Oleh: Hasrul Sani Siregar, MA
AKANKAH terwujud aliansi militer Suriah dan Amerika Serikat pasca kejatuhan Bashar al-Assad?. Bashar al-Assad sendiri telah berkuasa selama lebih kurang 24 tahun sejak tahun 2000. Dengan jatuhnya rezim Bashar al-Assad, tentunya mempengaruhi konstelasi politik yang tidak hanya di dalam negeri Suriah sendiri, juga dampaknya terhadap negara-negara yang selama ini mendukung Bashar al-Assad khususnya Iran dan Rusia. Setelah Amerika Serikat beberapa waktu yang lalu menghapus kelompok Hayat Tahrir al-Sham yang berafiliasi dengan Al-Qaeda sebagai kelompok teroris dan nama Ahmed al-Sharaa Presiden Suriah dikeluarkan dari kelompok teroris tersebut, maka hubungan antara Suriah dan Amerika Serikat akan mencair kembali dan membuka lembaran baru yang mana selama pemerintahan Bashar al-Assad, Amerika Serikat dan Israel menjadi musuh Suriah.
Kunjungan Ahmed al-Sharaa ke Amerika Serikat dan berjumpa Presiden Donald Trump merupakan kunjungan pertama kali presiden Suriah sejak merdeka pada 79 tahun yang lalu. Salah satu pembicaraan antara kedua presiden yaitu membuka pangkalan militer Amerika Serikat di Suriah dan menjadi aliansi internasional pimpinan Amerika Serikat melawan kelompok ISIS dan imbalannya Suriah akan mendapat bantuan dari Amerika Serikat untuk membangun kembali suriah setelah 13 tahun perang saudara yang menghancurkan negara tersebut. Jika aliansi militer antara Suriah dan Amerika Serikat terwujud, maka Amerika Serikat akan dapat menguasai wilayah Suriah yang masih bersengketa dengan Israel dan sebagai penyeimbang kekuatan militer Iran dan Rusia yang selama ini berpengaruh di Suriah dimasa Presiden Bashar al-Assad berkuasa.
Runtuhnya rezim Bashar al-Assad akibat perang saudara naiknya kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS berdampak terhadap melemahnya kekuatan Rusia dan Iran di negara tersebut. Selama ini, pengaruh Rusia dan Iran sangat besar mendukung rezim Bashar al-Assad dari upaya pemberontakan yang ingin menjatuhkan kekuasaannya. Rusia sejak jatuhnya rezim Bashar al-Assad mengurangi pengaruhnya di negara tersebut. Beberapa pelaratan militer sudah di tarik dari Suriah. Sejak masih berdirinya negara Uni Sovyet yang kemudian digantikan dengan negara Rusia pimpinan Vladimir Putin, Uni Sovyet telah mendukung pemerintahan Suriah di bawah pemerintahan Hafez al-Assad, ayahnya Bashar al-Assad. Hubungan antara Suriah dan Uni Soviet ketika dimulai pada masa perang dingin (1947–1991). Suriah menjadi sekutu terdekat yang menentang kekuatan barat yaitu Amerika Serkat dan sekutunya Eropa. Walaupun Uni Sovyet sudah bubar pada 25 Desember tahun 1991, yang kemudian digantikan oleh Rusia, hubungan Suriah dan Rusia semakin dekat dan menjadi mitra strategis Suriah.
Pada 2011, Rusia mulai terlibat secara langsung dalam perang saudara di Suriah yang melibatkan kelompok militan yang menentang pemerintahan Bashar al-Assad. Rusia sendiri mendukung pemerintahan Bashar al-Assad. Rusia mengirimkan ekspedisi militer secara besar besaran termasuk pasukan tempur, untuk membantu militer Suriah. Rusia juga menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) untuk menghindari kemungkinan sanksi atau intervensi militer terhadap Suriah. Dukungan yang sangat kuat diberikan Rusia kepada Bashar al-Assad dengan memberikan suaka politik dan perlindungan setelah jatuhnya Damaskus ketangan kelompok militan pimpinan Abu Mohammed Al Julani.
Hubungan kedua negara semakin kuat yang mana Rusia tetap menjadikan Suriah sebagai mitranya di kawasan Timur Tengah sebagai upaya penyeimbang dalam berhadapan dengan Amerika Serikat yang juga menjalin kerjasama dengan negara-negara di Timur Tengah. Rusia dan Iran menjalin kerjasama militer dengan Suriah yang juga sebagai upaya berhadapan dengan Amerika Serikat dan sekutunya. Oleh sebab itu, Rusia dan Iran merupakan mitra politik dan militer Suriah. Namun dengan jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada 8 Desember 2024, maka kekuatan kedua negara yaitu Rusia dan Iran semakin melemah. Dengan membangun aliansi militer antara Suriah dan Amerika Serikat tentu ini akan menjadi babak baru dalam hubungan Suriah dan Amerika Serikat yang selama ini saling bermusuhan. Selama ini Suriah yang menjadikan Rusia dan Iran sebagai mitra militernya akan beralih ke Amerika Serikat sebagai mitra militernya. Dan ini tentu akan mempengaruhi konstelasi politik dunia khususnya di Timur Tengah. ***
(Hasrul Sani Siregar, MA. Penulis; Alumni Hubungan Antarabangsa, IKMAS, UKM, Selangor Malaysia/Widyaiswara di BPSDM Provinsi Riau)