Ketika Ibadah Menjadi Pertunjukan: Bahaya Riya di Era Media Sosial

A

administrator

Jumat, 21 November 2025 | 00:00 WIB

Ketika Ibadah Menjadi Pertunjukan: Bahaya Riya di Era Media Sosial

Oleh: Asep Ajidin*

DI ERA ketika segala sesuatu dapat dibagikan dalam hitungan detik, manusia modern hidup dalam tekanan untuk selalu terlihat. Kehidupan bukan lagi sekadar dijalani, tetapi juga ditampilkan. Dalam suasana seperti ini, riya merupakan penyakit hati yang sudah dikenal sejak masa klasik Islam, saat ini menemukan bentuk barunya yang jauh lebih halus namun lebih berbahaya. Jika dulu riya dipahami sebagai keinginan untuk dipuji melalui ibadah atau amal, kini ia menjelma dalam bentuk flexing, budaya pamer kehidupan, termasuk pamer spiritualitas.

Islam mengajarkan bahwa amal saleh adalah urusan vertikal antara hamba dan Tuhannya. Ketulusan adalah inti dari setiap ibadah. Tanpa keikhlasan, ibadah menjadi kering, tak bernilai, dan tidak menambah kedekatan kepada Allah. Nabi Muhammad SAW bahkan menyebut riya sebagai “syirik kecil”, karena ia menggeser orientasi ibadah dari Allah menuju manusia. Dalam konteks media sosial, orientasi itu kini bergeser menuju likes, views, dan engagement. Amal menjadi konten, ibadah menjadi pertunjukan, dan spiritualitas bergeser menjadi estetika.

Fenomena flexing religius ini makin mudah terjadi karena manusia selalu ingin dihargai dan diapresiasi. Dalam psikologi, keinginan ini disebut kebutuhan pengakuan. Namun ketika pengakuan itu menjadi motivasi utama, keaslian diri pun terkikis. Orang menjadi lebih sibuk mengurus citra daripada membangun jati diri. Padahal, Al-Qur’an menegaskan: "Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya..." (QS. Al-Bayyinah: 5). Riya merusak kemurnian itu, menjadikannya kabur seperti kaca yang buram.

Budaya show off yang tampak wajar di media sosial menciptakan ilusi bahwa setiap kebaikan harus diumumkan. Foto sedang sujud, video saat sedekah, atau unggahan ketika berdoa di tempat suci menjadi konsumsi publik. Sementara itu, sebagian ulama bijak menasihati bahwa amal terbaik adalah yang paling rahasia. Rasulullah SAW menggambarkan sedekah yang mulia sebagai sedekah yang tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan tangan kanan. Artinya, amal itu begitu tersembunyi sampai tidak sempat berubah menjadi pamer.

Bahaya riya bukan hanya spiritual, tetapi juga sosial. Pertama, ia menimbulkan tekanan psikologis bagi masyarakat luas yang merasa harus ikut menampilkan hal serupa agar dianggap “baik”. Kedua, ia menciptakan standar palsu kehidupan religius: seolah-olah kesalehan itu bisa diukur dari jumlah unggahan. Ketiga, ia menumbuhkan iri dan dengki yang dapat merusak persaudaraan. Keempat, ia menurunkan kualitas ibadah itu sendiri karena hal itu menjadikannya aktivitas performatif, bukan spiritual.

Secara moral dan filosofis, riya adalah bentuk krisis keaslian diri. Manusia kehilangan pusat batinnya karena terlalu sibuk mengurus pusat perhatian orang lain. Kierkegaard pernah berkata bahwa manusia modern sering hidup dalam “keputusasaan diam-diam” karena tidak menemukan dirinya sendiri. Dalam perspektif sufistik, riya adalah hijab antara manusia dan Tuhannya. Semakin banyak ia ingin dilihat manusia, semakin kabur pandangan batinnya terhadap Allah.

Namun tentu tidak semua unggahan tentang ibadah adalah riya. Ada kalanya seseorang berbagi untuk menginspirasi. Ada pula dakwah yang dilakukan melalui media digital. Yang menjadi ukuran adalah niat. Tetapi di sinilah letak tantangan terbesar zaman ini: niat adalah urusan batin, sementara media sosial adalah ruang publik. Ketika yang batin bertemu yang publik, godaan riya menjadi sangat kuat. Karena itu para ulama menekankan pentingnya muhasabah, yaitu mengoreksi hati sebelum dan setelah beramal.

Karena itu, di tengah budaya pamer yang kian meluas, renungan agar kita kembali kepada prinsip dasar: ibadah adalah jalan menuju keheningan, bukan panggung pertunjukan. Amal untuk dilihat langit, bukan untuk di-like manusia. Jika satu amal kecil dilakukan dengan ikhlas, nilainya lebih besar daripada seribu amal yang dilakukan untuk dipuji. Keikhlasan adalah cahaya hati yang tidak bisa difoto, tidak bisa direkam, dan tidak bisa diunggah, tetapi dapat dirasakan oleh jiwa.

Pada akhirnya, dunia boleh bising, tetapi hati tetap bisa memilih diam. Dunia boleh memanggil untuk pamer, tetapi jiwa dapat memilih sembunyi. Di balik kesunyian itulah Tuhan menilai. Dan dalam keheningan itulah sejatinya ibadah menemukan maknanya.***

(Asep Ajidin. Penulis; Dai, Akademisi dan Pemerhati Kebijakan Publik dan Pendidikan Karakter)