Kampus dan Rapuhnya Emosi, di Balik Tikaman Teman Dekat

A

administrator

Jumat, 27 Februari 2026 | 00:00 WIB

Kampus dan Rapuhnya Emosi, di Balik Tikaman Teman Dekat

Oleh: Mardianto Manan (Praktisi Cikgu)

PERISTIWA pembacokan yang menyeret nama mahasiswa di UIN Suska Riau benar-benar membuat kita tersentak. Kampus yang kita bayangkan sebagai ruang ilmu, ruang akhlak, ruang diskusi yang teduh — tiba-tiba berubah menjadi ruang kekerasan. Tragisnya lagi, korbannya adalah teman dekat sendiri.

Sebagai orang tua, sebagai dosen, hati kita tentu bertanya: apa yang sedang terjadi dengan anak-anak muda kita?

Kampus dan Rapuhnya Emosi
Kampus itu bukan sekadar tempat kuliah. Ia adalah tempat menempa nalar dan adab. Apalagi kampus berbasis keagamaan. Harusnya nilai sabar, tawakal, menahan amarah, itu menjadi fondasi.

Dalam agama kita jelas diajarkan: orang kuat itu bukan yang menang bergulat, tapi yang mampu menahan amarah. Dalam adat Melayu Riau pun ada ungkapan, “biar mati anak, jangan mati adat” — bukan makna literal, tapi pesan bahwa nilai dan adab itu jauh lebih tinggi dari sekadar emosi sesaat.

Tapi hari ini, mengapa begitu mudah tangan terangkat? Mengapa sebilah senjata tajam bisa menjadi jawaban atas persoalan hati?

Generasi yang Tidak Pernah Diuji
Saya ingin jujur sedikit, mungkin ini tidak populer.
Metode pendidikan kita hari ini terlalu lunak dalam arti yang salah.
Anak tidak boleh dapat nilai merah.
Tidak boleh tinggal kelas.
Tidak boleh dimarahi.
Tidak boleh ditegur keras.

Lucunya lagi saat ini sudah mulai dapat rangking alias nilai terbaik di kelas tak boleh diumumkan, takut si bodo alias nilainya rendah malu. Bukankah ini justru merawat kebodohan?  Dan menetak cabang kepintaran?  Aneh... makan diberi tapi otak dikosongkan, sekali diserang bukan senyata pertahanan dicari dengan otak yang cerdik, tapi makan dimana nanti jika perang terjadi, sehingga rapuh serapuh rapuhnya.

Guru atau dosen harus super sabar. Bahkan kadang terbalik — murid yang membentak guru, mahasiswa yang menekan dosen lewat opini dan media sosial.

Kita takut pada “trauma akademik”. Tapi tanpa sadar kita menciptakan generasi yang tidak pernah ditempa, rapuh dan mudah luluh berantakan.

Dulu?
Kalau nakal, dimarahi.
Kalau tak beradab, ditegur keras.
Kalau tak belajar, ya tinggal kelas.

Sekolah dulu itu bukan sekadar madrasah ilmu. Ia madrasah karakter. Ada derita, ada malu, ada tanggung jawab. Dari situlah lahir mental tahan banting. Mana berani mengadu sama omak dan bapak, ketika tangan bintal bintal bekas dipukul dengan sebilah rol, karena justru kita sebagai anak yang melapor kenak gandal oleh bapak sendiri.
Alam Nyata Tidak Selembut Sekolah

Masalahnya begini.
Ketika di sekolah semua dilindungi, semua diluluskan, semua “dimaklumi”, maka anak tumbuh tanpa daya tahan. Begitu masuk alam nyata:
Dimarahi atasan → marah balik.
Ditolak cintanya → depresi.
Putus hubungan → kalut.
Gagal lomba → merasa dunia runtuh.
Karena sebelumnya tidak pernah diajarkan menerima kegagalan.

Padahal hidup ini memang begitu. Ada sukses, ada gagal. Ada cinta, ada putus. Ada diterima, ada ditolak. Kalau sedikit gesekan saja langsung meledak, itu tanda ada yang rapuh di dalam.

Pergaulan dan Ledakan Emosi
Anak muda hari ini hidup di ruang digital yang serba cepat. Emosi dipancing, drama dipertontonkan, kekerasan divisualkan. Semua instan. Semua reaktif.

Ditambah kurangnya kedalaman agama — bukan dalam arti simbol, tapi dalam arti penghayatan. Shalat mungkin ada. Tapi sabar? Belum tentu. Ngaji mungkin rutin. Tapi menahan amarah? Itu latihan berat.

Adat Melayu Riau selalu mengajarkan:
“Kalau berjalan lihat ke bawah, kalau berkata lihat ke atas.”
Artinya rendah hati dan tahu batas.
Hari ini, batas itu mulai kabur.
Apakah Ini Akan Jadi Tren Kampus?

Inilah yang saya khawatirkan. Kalau kampus tidak lagi menjadi ruang pembentukan adab, maka ia hanya akan jadi ruang transfer ijazah.

Kita bisa mencetak sarjana, tapi gagal mencetak manusia.
Kalau dibiarkan, kekerasan bisa menjadi pola penyelesaian masalah. Dari konflik asmara, konflik organisasi, sampai konflik akademik. Ini berbahaya.

Apa yang Harus Dilakukan?
Menurut saya ada beberapa hal yang perlu kita renungkan bersama:
Kembalikan disiplin yang mendidik, bukan menghukum, tapi juga bukan memanjakan.
Ajarkan kegagalan sebagai proses, bukan aib.
Perkuat pendidikan emosi dan karakter, bukan sekadar IPK.
Hidupkan nilai agama secara substantif, bukan simbolik.
Bangun kembali budaya malu dalam adat Melayu, malu berbuat kasar, malu melukai orang.
Karena sejatinya, orang berilmu tapi tak beradab, lebih berbahaya dari orang tak berilmu.
Peristiwa ini bukan sekadar kasus kriminal. Ini alarm sosial. Alarm pendidikan. Alarm keluarga.

Sebagai dosen yang masih percaya bahwa kampus adalah taman peradaban, saya hanya ingin bertanya pelan:
Apakah kita sedang terlalu sibuk melindungi anak dari rasa sakit, sampai lupa mengajarkan mereka cara menghadapi rasa sakit?

Kalau emosi lebih cepat dari akal, dan amarah lebih kuat dari iman, maka yang runtuh bukan hanya satu hubungan. Tapi runtuh juga wajah pendidikan kita.

Semoga ini menjadi peringatan, bukan awal dari kebiasaan, semoga wak!***

23/02/2026: Melati Indah, Delima BinaWidya