Pangean: Antara Tungku Omak, Riak Kuantan, dan Kenangan di Balik Gulai Ciput

A

administrator

Jumat, 20 Februari 2026 | 00:00 WIB

Pangean: Antara Tungku Omak, Riak Kuantan, dan Kenangan di Balik Gulai Ciput

Oleh: Mardianto Manan

KALAU ada yang bertanya apa aroma surga di dunia, bagi saya jawabannya sederhana: aroma dapur Omak di hari pertama puasa. Bayangkan saja, sejak matahari masih tegak di waktu Luhur, saat orang lain mungkin masih memejamkan mata menghalau kantuk puasa, Omak sudah "berdinas" di depan tungku. Beliau seolah punya kontrak sakral dengan kuali dan sudipnya. Dari luhur ke ashar, sampai senja menjemput, beliau tak beranjak. Mengaduk rindu, menumis kasih sayang.

​Buka puasa pertama di Pangean ini bukan sekadar urusan perut, tapi urusan rasa yang sudah lama haus akan jati diri. Duduk bersila di lantai itu, tersajilah mahakarya Omak yang tak ada tandingannya di restoran bintang lima manapun di perantauan. Ada punju ikan pantau, gulai pucuak ubi lakang rumah plus sambal lado geseng balimau, pucuk jambu monyet dan rimbang palak rumah omak, goreng pantau yang warnanya secerah matahari pagi di tepian sungai. Ikannya segar, bumbunya meresap sampai ke tulang, asam pedasnya pas—sebuah harmoni rasa yang membuat lidah menari.

​Tapi yang paling juara, yang membuat liur tertahan sejak tadi, tentu saja Gulai Ciput Cangkuak Sirobuang. Alamak! Menghisap ciput satu per satu sambil merasakan sensasi kuah santan yang kental dan gurih itu adalah seni tersendiri. Ada filosofi kesabaran di sana; kita harus perlahan, penuh penghayatan, persis seperti menjalani hidup. Cangkuak sirobuang itu memberikan aroma khas hutan dan ladang Pangean yang tak bisa dipalsukan. Inilah "booster" rindu yang paling ampuh.

​Sore tadi, suasana makin syahdu saat kami sekeluarga duduk di tepi Batang Kuantan. Sambil menatap aliran air yang tenang namun menghanyutkan, kami berbagi cerita. Dari kenangan masa kecil yang penuh tawa saat mandi telanjang di sungai, sampai perjuangan hidup di rantau orang saat ini. Di tepian sungai legendaris ini, semua sekat luruh. Kita bicara dari hati ke hati, dari masa lalu hingga hari ini, di bawah langit Kuantan Singingi yang ramah. ​Keramah-tamahan orang Pangean pun tetap sama. Sapaan "Makan kito babuko siko lu!" atau sekadar tegur sapa hangat saat berpapasan "aii bilo baliak" adalah bukti bahwa adat nan beradab masih tegak berdiri di tanah ulayat ini.

​Namun, di tengah keriuhan itu, ada sepotong rindu yang tetap tertuju ke satu arah. Selepas Ashar tadi, saya memboyong istri dan anak-anak ke tempat peristirahatan terakhir Bapak H. Abdul Manan. Juni 2013 memang sudah tigabelas tahun berselang, tapi rasanya baru kemarin beliau duduk bersama kami di lantai dapur rumah. Membaca ayat suci dan menebar bunga di pusara beliau bersama cucu-cucunya adalah cara kami "melapor" bahwa akar keluarga ini tak akan pernah putus. Mengajak cucu-cucu berziarah ke makam "Datuk" adalah cara kita mewariskan ingatan; bahwa mereka adalah anak cucu Pangean yang punya rumah untuk pulang.

​Kini, bedug hampir ditabuh. Harum gulai ciput sudah memenuhi ruangan. Ada rasa syukur yang membuncah. Pangean bukan sekadar titik koordinat di peta, tapi ia adalah pelabuhan terakhir bagi jiwa yang rindu akan ketulusan.
​Selamat berbuka puasa pertama di kampung halaman tercinta. Kayuah baganti kayuah, rindu terbayar, gulai ciput pun tandas! Alhamdulillah...***

(Mardianto Manan. Penulis; Anak Kampung Kenagorian Pangean Kuantan Singingi)