JAKARTA, AmiraRiau.com - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengungkapkan penyebab tingginya jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) sepanjang 2025 tembus 88.519 orang dibanding 2024 di angka 77.965 orang karena tensi geopolitik sehingga tekanan pada ekspor dan impor di sektor manufaktur.
Berdasarkan data PHK yang dirilis Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) untuk periode Januari-Desember 2025, jumlah korban PHK pada 2025 tembus 88.519 orang dibanding 2024 di angka 77.965 orang. Artinya ada peningkatan jumlah PHK sebanyak 10.554 orang.
Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PHI Jamsos) Kemnaker Indah Anggoro Putri mengatakan tingginya angka PHK 2025 terjadi lantaran tensi geopolitik pada awal 2025 hingga akhir semester I-2025 cukup tinggi sehingga berpengaruh terhadap industri di Tanah Air.
“Pertama kan ada tekanan juga dari ekspor impor ya. Itu pasti kondisi dunia di 2025 awal terutama sampai semester pertama kan masih ada dinamika cukup tinggi geopolitik. Ada perang dan sebagainya pasti itu pengaruh ke ekspor,” kata Indah, Rabu (21/1/2026).
Indah menyebut sektor manufaktur memberikan kontribusi cukup tinggi dibanding sektor lainnya dalam PHK 2025.
“Masih kayak manufaktur [sektor tertinggi PHK],” ujarnya.
Adapun sebanyak 88.519 orang PHK tersebut merupakan pegawai yang terklasifikasi sebagai peserta program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) BPJS Ketenagakerjaan.
PHK pada 2025 juga lebih tinggi dibandingkan PHK tahun 2023 yang sebanyak 64.855 orang. Bahkan, PHK tahun lalu melonjak drastis dibanding tahun 2022 yang sebanyak 25.114 orang.
Lalu, PHK periode Januari-Desember 2025 naik dibanding PHK periode Januari-November 2025 yang sebanyak 79.302 orang. Artinya ada peningkatan PHK sebanyak 9.217 orang dalam periode satu bulan.***