Oleh: H. Aswandi, S.E.
RAMADHAN memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial-ekonomi. Konsumsi meningkat, pasar menggeliat, dan perputaran uang bertambah cepat. Namun, dinamika ini menimbulkan pertanyaan penting: cukup kuatkah ketahanan pangan menopang stabilitas sosial?
Di Riau, isu pangan bukan sekadar ekonomi, tetapi menyentuh ketenangan masyarakat. Gejolak harga dan pasokan berdampak langsung pada daya beli, psikologi rumah tangga, hingga keberlangsungan usaha kecil. Pangan adalah fondasi sosial; stabilitasnya menghadirkan rasa aman, sementara ketidakstabilan memicu keresahan.
Ramadhan memperbesar sensitivitas tersebut. Kebutuhan naik, ekspektasi sosial menguat. Ketahanan pangan pun menjadi jaring pengaman sosial. Bagi pedagang kecil, UMKM, dan sektor informal, stabilitas harga bahan pokok menentukan biaya, omzet, dan keberlanjutan usaha. Karena itu, ketahanan pangan adalah urat nadi ekonomi rakyat.
Karakteristik Riau menghadirkan tantangan: distribusi geografis, ketergantungan pasokan tertentu, dan fluktuasi musiman. Ramadhan seringkali memperjelas persoalan ini. Namun, Ramadhan juga membawa nilai moderasi, kesederhanaan, dan empati yang relevan bagi perilaku ekonomi: konsumsi bijak, distribusi adil, dan pengawasan harga.
Ketahanan pangan bertumpu pada tiga pilar: ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas. Ketiganya menuntut kepercayaan yang dibangun melalui transparansi, koordinasi, dan konsistensi kebijakan. Dengan pasokan aman dan harga terkendali, kepanikan dan spekulasi dapat ditekan.
Lebih dari itu, stabilitas pangan memiliki dimensi moral. Praktik penimbunan dan manipulasi harga bertentangan dengan etika Ramadhan. Ekonomi yang sehat bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga keberkahan sosial.
Menjaga ketahanan pangan berarti menjaga stabilitas sosial dan harmoni pembangunan. Fondasi kesejahteraan dimulai dari yang paling dasar: pangan cukup, harga adil, sistem stabil. Masyarakat yang tenang adalah modal terbesar pembangunan, dan ketahanan pangan adalah penjaga utamanya.
(H. Aswandi, S.E. Penulis; Ketua Umum DPP Asosiasi Pelaksana Kontruksi Nasional (ASPEKNAS) dan Sekjen Gabungan Tenaga Ahli dan Terampil Kontruksi Indonesia/GATAKI).