Desember Menutup Buku Anggaran Riau: Angka Rapi, Rakyat Tetap Menepi

A

administrator

Senin, 15 Desember 2025 | 00:00 WIB

Desember Menutup Buku Anggaran Riau: Angka Rapi, Rakyat Tetap Menepi

Oleh: Dr. H. Zulkarnain Kadir SH, MH

Sebentar lagi Pemerintah Provinsi Riau menutup buku anggaran pada akhir Desember 2025. Meja rapat rapi, laporan mengkilap, grafik serapan tampak menggembirakan. Tapi di luar gedung, rakyat masih bertanya: uang itu ke mana dan untuk siapa?

Kegiatan Jalan, atau Sekadar Jalan di Laporan?

Setiap akhir tahun, pola lama selalu terulang. Kegiatan dipadatkan di bulan-bulan terakhir, proyek kejar tayang, papan nama berdiri ,manfaat entah menyusul atau tidak.
Di laporan: persentase tinggi.
Di lapangan: hasil sering setengah hati.

Serapan bukan prestasi jika kualitas dikorbankan.

Anggaran Habis, Tapi Masalah Tetap Utuh

Serapan anggaran dibanggakan, seolah-olah uang habis adalah bukti kerja. Padahal:

Jalan rusak masih menunggu tambal sulam

Sekolah dan layanan publik jalan di tempat

Belanja rutin gemuk, belanja rakyat kurus

Uang bergerak, kehidupan rakyat stagnan.

Utang Dibayar, atau Dipindahkan Diam-Diam?

Ini bagian yang jarang dibuka terang.

Utang kepada pihak ketiga, tunggakan belanja, kewajiban lama apakah benar sudah dibereskan?

Jika belum:

APBD tahun depan sudah terbebani sejak awal

Program baru cuma ganti sampul

Defisit bukan ancaman, tapi keniscayaan

Utang yang dipoles jadi “penyesuaian anggaran” adalah akrobat fiskal.

SILPA: Sisa Bijak atau Bukti Gagal Merencanakan?

SILPA hampir pasti ada. Tapi di Riau, SILPA sering terasa ironis.

Rakyat butuh, daerah punya uang—tapi tak tersentuh.

Saat kebutuhan mendesak justru tak dibiayai, SILPA berubah dari kehati-hatian menjadi pengakuan diam-diam: perencanaan kita payah.


Defisit di Depan Mata

Pendapatan tak stabil, belanja rutin naik, ketergantungan ke pusat tak berkurang. Jika tak ada koreksi arah, APBD Riau ke depan bukan lagi alat pembangunan, tapi alat menambal lubang lama.

Menutup buku anggaran bukan soal merapikan angka, tapi membuka kejujuran.
Rakyat tak butuh grafik. Rakyat butuh bukti.

Jika setiap akhir tahun yang ditutup hanya buku anggaran, tapi buku masalah tetap terbuka, maka yang gagal bukan sistem semata keberanian politik juga ikut absen.

Karena pada akhirnya,
APBD bukan soal habis atau sisa, tapi berpihak atau tidak.. Menutup Buku Anggaran Riau: Antara Serapan, Utang, SILPA, dan Ancaman Defisit
Momen ini  Pertanyaannya sederhana, tapi dampaknya besar bagi rakyat:

1. Berapa persen kegiatan benar-benar terlaksana?

Secara dokumen, serapan kegiatan biasanya terlihat “aman”. Namun realitas di lapangan sering berbeda:

Banyak kegiatan baru dipadatkan di akhir tahun

Proyek fisik kejar tayang

Program strategis tidak berdampak langsung ke publik

Serapan tinggi tidak otomatis berarti kegiatan berkualitas.

Yang perlu ditanya: apa yang selesai, apa yang hanya selesai di laporan?

2. Berapa persen anggaran benar-benar digunakan?

Secara historis, Riau sering berada di kisaran 85–95% serapan anggaran. Tapi angka ini sering menipu:

Anggaran terserap, manfaat tidak terasa

Belanja rutin dominan, belanja publik minim

Inovasi rendah, uang habis untuk birokrasi

Pertanyaannya bukan “habis atau tidak”, tapi untuk siapa uang itu bekerja?

3. Utang daerah: sudah lunas atau ditunda lagi?

Ini isu paling sensitif:

Utang pihak ketiga (kontraktor)

Tunggakan belanja tahun berjalan

Beban yang digeser ke APBD tahun berikutnya


Jika utang dibayar penuh, itu kabar baik.

Jika ditunda, maka:

Tahun depan APBD sudah pincang sejak lahir

Ruang fiskal makin sempit

Program baru hanya janji politik

Utang yang disembunyikan adalah bom waktu fiskal.


4. Masih ada kah SILPA?

SILPA (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) hampir selalu ada. Tapi maknanya ganda:

Bisa berarti kehati-hatian

Bisa juga tanda perencanaan gagal


Ironinya:

Rakyat butuh jalan, sekolah, layanan

Uang justru “menganggur” di kas daerah

SILPA besar di tengah kebutuhan publik adalah ironi pembangunan.


5. Masih ada kah defisit ke depan?

Jawabannya: sangat mungkin, bahkan cenderung mengancam. Penyebabnya:

Pendapatan daerah tidak stabil

Ketergantungan tinggi pada pusat

Beban belanja pegawai dan rutin terus naik

Warisan utang dan kewajiban lama

Jika pola ini tak berubah: APBD Riau ke depan bukan lagi alat pembangunan, tapi alat bertahan hidup.

Menutup buku anggaran bukan soal angka, tapi soal kejujuran politik dan keberanian membuka data ke publik.

Riau butuh:

Audit yang transparan

Laporan yang bisa dipahami rakyat

Kepala daerah yang berani berkata apa adanya, bukan sekadar “serapan baik”

Karena bagi rakyat: APBD bukan milik pemerintah, tapi titipan penderitaan dan harapan.*

(Dr. H. Zulkarnain Kadir SH, MH. Penulis: Penggiat Anti Korupsi, Pemerhati Lingkungan Hidup, Mantan Birokrat Senior Riau)