Pemkab Kampar Tak Kunjung Terapkan Belajar Daring, Siswa dan Guru Keluhkan Sesak Napas Akibat Asap

A

Alseptri Ady

Rabu, 07 Oktober 2026 | 19:54 WIB

Pemkab Kampar Tak Kunjung Terapkan Belajar Daring, Siswa dan Guru Keluhkan Sesak Napas Akibat Asap

KAMPAR, AmiraRiau.com - Bencana kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Riau kian memburuk pada Rabu (7/10/2026). 

Selain memengaruhi udara di Kota Pekanbaru, kondisi kabut asap yang sangat pekat ini juga melanda kawasan Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, hingga memicu gangguan kesehatan pada masyarakat setempat.

Meskipun kualitas udara berada dalam kondisi darurat akibat kabut asap, aktivitas belajar mengajar di beberapa sekolah rupanya masih berjalan seperti biasa. Di SD Negeri 028 Rimbo Panjang, misalnya, para siswa dan guru tetap masuk sekolah dengan penyesuaian berupa pembatasan aktivitas fisik di luar ruangan sehingga anak-anak lebih banyak berdiam di dalam kelas.

Kepala SD Negeri 028 Rimbo Panjang, Nuraini, mengatakan pihaknya tidak bisa serta-merta meliburkan para siswa karena masih menunggu arahan resmi dari dinas terkait. Ia menegaskan pihak sekolah tidak memiliki wewenang untuk menetapkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sistem daring tanpa adanya instruksi langsung dari atasan.

"Sampai saat ini belum ada intruksi dari atasan pelaksanaan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Kami tidak bisa buat kebijakan sendiri," kata Nuraini.

Menurut Nuraini, tingkat kepekatan kabut asap di wilayahnya dalam dua hari terakhir ini sudah berada pada taraf yang sangat mengkhawatirkan. Ia menilai bahwa dengan kondisi udara yang semakin memburuk, sistem PJJ semestinya sudah mulai diberlakukan secepatnya demi mencegah anak-anak maupun tenaga pendidik terpapar langsung.

"Jangankan anak-anak, kita pun guru sudah terasa napas sesak, tenggorokan pedih, hidung tersumbat dan mata terasa kabur rasanya," kata Nuraini.

Dampak buruk dari paparan kabut asap pekat ini terbukti telah memunculkan berbagai keluhan fisik yang sangat mengganggu aktivitas di sekolah. Nuraini mengungkapkan bahwa bukan hanya anak-anak, para guru pun mulai merasakan berbagai gejala seperti napas yang terasa sesak, tenggorokan pedih, hidung tersumbat, hingga pandangan mata yang mulai mengabur.

"Guru kita ada 4 orang yang kena asma. Jadi pulang sekolah pasang nebulizer di rumah," ucap Nuraini.

Kondisi terparah bahkan dialami oleh empat orang guru di sekolah tersebut yang secara mendadak terserang penyakit asma akibat terus-menerus menghirup udara beracun. Akibatnya, keempat tenaga pendidik tersebut terpaksa harus menggunakan alat bantu pernapasan berupa nebulizer setibanya di rumah setelah jam mengajar usai.

Merespons kekhawatiran yang kian meningkat, pihak sekolah pada akhirnya memberikan kebijakan yang fleksibel bagi orang tua murid yang enggan mengambil risiko. Pihak sekolah mengizinkan siswa-siswi yang meminta izin untuk belajar dari rumah, sehingga mereka tidak memaksakan kehadiran murid di tengah ancaman kabut asap.

Ironisnya, bencana udara yang mengganggu aktivitas dan kesehatan warga ini bukanlah berasal dari pembakaran lahan di wilayah Riau itu sendiri. Berdasarkan data dari BPBD Riau, asap pekat ini merupakan kabut asap kiriman dari insiden Karhutla di provinsi lain, mengingat saat ini sama sekali tidak ditemukan titik api di dalam wilayah Provinsi Riau.***

Editor: Alseptri Ady

Sumber: MCR