Oleh: Mardianto Manan
ADA yang pergi, tetapi tidak benar-benar hilang. Ada bangunan yang pintunya boleh saja ditutup, lampunya boleh saja dipadamkan, tetapi kenangan yang pernah hidup di dalamnya tidak akan pernah bisa ikut dikunci.
Begitulah perasaan saya ketika mendengar kabar Matahari di Plaza Citra, Jalan Pepaya, Pekanbaru, resmi menutup operasionalnya pada 12 Oktober 2026. Saya sedih. Bukan semata-mata karena sebuah pusat perbelanjaan berhenti beroperasi, melainkan karena ada bagian dari perjalanan hidup saya dan sejarah Kota Pekanbaru yang seolah-olah ikut menutup pintunya.
Sampai hari ini, saya tetap menyebutnya Matahari. Bukan sekadar Plaza Citra, bukan pula hanya sebuah mal lama yang kalah bersaing dengan pusat perbelanjaan baru. Bagi saya, Matahari adalah Matahari. Sebuah nama yang melekat dalam ingatan, seperti alamat lama yang tidak pernah berubah meskipun zaman telah membawa kita jauh ke depan.
Saya tidak sekadar pernah berkunjung ke Matahari. Saya tumbuh bersama kenangannya.
Ketika masih muda, saya datang ke sana. Setelah menikah, saya kembali datang bersama istri. Ketika anak pertama lahir, tempat itu menjadi salah satu tujuan kami mengajak anak bermain. Anak kedua dan ketiga pun merasakan pengalaman yang sama.
Sekarang, anak pertama saya telah berusia 26 tahun dan sudah berkeluarga juga. Bayangkan, tempat yang dahulu menjadi bagian dari masa kecilnya, tempat ia bermain dan menikmati suasana mal bersama keluarga, kini telah resmi tutup.
Ada rasa yang sulit dijelaskan ketika menyadari bahwa waktu berjalan begitu cepat. Anak-anak yang dahulu kita gandeng tangannya ketika berjalan di dalam mal, kini telah dewasa. Sementara tempat yang dahulu menjadi tujuan rekreasi keluarga, perlahan-lahan menjadi bagian dari sejarah.
Tidak pernah terbayang bahwa suatu hari nanti, kunjungan semacam itu akan menjadi kenangan yang kita ceritakan kembali dengan perasaan kehilangan.
Begitulah hidup. Ketika sesuatu masih ada, kita sering menganggapnya akan selalu ada. Baru setelah ia pergi, kita sadar betapa banyak cerita yang ternyata telah dititipkan di sana.
Belajar Naik Eskalator, Belajar Mengenal Kota
Bagi sebagian orang, eskalator dan lift hanyalah fasilitas biasa. Namun, bagi generasi yang pertama kali mengenal pusat perbelanjaan modern di Pekanbaru pada masa itu, pengalaman tersebut bisa menjadi sesuatu yang luar biasa.
Saya masih bisa membayangkan anak-anak yang baru pertama kali naik eskalator. Ada yang gugup, tangannya dingin, matanya terpaku melihat tangga berjalan naik dan turun. Ada pula yang merasa jantungnya berdebar ketika pertama kali menaiki lift, apalagi saat lift mulai bergerak turun.
Masyaallah, pengalaman sederhana yang hari ini mungkin dianggap sepele, dahulu bisa menjadi cerita yang dibawa pulang dan dikenang bertahun-tahun.
Matahari bukan hanya tempat membeli pakaian, sepatu, atau kebutuhan rumah tangga. Di sana ada toko buku, perlengkapan dapur, tempat bermain Timezone, tempat makan bersama keluarga, dan ruang untuk sekadar berjalan-jalan menikmati suasana.
Pulang berbelanja, kami sering menyempatkan diri makan di Kentucky, di lantai dua. Sesekali menonton film, menikmati waktu bersama keluarga, atau duduk santai di lantai atas. Bahkan, ada masanya saya nongkrong bersama bapak di sana.
Bagi anak muda Pekanbaru kala itu, Matahari juga menjadi tempat berjanji untuk bertemu kawan. Teman yang baru dikenal, teman sekolah, sahabat lama, semuanya bisa bertemu di sana. Tidak harus selalu membeli sesuatu. Kadang-kadang, berjalan-jalan, melihat-lihat barang, mencari kawan yang sedang berkumpul, atau sekadar duduk bersama sudah cukup membuat sore terasa menyenangkan.
Bagi sebagian warga yang datang dari luar Pekanbaru, berkunjung ke Matahari bahkan menjadi agenda istimewa setelah menerima gaji atau ketika liburan sekolah. Ada yang datang membawa keluarga dari kampung, mengajak anak-anak bermain dan makan bersama. Ada yang datang dari jauh demi merasakan suasana pusat perbelanjaan yang ketika itu belum banyak tersedia.
Kenangan semacam ini menunjukkan bahwa nilai sebuah tempat tidak selalu bisa dihitung dari jumlah transaksi, luas bangunan, atau berapa banyak barang yang terjual. Ada nilai sosial yang tumbuh dari pertemuan manusia, dari tawa anak-anak, dari obrolan orang tua, dan dari kebersamaan yang berlangsung tanpa kita sadari.
Matahari dan Pekanbaru yang Pernah Kita Kenal
Plaza Citra, dengan Matahari sebagai bagian yang begitu lekat dalam ingatan masyarakat, mulai dikenal sejak awal 1990-an. Pada masa itu, Pekanbaru belum seperti sekarang. Pilihan pusat perbelanjaan modern belum sebanyak hari ini. Matahari menjadi salah satu tujuan penting warga untuk berbelanja, berekreasi, dan menikmati suasana kota.
Kita tentu masih mengingat berbagai ruang hiburan pada masa itu.
Kota yang mungkin belum semegah sekarang, tetapi menyimpan banyak ruang perjumpaan dan cerita yang membentuk kenangan satu generasi.
Matahari menjadi salah satu saksi perjalanan tersebut. Di sana, anak-anak sekolah, pekerja, keluarga, seniman, anak muda, hingga pedagang kecil pernah berbagi ruang. Mereka datang dengan tujuan berbeda, tetapi meninggalkan jejak kenangan yang hampir serupa: pernah menjadi bagian dari kehidupan kota.
Karena itu, ketika Matahari tutup, yang terasa hilang bukan hanya sebuah tempat berbelanja. Ada ruang nostalgia yang ikut berubah menjadi cerita masa lalu.
Kita tidak sedang mempersoalkan bahwa sebuah usaha harus bertahan selamanya. Dalam dunia bisnis, perubahan merupakan hal yang wajar. Perusahaan memiliki pertimbangan ekonomi, persaingan, biaya operasional, dan strategi usaha. Namun, ketika sebuah tempat telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat, penutupannya tentu menghadirkan perasaan yang lebih dalam daripada sekadar kabar bisnis.
Kota Bertambah Modern, Tetapi Apakah Kenangan Kita Ikut Tersingkir?
Pekanbaru hari ini telah berkembang jauh. Jalan-jalan semakin ramai, kawasan perdagangan tumbuh, permukiman meluas, dan pusat perbelanjaan modern hadir dengan konsep yang lebih beragam. Wajah kota berubah mengikuti pertumbuhan penduduk, investasi, teknologi, dan gaya hidup masyarakat.
Kita menyaksikan hadirnya mal-mal baru yang menawarkan fasilitas lebih lengkap, tempat hiburan yang lebih modern, serta ruang konsumsi yang dirancang sesuai kebutuhan generasi sekarang.
Namun, di tengah perkembangan itu, tutupnya Matahari mengajak kita mengajukan pertanyaan yang lebih luas: apakah perkembangan kota hanya diukur dari banyaknya bangunan baru, atau juga dari kemampuan kota merawat ruang-ruang yang menyimpan sejarah warganya?
Dalam perspektif perencanaan wilayah dan kota, pertumbuhan tidak cukup dipahami sebagai bertambahnya pusat perdagangan, gedung, jalan, dan investasi. Kota juga membutuhkan kesinambungan identitas, ruang publik yang hidup, serta tempat-tempat yang memungkinkan warga membangun hubungan sosial.
Sebuah kota boleh tumbuh modern, tetapi jangan sampai kehilangan ingatan tentang bagaimana masyarakatnya pernah hidup, berjumpa, dan membangun kebersamaan.
Tentu, tidak semua bangunan lama harus dipertahankan tanpa mempertimbangkan kelayakan ekonomi. Tidak pula setiap pusat perbelanjaan yang tutup harus dipaksa beroperasi kembali. Namun, perubahan fungsi sebuah bangunan semestinya dapat dipikirkan sebagai bagian dari perjalanan kota, bukan semata-mata urusan pergantian pemilik atau penyewa.
Di sinilah Pemerintah Kota Pekanbaru dapat mengambil peran. Jika bangunan dan kawasan Plaza Citra memungkinkan untuk dikembangkan kembali, perlu ada dialog dengan pemilik atau pengelola mengenai pemanfaatan yang sesuai dengan kebutuhan kota. Bisa saja menjadi pusat perdagangan dengan konsep baru, ruang usaha bagi UMKM, pusat kegiatan kreatif, ruang komunitas, atau fungsi campuran yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.
Tentu, gagasan tersebut harus didahului kajian kelayakan ekonomi, kondisi bangunan, tata ruang, aksesibilitas, dan kebutuhan masyarakat. Pemerintah tidak perlu mengambil alih urusan bisnis swasta, tetapi dapat mendorong agar kawasan yang strategis tidak kehilangan kehidupan sosial dan ekonominya.
Sebab, bangunan yang berhenti beroperasi tidak harus selamanya menjadi bangunan yang mati.
Jangan Biarkan Matahari Hanya Hidup dalam Cerita
Bagi saya, kesedihan ini bukan berarti menolak kemajuan. Saya justru ingin Pekanbaru terus berkembang, semakin tertata, semakin nyaman, dan semakin mampu menyediakan ruang kehidupan yang baik bagi warganya.
Tetapi, kemajuan yang baik tidak harus memutus hubungan kita dengan masa lalu.
Saya membayangkan, suatu hari nanti anak-anak muda Pekanbaru mungkin akan bertanya kepada orang tuanya: mengapa dahulu begitu banyak orang mengenang Matahari? Mengapa sebuah mal lama bisa begitu berarti bagi banyak keluarga?
Jawabannya sederhana. Karena mereka tidak hanya datang untuk berbelanja. Mereka datang untuk mengalami kehidupan.
Di sana ada seorang ayah yang mengajak anaknya pertama kali naik eskalator. Ada ibu yang memilihkan baju untuk anak-anaknya. Ada pasangan muda yang menghabiskan waktu bersama. Ada kawan-kawan yang membuat janji bertemu. Ada keluarga yang makan bersama setelah berjalan-jalan. Ada pula orang-orang dari kampung yang sengaja datang ke Pekanbaru demi menikmati suasana yang ketika itu terasa istimewa.
Mungkin bagi generasi sekarang, pengalaman seperti itu bisa ditemukan di banyak tempat. Namun, bagi generasi kami, Matahari memiliki tempatnya sendiri. Ia hadir pada masa ketika pilihan belum sebanyak sekarang, tetapi kegembiraan bisa ditemukan dalam hal-hal yang sederhana.
Dan itulah yang membuatnya sulit dilupakan.
Terima kasih, Plaza Citra. Terima kasih, Matahari.
Engkau pernah menjadi bagian dari masa muda kami, bagian dari perjalanan keluarga kami, dan bagian dari wajah Pekanbaru yang kami kenal dahulu.
Hari ini pintumu telah tertutup. Mungkin lampu-lampu yang dahulu menyambut pengunjung tidak lagi menyala. Eskalator yang pernah membuat anak-anak kecil gugup mungkin tak lagi membawa siapa pun naik dan turun. Tempat bermain, toko buku, sudut-sudut pertemuan, dan meja makan tempat keluarga berkumpul kini tinggal dalam ingatan.
Namun, tidak ada yang dapat menutup kenangan yang telah hidup puluhan tahun.
Ketika saya menyebut namamu, yang muncul bukan sekadar bangunan di Jalan Pepaya. Yang muncul adalah wajah-wajah orang yang saya sayangi, masa muda yang telah berlalu, anak-anak yang dahulu saya gandeng tangannya, dan Pekanbaru yang tumbuh bersama perjalanan hidup kami.
Matahari mungkin telah padam sebagai pusat perbelanjaan, tetapi cahayanya tetap hidup dalam kenangan warga kota.
Selamat jalan, Matahari. Engkau tidak sekadar meninggalkan sebuah bangunan. Engkau membawa sebagian cerita kehidupan kami, yang kelak akan terus kami kisahkan kepada anak cucu.
Dan selama cerita itu masih diceritakan, Matahari tidak akan benar-benar pergi dari Pekanbaru.
(Mardianto Manan. Penulis; Pernah muda bersama Matahari terbit, nan berakhir tua bersama matahari tenggelam)