Mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di India, Maju Calon Rektor Unri

A

Alseptri Ady

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:10 WIB

Mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di India, Maju Calon Rektor Unri

PEKANBARU, AmiraRiau.com - Mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di India, yang juga dosen Perbanas Institute Jakarta, Aldrin Herwany, Ph.D., mencalonkan diri sebagai Rektor Universitas Riau (Unri) Periode 2026-2030. Lulusan Manajemen Fekon Unri tahun 1995, itu telah mendaftar bersama tujuh calon rektor lainnya. 

Aldrin menamatkan S2 di Manajemen Keuangan Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung tahun 2004 dan setahun setelah itu menjadi dosen tetap di sana. Tahun 2013, pria kelahiran Tanjung Karang, 16 Juni 1969, ini berhasil meraih gelar Ph.D di Administrasi Bisnis (Keuangan), International Islamic University Malaysia (IIUM) Malaysia.

Maju sebagai calon rektor bukan hal baru bagi pria yang bersekolah di YKPP Pertamina, Dumai itu. Tahun 2019, Aldrin lolos sebagai Finalis Tiga Besar Calon Rektor Unpad. Sayang, karena berbagai sebab, ketiganya gagal menjadi Rektor Unpad. 

Sebagai ekonom senior dan pemimpin transformatif, Aldrin memiliki rekam jejak yang mumpuni untuk maju sebagai calon Rektor Unri. Dia memiliki kapabilitas strategis dalam mengelola institusi pendidikan tinggi berstandar global. 

Aldrin sukses membangun ekosistem riset produktif melalui inisiasi West Java Economic Society (WJES) serta memimpin lebih dari 100 MoU internasional, yang dibuktikan dengan pencapaian Outstanding Research berturut-turut di Amerika Serikat dan Kosta Rika.

Keahlian mendalamnya dalam integrasi Artificial Intelligence (AI) dan pengalaman sebagai juri nasional TOP GRC serta TOP BUMD memberikan perspektif unik dalam menyelaraskan tata kelola universitas dengan kebutuhan industri masa depan.

Aldrin membawa visi besar untuk mentransformasi Universitas Riau melalui kepemimpinan tanpa sekat (Zero-Ring System), menghapuskan kelompok-kelompok eksklusif demi menciptakan kekompakan kolektif dan transparansi radikal. 

Dengan otoritas akademik sebagai reviewer hibah LPDP dan reputasi sebagai public intellectual, alumni Unri ini berkomitmen penuh menjadikan Unri sebagai mercusuar
peradaban dunia di bidang energi dan lahan basah yang mandiri secara finansial.

Sahabat Aldrin yang bermastautin di Jakarta, Willy Boy menilai berdasarkan pengalaman dan rekam jejaknya, Aldrin sangat layak dan kompeten serta punya kapasitas dan kapabilitas untuk memimpin Unri. 

''Kalau Unri mau maju dan berkelas dunia, Aldrin lah yang tepat untuk menjadi Rektor Unri,'' kata Boy teman seangkatan Aldrin di Unri, Rabu (13/5/2026) 

Berikut Visi dan Misi Aldrin Herwany, Ph.D

VISI: UNRI 2030  "MERCUSUAR PERADABAN LAHAN BASAH & ENERGI DUNIA"

"Mentransformasi Unri sebagai pusat
gravitasi ekonomi sektor riil dan inovasi digital yang berakar pada kearifan lokal untuk kemandirian bangsa dan rekognisi global."

MISI STRATEGIS:  "AKSELERASI BERBASIS AMANAH"

1. Transformasi Tata Kelola (Zero-Asymmetry Information): Mewujudkan birokrasi yang bersih dan efisien melalui sistem UNRI Amanah Ledger berbasis digital untuk menghilangkan hambatan administratif dan memulihkan kepercayaan sivitas akademika. 

2. Governance Transformation (Zero-Asymmetry Information): Mewujudkan birokrasi yang bersih dan efisien melalui sistem UNRI Amanah Ledger berbasis digital untuk menghilangkan hambatan administratif dan memulihkan kepercayaan sivitas akademika. 

3. Kemandirian Ekonomi & Hilirisasi (Syirkah VC): Menggerakkan potensi lokal Riau (Sawit, Migas, Gambut) melalui kemitraan strategis dengan BUMD dan industri, serta pembentukan unit modal ventura internal (Syirkah VC) sebagai sumber pendapatan non-UKT. 

4. Infrastruktur & Riset Berstandar Dunia: Menyediakan minimal satu laboratorium bersertifikasi internasional di setiap fakultas agar periset UNRI mampu menghasilkan inovasi kaliber dunia di rumah sendiri. 

5. Pendidikan Masa Depan (Generasi Singularity): Mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam kurikulum dan membuka program studi spesialisasi baru yang menjawab tantangan transisi energi dan krisis ekologi lahan basah. ***

Editor: Alseptri Ady