Kisah Inspiratif
Oleh: Suwarna Nazir
Usia 39 tahun seharusnya adalah usia ketika seorang perempuan mulai menikmati hasil dari perjuangan panjangnya, anak-anak yang mulai besar, rumah tangga yang mulai mapan, dan kehidupan yang mulai berjalan lebih tenang dari tahun-tahun sebelumnya. Namun bagi Suwarna Nazir, usia 39 tahun adalah usia ketika tanah di bawah kakinya tiba-tiba amblas, dan ia harus belajar berdiri kembali.
Sendirian, dengan empat anak yang menggantungkan seluruh dunia mereka kepadanya.
Suaminya dirawat di Rumah Sakit Lancang Kuning karena sakit jantung. Delapan minggu, waktu yang cukup panjang untuk berdoa, untuk berharap, untuk meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dan ketika dokter akhirnya mengizinkan sang suami pulang, Suwarna
"Ketika tanah amblas di usia termuda, seorang ibu belajar
bahwa kekuatan sesungguhnya lahir dari cinta kepada
anak-anaknya."
Dua hari setelah pulang, jantung itu tidak kuat lagi. Dibawa kembali ke rumah sakit dan kali ini, suaminya tidak kembali.
Suwarna berdiri di ambang pintu kehidupan yang baru dengan empat anak di sisinya, yang pertama baru kelas 1 SMA, yang kedua kelas 2 SMP, yang ketiga kelas 3 SD, dan yang bungsu baru kelas 1 SD.
Anak-anak yang masih sangat
kecil, masih sangat butuh, masih sangat belum mengerti betapa beratnya beban yang kini harus ditanggung oleh satu pasang bahu ibunya.
Suwarna menangis,ya, tentu saja ia menangis. Namun ia tidak berlama-lama di sana. Karena empat pasang mata itu
memandangnya, dan di dalam pandangan mereka ada
pertanyaan yang tidak terucap namun sangat nyata: Ibu, kita
akan baik-baik saja, bukan?
Suwarna memutuskan untuk menjawab pertanyaan itu
bukan dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan.
Ia adalah seorang guru PNS, sebuah status yang di satu
sisi memberikan kestabilan, namun di sisi lain berarti penghasilan yang tidak akan pernah berlebih untuk
membiayai empat anak yang semuanya masih butuh sekolah,
butuh makan, butuh tumbuh.
Matematika hidupnya tidak
pernah mudah dijumlahkan. Namun Suwarna tidak pernah
belajar untuk menyerah bahkan sejak jauh sebelum ujian
terberat ini datang.
"Ibu yang pernah melewati kesempitan tahu satu hal
bahwa ia bisa melewatinya, demi empat pasang mata yang
menunggu."
Ia ingat masa SD-nya yang tidak mudah, orang tua yang sakit parah, keadaan yang serba terbatas, namun ada cita-cita yang tidak mau padam: ingin menjadi guru.
Cita-cita itu ia kejar dengan tekad yang tidak kenal kata menyerah,
melewati semua kesulitan satu per satu, hingga akhirnya ia
berhasil menyelesaikan pendidikan guru dan menjadi apa yang selama ini ia impikan.
Maka ketika kesulitan datang lagi di usia 39 tahun, Suwarna tahu bahwa ia pernah melewati kesempitan sebelumnya dan ia bisa melakukannya lagi.
Hari-hari berlalu dengan ritme yang tidak pernah ringan. Pagi mengajar, sore mendampingi anak belajar, malam memikirkan kebutuhan esok hari.
Tidak ada yang membantu, tidak ada tangan lain yang meringankan. Namun di setiap malam yang terasa terlalu panjang, di setiap subuh
yang terasa terlalu berat untuk disambut, Suwarna kembali
kepada satu-satunya sandaran yang tidak pernah goyah hanya kepada Allah.
Dan Allah tidak pernah mengecewakan hambanya
yang bersungguh-sungguh.
Satu per satu, anak-anaknya tumbuh, mereka menapaki tangga pendidikan yang tidak pernah mudah namun selalu berhasil dilewati. Dan kemudian, hasil dari doa-doa tengah malam itu mulai terlihat satu per satu dengan cara yang membuat Suwarna harus duduk sejenak dan menangis syukur yang tidak bisa ia tahan.
"Allah tidak pernah mengecewakan hamba yang
bersungguh-sungguh — dari doa tengah malam lahirlah anak-anak yang membanggakan."
Keempat anaknya, tiga perempuan dan satu laki-laki.
Semua berhasil meraih gelar sarjana.
Tidak cukup sampai di
sana, salah satunya bahkan menyelesaikan program S3 dan
kini menjadi dosen di sebuah universitas di Pekanbaru.
Dari seorang ibu guru PNS yang ditinggal suami dengan empat
anak kecil dan gaji yang pas-pasan, lahirlah seorang doktor
yang mengajar di perguruan tinggi.
Siapa yang berani mengatakan bahwa doa seorang ibu tidak memiliki kekuatan yang nyata? Keberkahan itu terus mengalir ke generasi berikutnya. Cucu-cucunya tumbuh cerdas dan berprestasi bahkan sudah ada yang menyelesaikan kuliah dan menjadi PNS.
Suwarna yang dulu berdiri gemetar di depan pintu rumah sakit dengan empat anak kecil di sisinya, kini duduk dengan tenang menyaksikan pohon yang ia tanam dengan air mata dan keringat itu berbuah lebat, meneduhi generasi demi generasi.
Kini hari-harinya diisi dengan kegiatan yang bermakna,
aktif di Persatuan Purna Bakti, hadir di majelis-majelis taklim,
bergaul dengan orang-orang baik yang seakidah dan senantiasa mengingatkannya kepada Allah. Bagi Suwarna, kesehatan bukan hanya soal fisik, ia tentang siapa yang kita duduki bersama, tentang apa yang mengisi pikiran dan hati kita setiap hari.
Kepada keempat anaknya, ia hanya menitipkan satu doa yang ia ulang setiap malam,
"Bersatulah, saling tolong menolong, jadilah anak-anak yang sholeh dan sholehah, dan setelah aku tiada — doakanlah aku."
Suwarna Nazir mengajarkan kita bahwa single parent bukan berarti lemah, ia berarti dua kali lebih kuat, karena tidak ada pilihan lain selain kuat.
Bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam keterbatasan namun dengan penuh cinta dan doa, akan tumbuh menjadi manusia yang jauh
melampaui keterbatasan itu.
Dan bahwa Allah, bagi mereka yang benar-benar berserah,tidak pernah tidur, dan tidak pernah lupa.
"Single parent bukan berarti lemah, ia lebih kuat karena
cinta dan doa tidak pernah mengenal keterbatasan."
Suwarna Nazir, Penulis: Mantan Guru TK Pertiwi Tanjung Pinang dan Guru TK Adhyaksa Pekanbaru