ASAHAN, AmiraRiau.com – Efektivitas pengelolaan aset di Kebun Sei Kopas PTPN IV PalmCo tengah menjadi sorotan tajam. Berdasarkan temuan di lapangan, sejumlah aset produksi berupa berondolan kelapa sawit ditemukan berserakan dan dibiarkan tanpa penanganan maksimal, yang berpotensi memicu kerugian finansial bagi perusahaan negara tersebut.
Pantauan di areal Afdeling VI dan VII Kebun Sei Kopas menunjukkan pemandangan yang kontras dengan semangat transformasi BUMN. Selain berondolan yang tidak dikutip, kondisi tanaman sawit di beberapa blok tampak kurang terawat, memicu kekhawatiran akan penurunan produktivitas jangka panjang.
Kondisi ini memancing reaksi keras dari Sekjen Mahasiswa Pengawas Perkebunan Negara (MPPN). Ia menilai pembiaran hasil produksi merupakan bentuk lemahnya pengawasan dan pengendalian operasional di tingkat unit.
"Jika berondolan dan tanaman sawit tidak dikelola dengan baik, maka yang dirugikan bukan hanya perusahaan, tetapi juga negara dan kesejahteraan para pekerja. Ini bertentangan dengan semangat efisiensi yang selama ini digaungkan PalmCo," tegas Sekjen MPPN.
Menanggapi temuan tersebut, perwakilan manajemen Kebun Sei Kopas, Merino, memberikan penjelasan teknis terkait kondisi di lapangan. Ia mengakui adanya kekurangan dalam kutipan berondolan dan berjanji akan segera melakukan pembenahan.
"Terkait perawatan (pruning) memang belum masuk rotasi, Bang. Namun, untuk berondolan yang terbuang, akan segera kami perbaiki," ujar Merino saat dikonfirmasi, Selasa (3/2/2026).
Sebagai bagian dari holding perkebunan negara, PTPN IV PalmCo dituntut menerapkan Good Corporate Governance (GCG) secara konsisten. Publik dan pemerhati perkebunan kini mendesak manajemen regional hingga level holding untuk melakukan evaluasi serius terhadap sistem kepemimpinan di Kebun Sei Kopas.
Pembiaran aset produksi dianggap sebagai kegagalan dalam menjalankan fungsi perencanaan dan pengawasan, yang jika terus berlanjut, akan menggerus kontribusi optimal perusahaan bagi devisa negara.***
Penulis: Heru