Piknik: Healing atau Escaping?

A

administrator

Senin, 05 Januari 2026 | 00:00 WIB

Piknik: Healing atau Escaping?

Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H

DALAM beberapa waktu terakhir, ruang publik nasional dihadapkan pada ironi yang menyentuh nurani. Di satu sisi, musim liburan tetap berjalan. Jalan menuju destinasi wisata ramai, unggahan foto bertebaran, dan istilah healing kembali menjadi mantra populer. Namun di sisi lain, daerah-daerah yang selama ini menjadi jantung pariwisata—Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh—sedang dilanda musibah: banjir, longsor, cuaca ekstrem, serta korban jiwa dan kerugian sosial yang tidak kecil.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan etis yang tak bisa dihindari: apakah piknik masih relevan ketika daerah tujuan sedang berduka? Apakah wisata tetap menjadi healing, atau justru berubah menjadi escaping—bahkan abai terhadap penderitaan sesama?

Pertanyaan ini tidak bermaksud mematikan sektor pariwisata, tetapi mengajak kita semua membaca ulang makna wisata dalam konteks kemanusiaan dan kesadaran sosial.

Tidak dapat disangkal, pariwisata adalah urat nadi ekonomi daerah. Di Sumbar, Sumut, dan Aceh, ribuan pelaku UMKM, pemandu wisata, pedagang kecil, dan pekerja informal menggantungkan hidup pada sektor ini. Ketika wisata lumpuh total, penderitaan justru bisa berlipat.

Namun pariwisata juga bukan sekadar soal perputaran uang. Ia adalah ruang perjumpaan manusia dengan manusia lain—dengan luka, harapan, dan martabat. Wisata yang tidak peka terhadap konteks musibah berpotensi berubah menjadi aktivitas yang kehilangan nilai etikanya.

Di sinilah keseimbangan dibutuhkan: wisata yang berempati, bukan wisata yang abai.

Dalam sejarah Islam dan peradaban nusantara, perjalanan tidak pernah dilepaskan dari dimensi moral. Rihlah bukan hanya soal berpindah tempat, tetapi juga menyerap hikmah. Musibah selalu dipahami sebagai pengingat kolektif, bukan sekadar peristiwa lokal.

Al-Qur’an mengingatkan manusia agar mengambil pelajaran dari peristiwa yang menimpa suatu kaum. “Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (QS. Al-Hasyr: 2). Ayat ini menegaskan bahwa perjalanan yang bermakna adalah yang melahirkan kesadaran, bukan sekadar hiburan.

Ketika kita berwisata ke daerah yang sedang diuji, pertanyaannya bukan hanya apa yang bisa kita nikmati, tetapi apa yang bisa kita pahami dan kontribusikan.

Secara sosiologis, musibah bukan hanya soal alam, tetapi juga tentang ketimpangan, tata kelola, dan daya tahan sosial. Banjir dan longsor yang berulang di berbagai wilayah Sumatra membuka fakta bahwa pariwisata tidak bisa dilepaskan dari isu lingkungan, tata ruang, dan keberlanjutan.

Wisata yang hanya mengejar estetika tanpa kepedulian ekologis justru memperpanjang siklus bencana. Di titik ini, wisata bukan lagi netral. Ia bisa menjadi bagian dari solusi, atau bagian dari masalah.

Dalam konteks ini, publik perlu menyadari bahwa healing individual tidak boleh mengorbankan luka kolektif. Piknik yang etis adalah piknik yang menghormati ruang duka masyarakat setempat.

Dari sisi psikologi, kebutuhan untuk beristirahat tetap sah. Manusia tetap membutuhkan jeda di tengah tekanan hidup. Namun ketika destinasi sedang berduka, healing tidak boleh berhenti pada pemulihan diri semata.

Psikologi empati mengajarkan bahwa kepekaan terhadap penderitaan orang lain justru memperdalam kesehatan mental. Wisata yang disertai empati—dengan sikap sederhana, santun, dan peduli—lebih menyehatkan jiwa dibanding wisata yang penuh euforia tetapi kosong makna.

Healing yang sejati bukan hanya tentang merasa lebih baik, tetapi menjadi lebih manusiawi.

Secara filosofis, musibah mengingatkan manusia pada keterbatasan. Alam yang selama ini menjadi objek wisata tiba-tiba menunjukkan wajah rapuhnya. Gunung, laut, dan hutan bukan sekadar latar foto, tetapi amanah yang menuntut tanggung jawab.

Dalam konteks ini, wisata seharusnya menjadi latihan kesadaran eksistensial. Pergi bukan untuk melupakan realitas, tetapi untuk memahami bahwa hidup selalu berdampingan dengan risiko, duka, dan tanggung jawab moral.

Wisata yang tetap berlangsung di tengah musibah harus berubah orientasi: dari konsumsi menjadi kontemplasi.

Dalam Islam, musibah adalah ujian kolektif. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa siapa yang tidak peduli pada urusan sesama Muslim, maka ia bukan bagian dari mereka. Prinsip ini relevan dalam konteks pariwisata hari ini.

Piknik tetap boleh, tetapi harus berada dalam koridor ihsan sosial:
menjaga adab di ruang publik,
tidak menormalisasi euforia di tengah duka,
dan, bila mampu, berkontribusi bagi pemulihan masyarakat setempat.

Wisata yang bernilai ibadah adalah wisata yang menumbuhkan syukur, empati, dan solidaritas.

Musibah di Sumbar, Sumut, dan Aceh seharusnya menjadi momentum evaluasi nasional tentang arah pariwisata kita. Apakah ia hanya mengejar angka kunjungan, atau juga membangun kesadaran ekologis dan kemanusiaan?

Wisata yang beradab bukan berarti berhenti bepergian, tetapi berjalan dengan hati yang hadir. Menghormati luka daerah, mendukung ekonomi lokal secara wajar, dan menjaga alam sebagai amanah bersama.

Pada akhirnya, piknik di tengah musibah menuntut kedewasaan moral. Healing yang sejati tidak lahir dari pelarian, tetapi dari keberanian untuk tetap peka. Wisata yang bermakna adalah ketika kita pulang bukan hanya dengan foto, tetapi dengan empati, kesadaran, dan tekad untuk menjadi manusia yang lebih bertanggung jawab.

Sebab di negeri yang sedang diuji, perjalanan paling penting bukan tentang ke mana kita pergi, tetapi bagaimana kita bersikap di sana.***

(Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Akademisi dan Pemerhati Kebijakan Publik, Pendidikan dan Lingkungan)