JAKARTA, AmiraRiau.com - Banjir bandang dan tanah longsor di tiga provinsi Sumatra Aceh, Sumut dan Sumbar membuat 22 desa hilang. Wilayah yang paling banyak kehilangan desa adalah Provinsi Aceh
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan hal itu dalam Konferensi Pers Pemulihan dan Rencana Strategis Pascabencana Jelang Akhir Tahun di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (29/12/2025). Sejumlah menteri bergantian menyampaikan paparannya.
Tito mengawali penjelasannya soal pengiriman 1.054 pelajar Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) ke wilayah bencana mulai 3 Januari 2026. Mereka akan bekerja di daerah paling terdampak, yakni Aceh Tamiang dan Aceh Utara, untuk menangani dokumen kependudukan.
"Kenapa kami mengatakan berat? Karena memang data kami menunjukkan ada desa yang hilang itu totalnya 22. Di Aceh ada 13 hilang, rusak. Di Sumatra Utara ada 8, di Sumatra Barat ada 1," ujar Tito, tanpa menjelaskan maksud 'hilang' tersebut.
Menurut mantan Kapolri itu ada 1.580 unit kantor desa yang terdampak. Rinciannya 1.455 di Aceh, 93 berada di Sumut, dan 32 di Sumbar.
"Paling banyak kantor desa yang rusak itu adalah di Aceh Utara (sebanyak) 800-an, dan Aceh Tamiang," Tito menjelaskan.
Para pelajar IPDN tersebut dikirim untuk menghidupkan kembali kantor pemerintahan di daerah, termasuk di desa. Mereka bakal membantu tugas administrasi pemerintahan.
"Semacam kuliah kerja nyata. Jadi ini mereka berhadapan langsung dengan permasalahan sambil membantu masyarakat," kata Tito.
Tito menjelaskan bahwa situasi bencana ini mengubah kondisi pemerintahan, ada desa dan infrastruktur pendukungnya yang hilang.***