Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.
DI tengah hiruk-pikuk ruang publik hari ini, pernikahan kian sering dipahami secara sederhana—bahkan dangkal. Nikah direduksi menjadi proyek kebahagiaan personal. Ukurannya pragmatis: selama bahagia, pernikahan dianggap berhasil; ketika bahagia memudar, nikah dicap gagal. Cara pandang ini menjadikan rumah tangga bukan lagi ruang ibadah, melainkan arena pemenuhan emosi.
Pergeseran ini tidak sekadar soal istilah, tetapi menyentuh akar makna. Nikah yang semula sakral perlahan berubah menjadi kontrak perasaan. Padahal, dalam pandangan Islam, pernikahan sejak awal tidak dibangun untuk menjamin kebahagiaan, melainkan untuk menegakkan ketaatan. Bahagia bisa hadir, tetapi ia bukan fondasi; ia adalah bonus.
Al-Qur’an menyebut pernikahan sebagai mitsaqan ghalizha—perjanjian yang kokoh dan berat. Istilah ini menegaskan bahwa nikah bukan kesepakatan biasa, apalagi sekadar ikatan romantis. Ia adalah komitmen spiritual yang bertaut langsung dengan iman dan tanggung jawab di hadapan Allah.
Karena itu, keberhasilan pernikahan dalam Islam tidak diukur dari stabilitas rasa, melainkan dari keteguhan nilai. Perasaan bisa naik-turun, cinta bisa diuji, tetapi iman dituntut untuk tetap tegak.
Al-Qur’an bahkan menghadirkan kisah yang secara halus meruntuhkan romantisme berlebihan dalam pernikahan. Isteri Nabi Nuh dan isteri Nabi Luth hidup bersama para nabi—figur suami yang saleh, lurus, dan dekat dengan wahyu. Namun kedekatan biologis dan sosial itu tidak menjamin keselamatan iman. Keduanya tetap ingkar kepada Allah.
Sebaliknya, Asiyah, isteri Fir’aun, hidup dalam rumah tangga yang secara moral dan spiritual rusak. Suaminya tiran, kafir, bahkan mengklaim diri sebagai tuhan. Namun di tengah tekanan dan penderitaan, Asiyah memilih iman. Ia memihak Allah meski harus kehilangan kenyamanan duniawi. Dan justru karena itulah namanya dimuliakan.
Bahagia yang Mudah Retak
Dari sudut pandang psikologi, kebahagiaan adalah kondisi emosional yang rapuh dan fluktuatif. Ia dipengaruhi ekonomi, komunikasi, tekanan sosial, trauma masa lalu, bahkan kondisi fisik dan hormonal. Menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan utama pernikahan sama artinya dengan menggantungkan bangunan rumah tangga pada fondasi yang mudah berubah.
Berbeda dengan ibadah. Ibadah tidak bergantung pada suasana hati. Ia tetap bernilai meski dilakukan dalam lelah, sempit, dan penuh ujian. Dalam ibadah, sabar dicatat sebagai pahala, bertahan bernilai ketakwaan, dan pengorbanan tidak pernah sia-sia.
Ketika nikah dipahami sebagai ibadah, konflik tidak serta-merta dipandang sebagai kegagalan. Ia dibaca sebagai ujian—bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk mendewasakan iman.
Tekanan Sosial dan Ilusi Rumah Tangga Ideal
Secara sosiologis, pasangan hari ini hidup di bawah tekanan representasi. Media sosial membangun ilusi rumah tangga ideal: selalu harmonis, romantis, mapan, dan bebas konflik. Realitas yang tidak sesuai standar ini kerap dianggap kegagalan, padahal sering kali hanya perbedaan antara kehidupan nyata dan panggung digital.
Akibatnya, pasangan dibebani ekspektasi berlebihan. Suami atau isteri tidak lagi diposisikan sebagai teman ibadah, melainkan dituntut menjadi sumber kebahagiaan absolut. Ketika tuntutan itu tak terpenuhi, kekecewaan menjelma konflik, dan konflik berujung perpisahan.
Islam justru menawarkan fondasi yang lebih jujur dan manusiawi: kesabaran, tanggung jawab, dan komitmen spiritual.
Rumah Tangga Madrasah Jiwa
Dalam Islam, rumah tangga adalah madrasah paling nyata. Di sanalah ego diuji, emosi dilatih, dan akhlak dipertaruhkan. Tidak semua hari dalam pernikahan terasa manis—sebagaimana tidak semua ibadah terasa ringan. Namun justru di situlah nilai ibadah bekerja.
Rasulullah SAW menjalani kehidupan rumah tangga yang sepenuhnya manusiawi. Ada perbedaan pendapat, ada kecemburuan, ada kesedihan. Tetapi semua itu disikapi dalam bingkai iman, bukan tuntutan kebahagiaan tanpa cela.
Maka pertanyaan terpenting dalam pernikahan bukanlah, “Apakah aku selalu bahagia?”
Melainkan, “Apakah aku tetap taat dalam keadaan apa pun?”
Menata Ulang Arah Nikah
Bahagia dalam pernikahan adalah anugerah, dan Islam tidak menolaknya. Namun menjadikan bahagia sebagai tujuan utama justru melemahkan ketahanan rumah tangga. Ketika bahagia memudar, komitmen ikut goyah. Ketika cinta diuji, iman dipertaruhkan.
Isteri Nabi Nuh gagal bukan karena suaminya kurang saleh, tetapi karena ia tidak memilih iman. Asiyah dimuliakan bukan karena rumah tangganya ideal, tetapi karena ia memilih Allah di atas segalanya.
Pada akhirnya, nikah bukan tentang menjamin kebahagiaan duniawi, melainkan tentang menjaga ketaatan di tengah dinamika kehidupan. Sebab pernikahan sejatinya bukan soal siapa yang selalu membuat kita bahagia, tetapi siapa yang bersama kita tetap taat—dalam lapang maupun sempit.***
(Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Dai, Akademisi dan Pemerhati Kebijakan Publik dan Pemerhati Pendidikan Karakter).