Lari di Atas Tual Sagu Kembali Digelar, Tradisi Unik Meranti Didorong Jadi Potensi Budaya

F

Farhan Hasibuan

Sabtu, 26 September 2026 | 14:52 WIB

Lari di Atas Tual Sagu Kembali Digelar, Tradisi Unik Meranti Didorong Jadi Potensi Budaya
Bupati Kepulauan Meranti H. Asmar bersama sejumlah pihak saat Festival Lari di Atas Tual Sagu dan Lomba Masak Berbahan Dasar Sagu 2026 di Desa Banglas.

MERANTI, AmiraRiau.com - Tradisi “belompat di atas tual sagu” kembali dihidupkan masyarakat Kepulauan Meranti melalui Festival Lari di Atas Tual Sagu dan Lomba Masak Berbahan Dasar Sagu 2026 di Kampung Suak, Desa Banglas, Sabtu (27/9/2026).
⠀
Festival yang dibuka Bupati Kepulauan Meranti AKBP (Purn.) H. Asmar itu tidak hanya menghadirkan perlombaan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenalkan kembali tradisi dan kekayaan sagu sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Meranti.
⠀
Asmar mengatakan tradisi tersebut memiliki nilai budaya yang perlu dipertahankan karena menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir yang tumbuh berdampingan dengan alam.
⠀
“Tradisi seperti inilah yang harus kita jaga. Jangan sampai anak cucu kita kelak hanya mengenal budaya daerah dari buku atau cerita, tetapi tidak pernah melihat, merasakan, dan mempraktikkannya secara langsung,” ujar Asmar.
⠀
Menurutnya, sagu tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga berkaitan erat dengan sejarah, budaya dan kehidupan masyarakat Kepulauan Meranti.
⠀
Karena itu, pemerintah daerah mendorong kekayaan budaya lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikembangkan menjadi salah satu kekuatan daerah.
⠀
“Mari kita jadikan kegiatan ini bukan hanya sebagai perlombaan, tetapi sebagai momentum untuk memperkuat kebersamaan dan memperkenalkan Kepulauan Meranti sebagai daerah yang memiliki kekayaan budaya yang unik, hidup, dan bernilai,” katanya.
⠀
Asmar juga mengingatkan peserta untuk menjunjung sportivitas, keselamatan dan kebersamaan selama perlombaan.
⠀
“Menang dan kalah adalah bagian dari perlombaan, tetapi menjaga persaudaraan adalah kemenangan yang sesungguhnya,” tegasnya.
⠀
Usai membuka festival, Asmar bersama Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kepulauan Meranti Hj. Ismiatun Asmar meninjau stan lomba masak berbahan dasar sagu. Ia mengapresiasi kreativitas peserta dalam mengolah sagu menjadi beragam makanan.
⠀
Sementara itu, Kepala Desa Banglas Abdul Zaid mengatakan festival tersebut mengangkat tradisi lintas generasi dan publik. Menurutnya, Desa Banglas merupakan salah satu kawasan penghasil sagu yang memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat setempat.
⠀
Ia berharap festival dapat digelar secara berkelanjutan dan mendorong desa-desa lain di Meranti memperkenalkan potensi budaya masing-masing.
⠀
“Festival ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi agenda pelestarian budaya sekaligus promosi potensi daerah secara berkelanjutan,” ujar Zaid.
⠀
Zaid juga menyoroti besarnya potensi ekonomi sagu bagi masyarakat Desa Banglas. Menurutnya, sejak dahulu sagu telah menjadi bagian dari kehidupan sekaligus sumber penghidupan masyarakat.
⠀
“Dulu sagu ini mungkin kurang mendapat perhatian, tetapi sekarang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Bahkan, masyarakat yang sudah lanjut usia masih bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dari hasil kebun sagu,” ungkapnya.
⠀
Ia mengajak masyarakat menjaga dan mengembangkan perkebunan sagu sebagai aset ekonomi jangka panjang sekaligus mempertahankan warisan yang telah diwariskan secara turun-temurun.
⠀
Festival tersebut mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, Pemerintah Desa Banglas, sejumlah kecamatan, Forkopimda serta pemerintah pusat melalui koordinasi dengan Kementerian Pariwisata RI.

Editor: Tim redaksi