KAMPAR, AmiraRiau.com – Senja baru saja luruh di ufuk Desa Kemang Indah, Kecamatan Tambang, Kamis (12/2/2026). Namun, bagi ratusan warga yang berkumpul di sebuah sudut desa, malam itu bukan sekadar pergantian waktu. Ada hangat yang menjalar di dada saat lampu-lampu kristal mulai berpendar, memantul di dinding sebuah bangunan suci yang baru saja membuka pintunya: Masjid Annur Desi Rossa Yunita.
Masjid ini berdiri tegak bukan sekadar sebagai tumpukan batu bata dan semen. Di balik kubahnya yang megah, tersimpan sebuah narasi tentang cinta dan kerinduan. Nama "Desi Rossa Yunita" yang terpatri di gerbang masjid menjadi pengingat abadi akan sebuah dedikasi, sebuah kado kebaikan yang diwakafkan untuk masyarakat.
Waktu peresmian masjid ini tidak dipilih secara kebetulan. Di saat umat Islam mulai menghitung hari menuju fajar Ramadhan 1447 H, kehadiran Masjid Annur Desi Rossa Yunita hadir bak oase.
“Membangun masjid adalah membangun masa depan,” kata Kepala Desa Kemang Indah, Syaharuddin dalam sambutannya saat peresmian.

Bagi Kades Kemang Indah, masjid ini adalah jawaban atas doa-doa untuk tempat ibadah yang nyaman saat lantunan tadarus dan shalat tarawih bergema sebentar lagi, selain sebagai bentuk kasih mendalam terhadap sang puteri tercinta, Desi Rossa Yunita yang telah tutup usia genap 2 tahun 6 bulan lalu.
Syaharuddin dan istrinya menginginkan masjid ini dipergunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan warga.
Selain itu, membangun sebuah masjid sebagai amal jariyah atas nama putri tercinta, Desi Rossa Yunita, adalah bentuk cinta tertinggi dari orang tua kepada anaknya. Namanya kini tidak hanya terukir di gerbang masjid, tetapi juga akan terus disebut dalam setiap sujud dan doa jemaah yang beribadah di sana.
Semoga setiap butir debu, setiap ayat yang dibaca, dan setiap kening yang bersujud di Masjid Annur Dessi Rossa Yunita menjadi aliran pahala yang tidak terputus bagi almarhumah di alam baka.
Bagi Bapak Syaharuddin dan Ibu, semoga ketabahan ini membuahkan derajat yang tinggi di sisi-Nya, dan semoga kebaikan yang ditebar melalui masjid ini menjadi cahaya yang menerangi jalan keluarga dunia dan akhirat.

Suasana haru semakin kental saat rangkaian acara dimulai dengan Shalat Maghrib berjemaah. Suara imam yang syahdu memenuhi setiap sudut ruangan, menyatukan hati warga dalam satu shaf yang rapat. Keheningan ibadah kemudian mencair dalam tawa dan kehangatan saat warga duduk melingkar untuk makan bersama, sebuah tradisi makan bajamba yang mempererat silaturahmi.
Puncak malam itu adalah kehadiran Ustadz Bombom. Begitu ia menaiki podium, suasana yang tadinya tenang berubah menjadi penuh semangat. Ustadz yang dikenal enerjik ini paham betul cara menyentuh sanubari jemaah Kampar.
Tanpa jarak, ia memulai ceramahnya dengan perpaduan bahasa Indonesia dan Bahasa Ocu yang kental. Gelak tawa sesekali pecah saat ia melontarkan humor khas daerah, namun seketika suasana kembali hening saat ia mengingatkan tentang makna kematian dan jariyah.
“Masjid ko bukan sakadar tampek sujud, tapi tampek kito manjago hati,” ujarnya dalam dialek Ocu yang kental. Pesannya jelas: Masjid Annur Desi Rossa Yunita harus menjadi rumah bagi semua orang, tempat di mana perselisihan dipadamkan dan kebaikan disulut.
Hingga larut malam, warga seolah enggan beranjak. Masjid yang terang benderang itu kini telah resmi menjadi bagian dari detak jantung Desa Kemang Indah. Nama yang tersemat pada masjid itu kini bukan lagi sekadar nama pribadi, melainkan simbol cahaya (Annur) yang diharapkan terus menerangi jalan masyarakat menuju ketaatan.
Malam itu, di bawah langit Tambang yang tenang, Masjid Annur Desi Rossa Yunita berdiri sebagai saksi bahwa sesuatu yang dibangun dengan cinta, akan selalu menemukan jalannya untuk menyentuh banyak jiwa.
Ramadhan tahun ini, bagi warga Kemang Indah, pastilah terasa jauh lebih istimewa.*
Penulis: Andri