Oleh: Buya Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.
HIDUP kerap diibaratkan sebagai perjalanan. Kita bergerak dari harapan menuju kenyataan, dari potensi menuju pembuktian. Dalam perjalanan itu, manusia membutuhkan dua bekal utama: ilmu dan iman. Keduanya bukan sekadar atribut religius atau akademik, melainkan fondasi peradaban dan kualitas kemanusiaan.
Ilmu adalah cahaya bagi akal. Ia membuka tabir ketidaktahuan, mengajarkan metode, dan menuntun manusia bekerja secara efektif. Dengan ilmu, langkah menjadi terukur, keputusan lebih rasional, dan tujuan lebih cepat didekati. Al-Qur’an sejak awal menegaskan kemuliaan ilmu. Wahyu pertama bukan perintah ritual, melainkan perintah intelektual:"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(Q.S. Al-‘Alaq: 1).
Ayat ini mengandung pesan revolusioner: peradaban dimulai dari literasi dan pengetahuan. Ilmu mempercepat proses karena ia menghindarkan manusia dari kesalahan berulang. Tanpa ilmu, semangat bisa kehilangan arah teknis; kerja keras menjadi mahal, hasil tak selalu optimal.
Namun, kecepatan saja tidak menjamin kebenaran arah. Di sinilah iman memainkan peran mendasar. Iman adalah cahaya bagi hati. Ia menuntun orientasi, memberi makna, dan menjaga tujuan tetap berada dalam koridor nilai. Al-Qur’an menggambarkan iman sebagai sumber ketenteraman eksistensial:"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(Q.S. Ar-Ra‘d: 28).
Iman menjawab pertanyaan yang tak terjangkau kalkulasi semata: untuk apa semua pencapaian ini? Ke mana hidup diarahkan? Tanpa iman, keberhasilan lahiriah berisiko melahirkan kehampaan batiniah. Banyak orang mencapai puncak, tetapi kehilangan makna.
Ilmu membuat kita mampu melangkah cepat, iman memastikan kita tidak tersesat.
Dalam perspektif Islam, ilmu dan iman bukan dua kutub yang saling menegasikan. Sejarah peradaban Islam justru menunjukkan harmoni keduanya. Era keemasan intelektual Muslim melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan Al-Ghazali, mereka adalah figur yang menggabungkan kecemerlangan rasio dengan kedalaman spiritual. Tradisi keilmuan berkembang bukan karena dorongan duniawi semata, tetapi karena keyakinan bahwa mencari ilmu adalah bagian dari ibadah.
Rasulullah menegaskan nilai tersebut dalam hadits yang sangat populer:"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (H.R. Ibnu Majah).
Hadits ini menempatkan ilmu sebagai kebutuhan universal, bukan hak istimewa kelompok tertentu. Ilmu adalah instrumen kemajuan, sedangkan iman adalah penjaga orientasi kemajuan itu.
Al-Qur’an bahkan mengaitkan derajat manusia dengan ilmu:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (Q.S. Al-Mujadilah: 11).
Menariknya, ayat ini tidak memisahkan iman dan ilmu. Ketinggian derajat lahir dari pertemuan keduanya. Ilmu tanpa iman berisiko melahirkan kecerdasan tanpa kebijaksanaan. Iman tanpa ilmu berisiko melahirkan semangat tanpa efektivitas.
Secara filosofis, ilmu bekerja pada ranah "how", yaitu bagaimana sesuatu dicapai. Iman bekerja pada ranah "why", yaitu mengapa sesuatu layak dikejar. Ilmu menguatkan daya pikir, iman meneguhkan daya nilai. Ilmu mendorong produktivitas, iman menjaga integritas. Ilmu mengelola kemungkinan, iman menata tujuan.
Iman juga berfungsi sebagai kompas moral. Ia menuntun manusia di persimpangan pilihan, menjaga ambisi tetap manusiawi, dan menenangkan jiwa di tengah ketidakpastian. Dalam hadits lain, Rasulullah SAW mengingatkan dimensi batin ini:"Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh jasad; jika ia rusak, rusaklah seluruh jasad. Itulah hati.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Hati yang terarah oleh iman menjadikan ilmu tidak liar, tetapi berorientasi kebaikan. Sebaliknya, ilmu menjadikan iman tidak pasif, tetapi produktif dan solutif.
Dalam kehidupan sosial modern, pesan ini semakin relevan. Dunia menuntut kecepatan, efisiensi, dan inovasi, hal itu sebagai wilayah ilmu. Namun, dunia juga menghadapi krisis makna, etika, dan ketenangan, hal itu menjadi wilayah iman. Kemajuan material tanpa arah nilai sering melahirkan kegelisahan kolektif. Karena itu, keseimbangan menjadi kebutuhan peradaban, bukan sekadar pilihan personal.
Pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan keberhasilan, tetapi juga ketepatan makna. Tidak sekadar cepat sampai, tetapi sampai ke tujuan yang benar. Di situlah ilmu dan iman bertemu: satu mempercepat perjalanan, satu menentukan arah.
Sebab hidup yang utuh bukan hanya tentang pencapaian, tetapi juga tentang kebermaknaan.
(Buya Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Ketua Pimpinan Daerah Persatuan Islam (PERSIS) Kota Pekanbaru).