim Medis Darurat (Emergency Medical Team) di setiap Puskesmas telah diaktifkan penuh untuk mengantisipasi gejolak lonjakan pasien secara mendadak,” sebutnya. 

Diskes Riau juga mendirikan posko darurat yang dilengkapi rumah oksigen dan tempat tidur medis untuk penanganan kritis. Langkah darurat ini juga melibatkan akademisi perguruan tinggi serta organisasi profesi kesehatan untuk mendistribusikan masker kepada para pengguna jalan.

Kemudian juga, pihaknya mengimbau untuk meningkatkan deteksi dini dengan mendorong masyarakat yang mengalami gejala untuk segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

"Kita juga mendorong peningkatan peran serta masyarakat dalam menanggulangi dampak kesehatan yang diakibatkan polusi udara melalui penerapan protokol kesehatan, khususnya terhadap populasi rentan seperti anak, ibu hamil, orang dengan komorbid atau penyakit penyerta, dan lanjut usia," katanya.

Selain itu juga perlu tindakan memastikan ketersediaan masker dalam melindungi diri dari polusi udara, khususnya masker yang dapat menyaring polusi udara.

"Tenaga kesehatan kita di Faskes kita minta untuk segera melaporkan dan memantau kasus kejadian penyakit yang diakibatkan oleh asap seperti ISPA, iritasi mata, pneumonia, iritasi kulit dan asma ke Dinas Kesehatan Kabupaten Kota," tutupnya.***

Editor: Alseptri Ady

Sumber: MCR